Lewati ke konten

Mikroplastik Capai Otak Manusia, Jejak Pencemarannya Terlacak Sepanjang DAS Brantas

| 8 menit baca |Highlight | 6 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Mikroplastik dan nanoplastik ditemukan di hampir seluruh sampel otak manusia yang diteliti pada 2026, termasuk jaringan otak sehat yang tidak menunjukkan gangguan neurologis.
  • Temuan tersebut memperkuat bukti bahwa pencemaran plastik telah bergerak dari sungai, laut, udara, dan makanan menuju organ-organ penting dalam tubuh manusia.
  • Di Jawa Timur, penelitian Ecoton selama lebih dari satu dekade menunjukkan mikroplastik telah mencemari Kali Tebu, Kali Surabaya, Kali Mas, hilir Sungai Brantas, hingga berbagai biota perairan yang dikonsumsi masyarakat.
  • Ikan di Sungai Brantas ditemukan mengandung 17 hingga 90 partikel mikroplastik per ekor, sementara kerang air tawar mengandung hingga 33 partikel mikroplastik per individu.
  • Para ilmuwan belum memastikan hubungan langsung antara mikroplastik dan penyakit tertentu, tetapi bukti yang terus bertambah menunjukkan partikel plastik telah menjadi bagian dari paparan harian manusia.

Mikroplastik kini tidak hanya ditemukan di sungai, laut, atau udara. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam Nature Health pada April 2026 menemukan mikroplastik dan nanoplastik di hampir seluruh sampel otak manusia yang dianalisis.

Penelitian yang dipimpin Runting Li itu menemukan partikel plastik pada berbagai jenis jaringan otak. Temuan tersebut mencakup jaringan sehat maupun jaringan yang terdampak tumor.

Konsentrasi partikel plastik ditemukan lebih tinggi pada jaringan tumor. Namun, yang paling mengejutkan para peneliti adalah keberadaan partikel tersebut pada jaringan otak normal dari individu tanpa gangguan neurologis yang diketahui.

Temuan ini memperluas daftar organ manusia yang telah diketahui terpapar mikroplastik. Dalam beberapa tahun terakhir, partikel plastik juga ditemukan dalam darah, paru-paru, plasenta, ASI, dan plak pembuluh darah.

Bagi masyarakat di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, temuan itu berkaitan erat dengan kondisi yang telah lama teramati. Penelitian yang dilakukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa mikroplastik telah muncul hampir di seluruh komponen ekosistem sungai terbesar kedua di Pulau Jawa itu.

Jejak pencemaran tersebut dapat ditelusuri mulai dari anak-anak sungai di kawasan perkotaan hingga organisme yang hidup di dasar sungai. Kini, penelitian internasional menunjukkan kemungkinan ujung perjalanan partikel itu berada jauh di dalam tubuh manusia.

Kondisi Kali Tebu Surabaya yang dipenuhi sampah plastik tidak hanya mengancam ekosistem sungai. Penelitian menunjukkan fragmentasi sampah dapat menghasilkan mikroplastik yang masuk ke air, rantai makanan, dan berpotensi menjadi bagian dari paparan harian manusia. Temuan terbaru bahkan menemukan mikroplastik hingga di jaringan otak manusia. | Foto: Fully Syafi

#Kali Tebu dan Potret Pencemaran yang Kian Meluas

Salah satu temuan terbaru berasal dari Kali Tebu, saluran air yang terhubung dengan kawasan pesisir Surabaya.

Pemantauan yang dilakukan pada 2026 ini, menemukan rata-rata 82 partikel mikroplastik dalam setiap 100 liter air. Pada bagian hilir, jumlah tersebut meningkat menjadi 123 partikel per 100 liter.

Fiber, filamen, dan fragmen menjadi jenis mikroplastik yang paling dominan ditemukan. Ketiga bentuk tersebut lazim berasal dari limbah tekstil sintetis, kemasan plastik, serta sampah rumah tangga yang mengalami fragmentasi.

Temuan di Kali Tebu menunjukkan bahwa pencemaran mikroplastik tidak hanya terjadi di sungai-sungai besar. Saluran air yang berada dekat dengan aktivitas harian masyarakat juga menjadi tempat akumulasi partikel plastik.

Kondisi tersebut penting karena sungai-sungai kecil berfungsi sebagai jalur penghubung antara kawasan permukiman dan badan air yang lebih besar.

Ketika sampah plastik memasuki sistem drainase dan sungai kecil, material tersebut akan terus terbawa menuju sungai utama dan akhirnya mencapai wilayah pesisir.

Peneliti melihat Kali Tebu sebagai gambaran bagaimana pencemaran plastik bergerak dari sumber-sumber domestik menuju ekosistem yang lebih luas.

Namun temuan di Kali Tebu hanyalah satu bagian dari persoalan yang lebih besar di DAS Brantas.

Ecoton terus mengkampanyekan pentingnya menjaga kualitas sungai sebagai sumber kehidupan. Upaya mengurangi sampah plastik dan pencemaran menjadi langkah penting untuk melindungi ekosistem perairan sekaligus mengurangi paparan mikroplastik yang kini ditemukan hingga dalam tubuh manusia. | Foto: Supriyadi

#Mikroplastik Menyebar di Air, Sedimen, dan Biota Sungai

Penelitian Ecoton yang dipublikasikan dalam Environmental Pollution Journal menemukan bahwa Kali Surabaya telah tercemar mikroplastik di sepanjang alirannya.

Empat jenis mikroplastik utama ditemukan pada sembilan titik pengamatan, yakni fiber, filamen, fragmen, dan film.

Kelimpahan tertinggi ditemukan pada wilayah hilir yang menerima tekanan dari aktivitas industri, kawasan permukiman, dan pusat-pusat ekonomi perkotaan.

Filamen bening menjadi bentuk yang paling dominan. Jenis ini banyak berasal dari degradasi produk plastik yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Potret keanekaragaman hayati perairan Sungai Brantas yang menjadi sumber pangan bagi masyarakat. Berbagai penelitian menemukan mikroplastik telah memasuki sejumlah biota perairan, menegaskan eratnya hubungan antara kesehatan sungai dan kesehatan manusia. | Capture jurnal

#Temuan serupa juga ditemukan di Kali Mas

Penelitian menunjukkan konsentrasi mikroplastik tertinggi mencapai 3,98 partikel per liter air. Fiber mendominasi komposisi mikroplastik yang ditemukan.

Fiber banyak berasal dari serat pakaian sintetis yang terlepas saat pencucian. Limbah tersebut kemudian masuk ke saluran air dan sulit disaring oleh sistem pengolahan limbah konvensional.

Yang lebih mengkhawatirkan, mikroplastik tidak hanya ditemukan pada kolom air.

Penelitian di hilir Sungai Brantas menemukan partikel plastik pada air, sedimen, dan kerang air tawar.

Konsentrasi mikroplastik pada air berkisar antara 90 hingga 568 partikel per meter kubik. Pada sedimen ditemukan antara 62 hingga 98 partikel per 50 gram sampel.

Kerang air tawar mengandung 17 hingga 33 partikel mikroplastik per individu.

Data tersebut menunjukkan bahwa partikel plastik tidak sekadar mengalir mengikuti arus. Sebagian mengendap di dasar sungai dan sebagian lain masuk ke tubuh organisme yang hidup di dalamnya.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana pencemaran plastik dapat bertahan dalam ekosistem untuk waktu yang lama.

Ikan menjadi salah satu jalur masuk mikroplastik ke rantai makanan manusia. Berbagai penelitian di Sungai Brantas menemukan partikel plastik dalam saluran pencernaan ikan, menunjukkan bahwa pencemaran sungai tidak berhenti di perairan, tetapi dapat berlanjut hingga ke meja makan. | Dok. Ecoton

#Dari Sungai ke Meja Makan Manusia

Penelitian terhadap ikan di Sungai Brantas memberikan gambaran yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Analisis menunjukkan mikroplastik ditemukan pada seluruh komponen lingkungan yang diperiksa, baik air maupun ikan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Jumlah mikroplastik dalam tubuh ikan berkisar antara 17 hingga 90 partikel per ekor.

Sementara itu, konsentrasi mikroplastik pada air sungai berkisar antara 370 hingga 1.670 partikel per meter kubik.

