- Sebanyak 135 siswa MTs Safinda Surabaya mengikuti edukasi mikroplastik dan menemukan 65 partikel dari sampel lingkungan sekolah.
- Pengamatan kulit tangan dan daun membuktikan mikroplastik telah tersebar di sekitar sekolah serta berpotensi terpapar kepada manusia.
- Fiber menjadi jenis mikroplastik terbanyak dengan 39 partikel, disusul 21 fragmen, dua film, dan satu granule.
- Kegiatan merupakan bagian Kampanye Offline PlasticEcoCycle Indonesia yang didukung Hyundai Motor Group melalui K-Green Foundation.
- Sekolah berharap pengetahuan yang diperoleh mendorong siswa mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari.
#Mikroplastik Terungkap di Lingkungan Sekolah
Sebanyak 135 siswa MTs Safinda Surabaya mengikuti kegiatan Microplastic Journey yang digelar Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Kegiatan dari upaya meningkatkan kesadaran terhadap pencemaran mikroplastik ini, bagian dari Kampanye Offline PlasticEcoCycle Indonesia yang dikembangkan oleh K-Green Foundation (KGF) dengan dukungan Hyundai Motor Group dan Community Chest of Korea.
Dalam kegiatan yang digelar pada Jumat (17/7/2026), para siswa tidak hanya menerima materi mengenai sumber, dampak, dan upaya pencegahan pencemaran mikroplastik. Mereka juga melakukan praktik identifikasi mikroplastik secara langsung menggunakan sampel dari lingkungan sekolah.
Peneliti ECOTON, Sofi Azilan Aini, mengatakan para peserta diajak mengamati sampel kulit tangan dan daun yang berada di sekitar lingkungan sekolah. Praktik ini memperlihatkan kepada siswa jika mikroplastik dapat ditemukan di sekitar aktivitas sehari-hari.
Hasil identifikasi pada sampel kulit tangan ditemukan 39 partikel fiber, 17 fragmen, satu partikel film, dan satu granule. Sementara itu, pada sampel daun ditemukan dua partikel film dan empat fragmen.
“Temuan ini menunjukkan jika mikroplastik telah tersebar di lingkungan sekitar sekolah. Itu bisa berpotensi terpapar kepada manusia (siswa) melalui aktivitas sehari-hari,” kata Sofi dalam rilis yang disampaikan
Masih kata Sofi, secara keseluruhan, siswa menemukan 65 partikel mikroplastik dari dua jenis sampel yang digunakan. Fiber menjadi jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan, diikuti fragmen, film, dan granule.
“Dominasi fiber mengindikasikan jika serat sintetis dari pakaian menjadi salah satu sumber utama mikroplastik di lingkungan. Serat ini dapat terlepas saat pakaian digunakan maupun dicuci, kemudian menyebar melalui udara dan akhirnya menempel pada berbagai permukaan, “ jelasnya.
Pada sampel kulit tangan, lanjut Sofi, ditemukan 39 partikel fiber, 17 fragmen, satu film, dan satu granule. Sementara pada sampel daun ditemukan dua partikel film dan empat fragmen.
“Temuan ini juga menunjukkan jika mikroplastik juga telah menyebar di lingkungan sekolah ini,” kata Sofi.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelKondisi ini menunjukkan betapa pentingnya untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah. Hal ini akan mencegah pelepasan mikroplastik dari berbagai aktivitas sehari-hari.
Dalam kegitan itu, selain praktik identifikasi, para siswa juga memperoleh penjelasan tentang jalur masuk mikroplastik ke tubuh manusia, mulai dari makanan, minuman, udara hingga kontak dengan lingkungan yang telah tercemar.

#Siswa Ubah Perilaku Kurangi Plastik Sekali Pakai
Semengtera itu, Kepala MTs Safinda Surabaya, Farida Aisyah Hanief, S.Sos., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan. Karena menurut dia, akan memberikan pengalaman belajar berbeda bagi para siswa.
Menurutnya, praktik langsung membuat peserta lebih mudah memahami. Karena kalau hanya menerima pelajaran pengahfalan,siswa tidak akan paham bagaimana cara melakukan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
“Kegiatan edukasi mikroplastik ini sangat bermanfaat ya. Karena kami melihat dengan menggunakn praktik langsung. Dan ini akan menambah pengetahuan buat kita, dan semoga anak-anak bisa mulai mengurangi plastik sekali pakai setelah mendapat pengetahuan dari kakak-kakak ECOTON,” ujarnya.
Antusiasme juga terlihat dari para peserta yang mengikuti praktik identifikasi. Salah satunya, Zahra Vianka Putri, siswi kelas VIII B MTs Safinda Surabaya, mengaku baru mengetahui bahwa mikroplastik dapat ditemukan pada permukaan kulit manusia.
“Saya senang banget dengan kegiatan hari ini. Saya tadi menemukan mikroplastik di kulit tangan kita, dan paling banyak yang ditemukan adalah fiber yang itu berasal dari baju,” kata Zahra.
Melalui kegiatan Microplastic Journey, ECOTON berharap edukasi berbasis praktik dapat meningkatkan pemahaman siswa mengenai pencemaran mikroplastik sekaligus mendorong perubahan perilaku dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Pendekatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal membangun kesadaran lingkungan sejak usia sekolah melalui pengalaman yang dapat diamati secara langsung.***