- Sebanyak 23 mahasiswa magang ECOTON mempresentasikan 11 kajian konservasi sungai berbasis hasil observasi di Desa Sumengko.
- Rancangan fish sanctuary diproyeksikan memulihkan populasi ikan bader dan keting melalui konservasi berbasis masyarakat.
- Inventarisasi biodiversitas menemukan 42 spesies ikan dari 17 famili yang masih bertahan di Kali Surabaya.
- Kajian merekomendasikan perlindungan vegetasi riparian, kualitas air kelas II, dan material kolam yang ramah lingkungan.
- Bangunan ilegal di bantaran sungai dinilai menjadi ancaman utama bagi habitat ikan dan kesehatan ekosistem Kali Surabaya.
SEBANYAK 23 mahasiswa program magang di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) mempresentasikan hasil observasi kajian ekologi kawasan konservasi ikan dan keanekaragaman hayati di Desa Sumengko, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik.
Dalam pemaparan yang terbagi menjadi 11 kelompok tersebut, para mahasiswa menyajikan berbagai riset ilmiah yang berfokus pada kelayakan rancangan fish sanctuary (kawasan konservasi ikan), inventarisasi biodiversitas, evaluasi vegetasi riparian, hingga identifikasi ancaman lingkungan di Kali Surabaya.
#Fish Sanctuary Diproyeksikan Pulihkan Habitat Ikan Lokal
Kelompok pertama yang disampaikan Sharon Rosearly Dwijaya, mahasiswa Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Brawijaya, memaparkan rancangan kawasan konservasi sekaligus pembenihan ikan lokal di bantaran Kali Surabaya.
Sharon menjelaskan bahwa fish sanctuary ini diproyeksikan untuk memulihkan populasi ikan lokal seperti bader (Barbonymus gonionotus) dan keting (Mystus nemurus) yang kian terdesak akibat degradasi habitat.
“Fish sanctuary bertujuan memulihkan populasi ikan lokal sekaligus menjaga kualitas ekosistem sungai melalui keterlibatan masyarakat,” ujar Sharon saat presentasi di Gedung Inspirasi Wringinanom, Gresik, Selasa, (21/7/2026).
Konsep kawasan konservasi ini tidak sebatas pembuatan kolam budidaya, lanjut Sharon, dirancang agar tetap terhubung langsung dengan aliran Kali Surabaya.
“Dengan begitu, ikan dapat berkembang biak dan bermigrasi secara alami, “ tandas Sharon.
Rekan satu timnya, Sherly Cleodora Elshada, menekankan pentingnya verifikasi lapangan, lebih serius, terkait lebar sempadan sungai dan vegetasi riparian.
Berdasarkan hasil survei habitat, kata Sherly, lokasi fish sanctuary wajib memenuhi standar kriteria baku mutu air kelas II, “Bersubstrat dasar pasir atau kerikil, serta memiliki vegetasi riparian yang sehat, “ ungkapnya.
Sherly juga menyoroti pemilihan material konstruksi kolam agar tidak mencemari lingkungan.
“Bata putih tidak direkomendasikan untuk pembangunan kolam fish sanctuary. Karena berpotensi memengaruhi kualitas air. Sebagai alternatif, kami merekomendasikan penggunaan bata merah atau beton agar kondisi perairan tetap stabil,” kata Sherly.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
#Inventarisasi Catat 42 Spesies Ikan di Kali Surabaya
Pada sesi lain, Marcellina Santoso dan Maya Anindya Maheswari Ladina mempresentasikan hasil Metode Inventarisasi Biodiversitas untuk Petro Tirta. Dari inventarisasi sepanjang tahun 2026 tersebut, tercatat Kali Surabaya masih menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, yakni sebanyak 42 spesies ikan dari 17 famili.
Famili Cyprinidae menjadi kelompok paling mendominasi dengan 15 spesies, disusul Bagridae (6 spesies) dan Osphronemidae (4 spesies). Beberapa jenis ikan yang berhasil terdata antara lain belida, bader, tawes, wader pari, baung/keting, lele lokal, patin, hingga gabus—yang mayoritas berstatus Least Concern (LC) pada daftar IUCN.
Selain mendata biota air, tim juga merekomendasikan penanaman vegetasi riparian seperti pandan wangi, gayam, nipah, mangga, nangka, dan semak lokal. Tanaman-tanaman ini berfungsi menahan erosi, menyaring limpasan polutan, serta menyediakan habitat alaminya.
#Bangunan Ilegal Masih Jadi Ancaman Utama
Meski memiliki keanekaragaman hayati yang tergolong tinggi, penelitian mahasiswa ECOTON ini memperlihatkan sejumlah ancaman nyata. Yaitu Keberadaan bangunan ilegal di bantaran sungai, baik sebagai permukiman maupun untuk industri.
Menunurut mereka, bangunan-bangun itu menjadi pemicu utama penyempitan alur, peningkat sedimentasi, serta penyebab pencemaran limbah domestik.
Melalui bioindikator kualitas air, ditemukan bahwa beberapa area sungai mulai didominasi oleh organisme toleran pencemaran seperti cacing dan tumbuhan air tertentu, penanda adanya penurunan kadar oksigen.
Maya Anindya menegaskan bahwa strategi budidaya ikan lokal berbasis masyarakat ini harus diimbangi dengan program restocking (pelepasliaran) berkala ke sungai.
“Pendekatan ini tidak hanya menjaga populasi ikan lokal dari kepunahan, tetapi juga memberikan dampak pemulihan ekonomi bagi warga sekitar,” pungkas Maya.
Rangkaian rekomendasi ilmiah dari para mahasiswa magang ECOTON ini diharapkan dapat menjadi rujukan utama bagi pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat dalam mewujudkan pemulihan ekosistem Kali Surabaya secara berkelanjutan berbasis partisipasi warga lokal.***