Lewati ke konten

Hujan, Angin, dan Nasib Pohon Tua Kota Mojokerto yang Lupa Dirawat

| 3 menit baca |Sorotan | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fio Atmadja, Supriyadi Editor: Supriyadi

KOTA MOJOKERTO – Langit Kota Mojokerto berubah muram seolah sedang menyiapkan adegan klimaks, Rabu sore (8/10/2025). Sekitar pukul 15.02 WIB, hujan deras datang disertai angin kencang. Bukan hujan biasa yang sekadar menenangkan hati dan mencuci debu jalanan, tapi hujan yang bikin warga menepi, dan beberapa pohon tua menyerah pada usia.

Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, hujan berintensitas tinggi itu melanda hampir seluruh wilayah kota. Dalam waktu singkat, laporan warga masuk ke call center 112: pohon tumbang di Jalan Pahlawan, Jalan Benteng Pancasila, Jalan Cinde, Jalan Mayjen Sungkono, Jalan Miji Baru 3, hingga halaman SMAN 2 Mojokerto.

Di sekolah yang berlokasi di Jalan Raya Ijen, Kecamatan Magersari, sebuah pohon beringin besar berdiameter sekitar 120 sentimeter tumbang dan menimpa lima motor milik guru. Deretan kendaraan yang apes tertimpa antara lain Honda BeAT hitam S 4927 SD, BeAT oranye S 6454 VS, Scoopy hitam S 3909 NCI, Yamaha Mio J putih S 5982 VE, dan Scoopy putih S 5509 NAE.

#Antara Alam, Akar, dan Ketidaksiapan Kota

Beruntung, tidak ada korban jiwa. Namun kejadian tersebut menambah daftar panjang sore penuh kejutan di Kota Mojokerto—di mana setiap tikungan seolah menyimpan cerita baru antara alam yang marah dan manusia yang selalu terlambat bersiap.

“Petugas gabungan langsung ke lokasi untuk melakukan evakuasi pohon tumbang dan pembersihan material,” ujar Achmad Kurniawan, Agen Informasi Bencana BPBD Jawa Timur, Rabu sore. Ia menjelaskan bahwa penanganan di sejumlah ruas jalan selesai sekitar pukul 15.45 WIB, sementara evakuasi di halaman sekolah berlangsung lebih lama karena ukuran pohon yang luar biasa besar.

Tim gabungan dari BPBD Kota Mojokerto, BPBD Jatim, Polsek, Koramil, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), relawan, dan pihak sekolah ikut turun tangan. Ranting dan batang besar dipotong satu per satu, diseret keluar halaman sekolah. Sementara itu, hujan mulai reda, menyisakan udara lembap dan bau tanah basah yang khas.

Menjelang sore, kondisi kota kembali berawan. BPBD mengimbau warga agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem beberapa hari ke depan. “Peralihan musim sering disertai hujan deras dan angin kencang. Warga diimbau tidak berteduh di bawah pohon besar atau papan reklame,” tambah Achmad yang akrab disapa Wawan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Pelajaran Sore dari Kota Basah

Bagi warga Kota Mojokerto, kejadian pohon tumbang sudah seperti ritual tahunan. Setiap musim hujan, selalu ada batang besar yang kalah oleh angin. Kadang menimpa kabel listrik, kadang pagar rumah, kali ini—motor guru. Pohon yang dulu ditanam demi penghijauan, kini sering berakhir di daftar laporan darurat.

Kejadian ini juga membuka kembali pertanyaan lama: seberapa siap kota ini menghadapi cuaca ekstrem? Pohon-pohon besar di tepi jalan, yang seharusnya jadi pelindung, bisa berubah jadi ancaman kalau tidak dirawat. Akar yang lapuk, tanah gembur, dan batang rapuh bisa jadi kombinasi fatal.

Fenomena hujan ekstrem semakin sering terjadi, tapi refleksi kita sering berhenti di permukaan. Setiap kali pohon tumbang, publik ramai sejenak, lalu lupa ketika jalan sudah bersih kembali. Padahal, yang lebih penting bukan hanya menebang atau menanam ulang, tapi memastikan setiap pohon yang berdiri punya ruang hidup dan perawatan yang layak.

Rabu sore itu, Mojokerto kembali belajar pelajaran lama: bahwa cuaca bukan sekadar urusan langit, tapi juga tanggung jawab di darat. Pohon yang tumbang bukan semata karena angin kuat, tapi karena kota ini kadang terlalu sibuk untuk sekadar menengok akarnya. ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *