Riset lintas negara menemukan puluhan ikan asli masih hidup di Brantas di tengah limbah, bendungan, dan invasi spesies asing.
Sungai Brantas masih menyimpan kehidupan yang tak sepenuhnya hilang. Di balik arus keruh, pintu air beton, sampah plastik, dan tekanan industri sepanjang daerah aliran sungai, puluhan ikan asli Jawa ternyata masih bertahan.
Tim peneliti lintas negara mencatat, sedikitnya 42 spesies ikan asli hidup di sepanjang DAS Brantas, Jawa Timur. Temuan itu muncul dari riset “A checklist of native freshwater fish from Brantas River, East Java, Indonesia.” Dipublikasi sejak Mei 2021 – Agustus 2022 di jurnal ilmiah Biodiversitas edisi November 2022.
Riset melibatkan peneliti dari Departemen Akuakultur Universitas Airlangga, Universiti Malaya Malaysia, University of Leeds Inggris, Federal University of Maranhão Brasil, Universitas Brawijaya, sampai lembaga konservasi ECOTON.
Di tengah tekanan antropogenik yang terus meningkat di Pulau Jawa, angka 42 menjadi catatan penting. Di saat banyak sungai perkotaan kehilangan spesies asli secara perlahan, Brantas ternyata masih menyimpan komunitas ikan air tawar yang relatif kaya.
“Sebagian besar ikan asli masih mampu bertahan pada berbagai segmen sungai, meski tekanan ekologis terus meningkat,” sebut hasil penelitian.
Para peneliti membagi lokasi pengamatan menjadi empat stasiun utama. Hulu Kota Batu, Waduk Karangkates Malang, wilayah tengah Kediri, lalu hilir Sidoarjo. Dari pembagian lokasi itu, memperlihatkan perubahan mencolok dari satu kawasan ke kawasan lain.
Di hulu Kota Batu, air sungai masih dingin dan kaya oksigen. Arus deras menghantam batuan sungai. Kondisi seperti itu menciptakan habitat bagi ikan reofilik, kelompok ikan yang menyukai aliran cepat.
Spesies seperti Nemacheilus chrysolaimos, Glyptothorax platypogon, dan Akysis variegatus hanya ditemukan di wilayah hulu. Ketiganya dikenal sensitif terhadap penurunan kualitas air.
Arus deras di hulu, disebutkan dalam penelitian, memiliki kecepatan, sekitar 1,5 hingga 2 meter per detik. Kandungan oksigen terlarut mencapai 6,4 sampai 8,2 ppm dengan suhu air berkisar 22 hingga 25 derajat Celsius.
Kondisi itu jauh berbeda dibanding wilayah hilir.
Di bagian tengah sungai, terutama kawasan Kediri, jumlah spesies justru paling tinggi. Peneliti menemukan 37 spesies ikan di area itu. Arus sungai lebih lambat. Dasar perairan berupa lumpur berpasir. Banyak ruang hidup tersedia bagi ikan air tenang.
“Wilayah tengah menyediakan habitat yang lebih stabil, bagi berbagai jenis ikan,” kata peneliti dalam jurnal itu.
Famili Cyprinidae mendominasi hampir seluruh titik pengamatan. Kelompok ikan kerabat karper dan wader itu menyumbang 15 spesies dari total 42 spesies yang ditemukan.
Jenis seperti wader pari (Mystacoleucus marginatus), nilem (Osteochilus vittatus), tawes (Barbonymus gonionotus), badar (Barbonymus balleroides), benthulu (Barbodes binotatus), sampai lele kampung (Clarias batrachus). Ditemukan dari hulu sampai hilir.
Peneliti menyebut kelompok Cyprinidae memiliki daya adaptasi tinggi. Tingkat reproduksi besar membuat ikan-ikan itu lebih tahan menghadapi perubahan lingkungan.
Sebaliknya, ikan dengan kebutuhan habitat khusus, justru paling cepat hilang ketika kualitas sungai turun.

#Hulu Menyusut, Hilir Kian Tertekan
Perubahan paling terasa, menurut jurnal itu, muncul ketika aliran sungai memasuki kawasan hilir.
Jumlah spesies di Sidoarjo turun menjadi 26 spesies. Padahal karakter fisik sungai di wilayah itu masih relatif mirip dengan bagian tengah Brantas.
Peneliti menemukan penyebab utama datang dari pengaruh estuari dan peningkatan kadar salinitas. Banyak ikan air tawar murni gagal bertahan ketika kadar garam mulai meningkat.
Fenomena itu disebut sebagai environmental filtering atau penyaringan lingkungan.
Sungai bekerja seperti ruang seleksi alami. Ikan yang tak mampu menyesuaikan diri perlahan menghilang.
“Gradien salinitas menjadi pembatas alami bagi sebagian spesies air tawar,” begitulah laporan itu berpendapat.
Di sisi lain, tekanan manusia terus bertambah.
Brantas menjadi sumber air baku bagi jutaan warga Jawa Timur. Sungai juga menopang industri, pertanian, pembangkit listrik, budidaya ikan, sampai aktivitas rumah tangga.
Konsekuensinya terlihat hampir di seluruh segmen sungai.
Limbah domestik masuk tiap hari. Industri membuang residu produksi. Penambangan pasir mengubah struktur dasar sungai. Vegetasi bantaran terus hilang akibat pembangunan.
Belum lagi keberadaan bendungan besar yang memutus jalur migrasi ikan.
Peneliti memberi perhatian khusus pada Bendungan Karangkates. Struktur beton raksasa itu dibangun tanpa fishway atau tangga ikan.
Akibatnya, konektivitas sungai terputus.
Ikan migratori kehilangan akses menuju area pemijahan. Pergerakan musiman terhambat. Siklus hidup banyak spesies terganggu.
“Ikan yang membutuhkan migrasi mengalami hambatan serius akibat fragmentasi sungai,” tulis peneliti.
Kasus serupa sebenarnya sudah lama muncul di berbagai sungai dunia. Sungai Mekong di Asia Tenggara menjadi salah satu contoh paling sering dibahas ilmuwan perikanan.
Bendungan memicu penurunan populasi ikan migratori dalam skala besar. Pola yang mirip mulai terlihat di Jawa.
Beberapa spesies ikan asli yang dulu tercatat hidup di Brantas kini tak lagi ditemukan selama survei berlangsung.
Nama seperti Cyclocheilos enoplos, Pangasius macronema, Homalopteroides wassinkii, Lepidocephalichthys hasselti, dan Luciosoma setigerum hilang dari hasil tangkapan peneliti.
Kehilangan itu memunculkan kekhawatiran soal kepunahan lokal.
“Diperlukan survei lanjutan untuk memastikan status populasi spesies yang tidak ditemukan,” tulis peneliti.
Ancaman lain datang dari invasi ikan asing.
Jawa Timur selama puluhan tahun berkembang menjadi pusat budidaya ikan konsumsi dan perdagangan ikan hias. Banyak spesies non-native lolos ke perairan alami akibat kebocoran kolam, banjir, sampai pelepasan sengaja.
Ikan asing menciptakan kompetisi baru di sungai.
Telur ikan lokal dimangsa. Ruang hidup diperebutkan. Pakan alami makin terbatas.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Tekanan itu terjadi bersamaan dengan pencemaran dan penyempitan habitat.
#Surabaya Menjadi Potret Hilir Brantas
Situasi Sungai Surabaya memberi gambaran lebih dekat, tentang kondisi hilir DAS Brantas hari ini.
Penelitian terbaru yang dimuat dalam Biodiversitas Volume 27 Nomor 3 Maret 2026 mendokumentasikan 35 spesies ikan air tawar di sepanjang Sungai Surabaya.
Riset yang lakukan Abdul R. Faqih bersama tim peneliti dari Indonesia, Malaysia, dan Inggris itu. Melakukan pengambilan sampel berlangsung sejak Desember 2025 – Januari 2026.
Pengambilan dilakukan di tiga titik utama. Pintu Air Mlirip Mojokerto, Kecamatan Krian Sidoarjo, dan Pintu Air Jagir Surabaya.
Hasilnya memperlihatkan pola penurunan spesies dari hulu menuju hilir.
Stasiun Mlirip mencatat 34 spesies. Di Jagir, jumlahnya tinggal 17 spesies.
Cyprinidae kembali mendominasi.
Ikan seperti Rasbora argyrotaenia, Barbodes binotatus, Osteochilus vittatus, Systomus rubripinnis, Barbonymus gonionotus, hingga Hampala macrolepidota ditemukan di berbagai lokasi pengamatan.
Peneliti juga menemukan spesies endemik Jawa masih bertahan di Sungai Surabaya. Di antaranya lele lokal Clarias batrachus, baung Hemibagrus nemurus, julung-julung Dermogenys pusilla, dan wader cakul Barbodes binotatus.
Keberadaan ikan-ikan itu dianggap penting karena menunjukkan kualitas ekologis sungai belum sepenuhnya runtuh.
Meski begitu, tekanan antropogenik di Surabaya jauh lebih terasa.
Di beberapa titik, sungai berubah menjadi saluran air perkotaan dengan aktivitas padat di kanan-kiri bantaran.
Peneliti mencatat ancaman datang dari modifikasi habitat, penangkapan berlebih, pencemaran, perubahan iklim, introduksi spesies asing, sampai pembangunan pintu air tanpa jalur migrasi.
“Ikan asli menghadapi tekanan ekologis yang semakin kompleks,” tulis tim peneliti.
Penelitian juga menemukan 12 spesies yang pernah dicatat sejak era naturalis Pieter Bleeker pada abad ke-19 sudah tak ditemukan lagi.
Daftar itu mencakup Leptobarbus hoevenii, Crossocheilus cobitis, Crossocheilus oblongus, Barbichthys laevis, Cyclocheilichthys armatus, sampai Kalimantania lawak.
Hilangnya spesies dalam ekosistem sungai sering berjalan perlahan. Populasi menurun sedikit demi sedikit sampai akhirnya tak lagi muncul dalam survei ilmiah.
Peneliti menganggap kondisi itu sebagai sinyal penurunan kualitas habitat.

#eDNA dan Pertarungan Menyelamatkan Sungai
Di tengah tekanan yang terus meningkat, peneliti mulai mendorong pendekatan konservasi yang lebih agresif.
Salah satu rekomendasi utama datang dari penggunaan environmental DNA atau eDNA.
Teknik ini memungkinkan ilmuwan mendeteksi keberadaan ikan hanya dari sampel air sungai. Jejak genetik seperti lendir, sisik, atau sisa sel tubuh ikan tertinggal di air lalu dianalisis di laboratorium.
Metode itu dinilai lebih efisien dibanding penangkapan konvensional.
“Pendekatan eDNA mampu meningkatkan efektivitas monitoring biodiversitas perairan,” tulis peneliti.
Selain pemantauan modern, peneliti juga meminta penguatan kawasan suaka ikan di DAS Brantas dan Sungai Surabaya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebenarnya sudah memiliki dasar hukum melalui Keputusan Gubernur Nomor 188/229/KPTS/013/2014. Masalahnya, pengawasan di lapangan masih lemah.
Peneliti juga mendorong konservasi ex-situ melalui domestikasi dan restocking ikan asli.
Langkah itu dianggap penting untuk menjaga populasi spesies lokal yang terus menurun akibat perubahan habitat.
Di tengah situasi itu, sebagian ikan asli Jawa masih bertahan karena faktor budaya lokal.
Ikan dewa dari genus Tor dan Neolissochilus masih ditemukan di beberapa kawasan mata air yang dianggap sakral warga sekitar. Aktivitas eksploitasi di area itu relatif rendah karena faktor kepercayaan masyarakat.
“Perlindungan berbasis kearifan lokal ikut membantu menjaga habitat ikan sensitif,” tulis laporan penelitian.
Berdasarkan data IUCN, sebagian besar ikan di Brantas masih masuk kategori Least Concern atau risiko rendah. Ada juga kelompok Data Deficient karena minim penelitian.
Satu spesies mendapat perhatian lebih besar, yakni Rasbora lateristriata yang masuk kategori Vulnerable atau rentan.
Status itu memperlihatkan tekanan terhadap ikan air tawar Jawa makin nyata.
Brantas hari ini masih mengalir melewati kota, kawasan industri, sawah, bendungan, hingga permukiman padat. Dari permukaan, sungai tampak tetap hidup seperti biasa.
Di bawah air, situasinya jauh lebih rumit.
Sebagian spesies bertahan karena kemampuan adaptasi. Sebagian lain perlahan hilang tanpa banyak disadari.
Riset lintas negara itu memberi satu pesan penting: sungai terbesar di Jawa Timur belum kehilangan seluruh kehidupan liarnya. Akan tetapi waktu terus berjalan lebih cepat dibanding upaya penyelamatan ekosistem air tawar di Pulau Jawa.***


*) Tripani Anastasia Togatorop dan Farida Febriani Tampubolon, mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Universitas Brawijaya Malang. Saat ini sedang menjalani program studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Artikel ini merupakan opini pribadi penulis sebagai bagian dari pemenuhan program studi independen melalui editing redaksi.