Gagasan bisnis hijau mahasiswa Surabaya Raya bertemu dalam GENKBZ, menghadirkan solusi lingkungan berbasis teknologi dan sosial dari ruang akademik ke praktik nyata.
Ajang GENKBZ (Greenpreneur Bank KB) berlangsung di Surabaya, Kamis–Jumat, 22–23 Januari 2026. Program ini diinisiasi Bank KB bersama Semut Nusantara sebagai ruang inkubasi bagi mahasiswa dan pemuda yang mengembangkan ide bisnis ramah lingkungan dengan orientasi dampak sosial.

Hampir 200 peserta tercatat mendaftar dalam program ini. Melalui proses kurasi, 20 peserta terpilih mengikuti rangkaian bootcamp intensif. Dalam bootcamp, peserta mendapatkan pembekalan tentang pengelolaan bisnis, perumusan model usaha, hingga teknik mempresentasikan produk dan unit bisnis secara terstruktur.
Dari tahapan itu, kembali terseleksi 10 finalis terbaik yang mempresentasikan inovasi mereka di babak final GENKBZ.
Para finalis berasal dari sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur, di antaranya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Surabaya (UBAYA), Universitas Muhammadiyah Gresik, Universitas Sunan Gresik, serta Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
#Dari Inkubasi hingga Kompetisi Bisnis Hijau
Sepuluh finalis GENKBZ menghadirkan inovasi dengan ragam isu lingkungan. Beberapa di antaranya menyasar pengelolaan sampah rumah tangga, limbah tekstil, pertanian berkelanjutan, energi terbarukan, hingga kualitas udara di ruang tertutup.
Inovasi tersebut antara lain DAUROMA, pengolahan limbah organik menjadi parfum; AITHER, solusi udara sehat berbasis air purifier; CAPUNGLAM, platform digital pengelolaan sampah terpilah skala rumah tangga; ARUPONIC, sistem akuaponik soilless berbasis Internet of Things (IoT); serta TERANGIN, lampu berbasis turbin kincir angin untuk petani.
Babak final GENKBZ menghadirkan dewan juri dari kalangan praktisi bisnis dan kewirausahaan hijau, yakni Benny Setiawan Santosa, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Surabaya; Branch Head PT Bank KB Indonesia Tbk Cabang Surabaya Panglima Sudirman; serta Syukriyatun Niamah, Founder dan CEO Robries.
Berdasarkan penilaian dewan juri, Juara 1 diraih Nicole Olivia Tranggono (Universitas Surabaya) melalui DAUROMA. Juara 2 ditempati Farel (ITS) dengan AITHER, sedangkan Juara 3 diraih Cahyo Ilham Firmansyah Subagio (Universitas Brawijaya) dengan CAPUNGLAM.
Meski demikian, GENKBZ tidak hanya menempatkan kompetisi sebagai tujuan akhir, melainkan juga sebagai ruang belajar dan pertukaran gagasan antargenerasi muda.

#Upaya Mengurangi Sampah Sachet
Di luar jajaran pemenang, perhatian juga tertuju pada Jofanny Ahmad Arianto, mahasiswa Universitas Sunan Gresik, dengan inovasi REFILIN, yang selama menjadi solusi pengurangan sampah sachet yang telah dijalankan secara nyata di berbagai wilayah.
Refilin – yang sudah dikenal sebagai Refill Loop Indonesia, merupakan inisiatif sosial (social business) yang dikembangkan oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), tempat Jofan -panggilannya -, mengembangkan ide.
Program ini telah lama mendorong sistem isi ulang (refill) dan guna ulang produk kebutuhan sehari-hari seperti sabun, sampo, deterjen, dan produk rumah tangga lainnya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel“Sampah sachet itu kecil, tetapi jumlahnya sangat besar dan sulit didaur ulang. Refilin hadir untuk mengurangi sampah dari sumbernya, yaitu pola konsumsi,” ujar Jofanny Ahmad Arianto, yang selama ini terlibat mengkampanyekan anti plastic sekali pakai.
Menurut Jofanny, Refilin hadir sebagai solusi konsumsi tanpa kemasan plastik sachet yang selama ini menjadi salah satu penyumbang pencemaran sungai dan tempat pembuangan sampah. Melalui pendekatan refill, masyarakat diajak membawa wadah guna ulang sendiri untuk mengisi ulang kebutuhan harian.
“Ketika masyarakat membawa wadah sendiri dan mengisi ulang, ada perubahan perilaku yang terjadi. Konsumsi tidak lagi selalu identik dengan sampah,” kata Jofanny.
Refilin tidak sekadar menjadi tempat jual beli produk isi ulang, tetapi juga berfungsi sebagai platform edukasi dan perubahan perilaku sosial.
Program yang sudah dijalankan melalui toko dan edible refill, roadshow serta kios pop-up di ruang publik seperti Car Free Day dan Hari Refill Sedunia, hingga program edukasi ke sekolah-sekolah tentang bahaya plastik sekali pakai, yaitu Reduce, Reduce, Reduce, baru Reuse, dan kemudian Recycle. Yang selama ini menjadi prinsip Refilin.
“Selama ini orang mengenal 3R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle. Di Refilin, urutannya kami ubah. Bukan 3R. Yang utama justru Reduce, Reduce, Reduce. Setelah itu baru Reuse, dan terakhir Recycle,” ujar Jofan.
Selain itu, Refilin berkolaborasi dengan bank sampah dan komunitas lokal untuk memperluas kampanye gaya hidup minim plastik. Sebagai social business, Refilin berfokus pada dampak sosial dan lingkungan, mulai dari pengurangan konsumsi plastik sekali pakai, peningkatan kesadaran publik terhadap krisis sampah, hingga pembiasaan perilaku konsumsi yang lebih berkelanjutan.
Kehadiran Refilin di GENKBZ menunjukkan bahwa inovasi hijau tidak selalu berbasis teknologi tinggi, melainkan juga dapat berupa inisiatif sosial yang konsisten bekerja di tingkat komunitas.
Secara keseluruhan, GENKBZ menjadi bukti bahwa anak muda mampu menjawab persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi dan lapangan kerja baru. Ke depan, program ini diharapkan dapat digelar lebih masif dan menjangkau kota-kota kecil, agar potensi socio-preneur dan greenpreneur muda dapat terus digali dan memberi dampak nyata bagi masyarakat luas.***

*) Jofan Ahmad Arianto, mahasiswa Fakultas Kesehatan Sains dan Psikologi Universitas Sunan Gresik dan aktif di Ecological Observation dan Wetlands Conservation (Ecoton), Artikel ditulis dari hasil resume Jofan dan melalui proses editing redaktur TitikTerang.