JOMBANG – Kalau biasanya mengenang pahlawan cuma lewat patung atau nama jalan, Jombang punya cara baru, museum KH Wahab Hasbullah. Bukan sekadar pajangan, tapi ruang hidup bagi pemikiran seorang ulama nasional. Ide ini lahir saat Silaturahim Nasional (Silatnas) Ikatan Alumni MAN Bahrul Ulum Tambakberas (Ikamantab) pada Sabtu (27/9/2025). Selain Sekolah Pemikiran KH Wahab, muncul gagasan: kenapa tidak mendirikan museum juga?
Nyai Hj. Chisbiyah Wahab MA, putri Kiai Wahab sekaligus Ketua Yayasan Unwaha, langsung menanggapi dengan semangat:
“Sejak lama kami sadar, pemikiran-pemikiran KH Wahab harus tetap hidup dan dijadikan referensi. Itu sebabnya, museum ini secepatnya direalisasikan.”
Museum ini nantinya tidak hanya memajang foto dan barang antik. Tujuannya lebih serius: memberi ruang bagi mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum untuk memahami sejarah, perjuangan, dan pemikiran Kiai Wahab. Bahkan, museum ini bakal menjadi “ruang klarifikasi dan koreksi sejarah Indonesia.” Kalau begini, museum bukan cuma destinasi edukasi, tapi semacam editor sejarah pribadi yang siap membetulkan miskonsepsi.
Prof. Dr. Nur Ali, Ketua Ikamantab, menambahkan bahwa kehadiran museum penting untuk memperkuat literasi tentang Kiai Wahab, termasuk 27 kaidah perjuangannya yang menekankan religiusitas, kebangsaan, dan cinta tanah air. Alumni dan peneliti bisa lebih mudah mengkaji pemikiran beliau—dari Tashwirul Afkar di Surabaya pada 1914 hingga peran strategisnya dalam Nahdlatul Ulama.
#Dari Makam ke Museum: Menghidupkan Sejarah
Silatnas Ikamantab sendiri bukan sekadar rapat alumni. Ada reuni per angkatan, tumpukan nostalgia, dan tentu saja ziarah ke makam Kiai Wahab yang letaknya cuma selangkah dari lokasi acara. Dari reuni sampai ziarah, para alumni seolah menelusuri jejak sejarah sambil tertawa mengingat masa lalu. Kalau ini bukan cara sosial menghidupkan sejarah, apa lagi?
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelDukungan datang pula dari anggota DPR RI Komisi IX, Zainul Munasikhin, alumni MAN Bahrul Ulum angkatan 1995. Menurutnya, museum ini bakal menambah semangat civitas akademika dan masyarakat pesantren dalam memahami ketokohan Kiai Wahab:
“Beliau menunjukkan bahwa menjaga keutuhan negara adalah bagian dari ibadah dan amanah keagamaan. Semangat ini penting diwariskan kepada generasi muda.”
KH Abdul Wahab Hasbullah (1888–1971) adalah tokoh yang sulit dilewatkan. Motor kebangkitan pemikiran Islam di Indonesia, pendiri Tashwirul Afkar, dan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Ia berhasil memadukan agama dengan nasionalisme, serta meninggalkan 27 kaidah perjuangan yang masih relevan hingga kini. Pengakuan negara datang lewat gelar Pahlawan Nasional pada 2014, menegaskan perannya dalam perjuangan kemerdekaan, pembangunan bangsa, dan penguatan nilai keislaman serta kebangsaan.
Museum ini bakal jadi saksi hidup bagaimana sejarah dan ideologi seorang ulama bisa menyentuh kehidupan modern. Dari makam ke museum, dari pesantren ke kampus, Kiai Wahab kembali hadir—tidak hanya di buku pelajaran, tapi di ruang belajar yang bisa disentuh, dilihat, dan dipelajari generasi muda.
Singkatnya, kalau selama ini sejarah Kiai Wahab cuma diingat saat peringatan atau ziarah, sekarang ada versi “hidupnya”: museum yang tidak hanya memajang masa lalu, tapi juga mengajak kita merenungkan nilai-nilai keagamaan, nasionalisme, dan cinta tanah air. Museum ini bukan sekadar tempat foto Instagramable, tapi panggilan untuk generasi muda agar memahami bahwa perjuangan seorang ulama tidak berhenti di makam, tapi terus mengalir di kampus dan masyarakat.***