Penelitian lain di wilayah Jombang dan Gresik menemukan seluruh sampel ikan yang diperiksa mengandung mikroplastik.

Pada saluran pencernaan ditemukan rata-rata 25,22 partikel per ikan. Pada insang ditemukan rata-rata 21,54 partikel.

Jenis yang paling dominan adalah fiber, fragmen, dan film.

Temuan ini menunjukkan bahwa mikroplastik telah memasuki rantai makanan akuatik.

Ikan menelan partikel yang berada di air atau berasal dari organisme yang mereka konsumsi. Ketika ikan tersebut dikonsumsi manusia, sebagian jalur perpindahan mikroplastik menuju tubuh manusia pun terbentuk.

Kondisi serupa ditemukan pada kepiting air tawar di Kali Surabaya dan Kanal Mangetan.

Analisis FTIR menunjukkan partikel yang ditemukan tersusun atas polyethylene, polypropylene, dan polyamide.

Ketiga jenis polimer tersebut merupakan bahan baku berbagai produk plastik yang digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika mikroplastik berhasil menembus blood-brain barrier, batas biologis yang melindungi otak dari berbagai zat berbahaya, pencemaran plastik tidak lagi hanya menjadi isu lingkungan. Temuan terbaru menunjukkan partikel plastik kini ditemukan hingga di jaringan otak manusia, membuka pertanyaan baru tentang dampak paparan jangka panjang terhadap kesehatan.| Foto: Fully Syafi

#Ketika Mikroplastik Menembus Pertahanan Otak

Temuan dalam Nature Health membawa persoalan ini ke tingkat yang lebih serius.

Para peneliti menemukan bahwa nanoplastik mampu melewati blood-brain barrier, sistem pertahanan biologis yang selama ini melindungi otak dari berbagai zat berbahaya dalam aliran darah.

Keberadaan partikel plastik di jaringan otak menunjukkan bahwa ukuran nanoplastik cukup kecil untuk menembus salah satu sistem perlindungan paling penting dalam tubuh manusia.

Para ilmuwan menjelaskan bahwa mikroplastik dan nanoplastik dapat memicu stres oksidatif, yaitu kondisi ketika produksi molekul reaktif melebihi kemampuan tubuh untuk menetralkannya.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan membran sel, protein, dan DNA.

Berbagai penelitian juga menunjukkan hubungan antara mikroplastik dengan peradangan kronis pada jaringan tubuh.

Dalam penelitian kardiovaskular, individu yang memiliki mikroplastik pada plak pembuluh darah dilaporkan memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan jantung dan stroke.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hubungan sebab-akibat langsung masih belum dapat dipastikan.

Hal yang sama berlaku pada temuan mikroplastik di otak manusia.

Para ilmuwan belum dapat menyimpulkan bahwa partikel tersebut secara langsung menyebabkan penyakit neurologis. Namun keberadaannya dalam jaringan otak membuka pertanyaan baru mengenai dampak paparan jangka panjang terhadap kesehatan manusia.

Dalam konteks DAS Brantas, temuan tersebut memberikan perspektif yang lebih luas terhadap pencemaran sungai.

Apa yang ditemukan hari ini di Kali Tebu, Kali Surabaya, Kali Mas, Kanal Magetan, dan hilir Brantas tidak lagi hanya berbicara tentang kualitas lingkungan.

Temuan itu juga berbicara tentang kemungkinan paparan yang diterima manusia melalui air minum, udara, makanan, dan hasil perikanan yang dikonsumsi setiap hari.

Perjalanan mikroplastik ternyata tidak berakhir ketika sampah dibuang ke sungai.

Partikel itu terus bergerak melalui air, memasuki rantai makanan, terakumulasi dalam tubuh organisme, dan kini ditemukan hingga ke jaringan otak manusia.

Karena itu, pencemaran plastik semakin sulit dipandang semata sebagai persoalan sampah atau kebersihan sungai. Bukti-bukti ilmiah yang terus bertambah menunjukkan bahwa persoalan tersebut telah berkembang menjadi isu kesehatan masyarakat yang menghubungkan hulu Sungai Brantas dengan tubuh manusia.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *