Lewati ke konten

Horror Ngisi Pertalite: Motor Brebet Massal di Surabaya dan Sekitarnya, Antrean Bengkel Lebih Panjang dari Antrean Sembako

| 4 menit baca |Opini | 31 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Marga Bagus
Terverifikasi Bukti

KOTA PAHLAWAN, yang harusnya identik dengan semangat juang dan pantang menyerah, kini dihebohkan oleh musuh baru yang tidak kasat mata, Pertalite misterius. Bukan, ini bukan judul film horor baru, tapi ini adalah kisah nyata yang dialami ribuan arek Suroboyo dan warga sekitarnya (Sidoarjo, Gresik, Mojokerto—pokoknya yang melingkari Surabaya lah) dalam beberapa hari terakhir.

Motor-motor mereka, yang tadinya ngacir dan loyal menemani nglaju dari Rungkut ke Tandes, tiba-tiba bertingkah seperti remaja galau baru putus cinta, Brebet. Tersendat-sendat. Susah diajak kerja sama. Bahkan ada yang mati total seolah sedang melakukan aksi mogok kerja massal.

“Mas, iki motorku mari ngisi Pertalite nang Pom Diponegoro, sampek Pasar Turi wes brebet, terus mati. Kaya kehabisan bensin, padahal tanki isih akeh,” keluh Imam Muslim, pada Selasa, 28 Oktober 2025, dengan nada frustrasi yang kental aroma sambal terasi.

Keluhan ini enggak cuma satu-dua. Ini sudah menjadi epidemi nasional versi regional. Media sosial rame bak pasar malam. Grup-grup WhatsApp ojek online (Ojol) mendadak berubah fungsi menjadi “Grup Konsultasi Perbengkelan Dadakan”. Bengkel-bengkel resmi dan pinggir jalan pun sekarang antreannya sudah ngalahin warung Rawon Setan di jam makan siang.

#Spekulasi Wong Surabaya: Dari Oplosan Air Hingga Spirit BBM yang Lelah

Di tengah ketidakjelasan, rakyat Surabaya, dengan DNA spekulatif-nya yang kuat, mulai merumuskan teori konspirasi paling masuk akal:

1: Pertalite Campur Air (Versi Low Budget Saja)

Ini adalah teori mainstream. Banyak warga dan mekanik bengkel menduga ada air yang nyasar masuk ke tangki Pertalite, entah karena tangki penyimpanan SPBU bocor, atau memang ulah pihak yang nggak bertanggung jawab (kita sebut saja Kolonel Oplosan).

Bau bensinnya aneh, Mas. Kayak bau buah pepaya busuk,” kata Firman, seorang montir dari Sidoarjo, dikutip dari laporan di lapangan. Bayangkan, bahan bakar yang harusnya membakar semangat, malah beraroma buah yang sudah lewat masa jayanya. Ini sungguh krisis aroma nasional yang perlu disikapi dengan kopi pahit.

2: Kualitas BBM Over-Stress

Beberapa motor yang revelatif baru, terutama yang berteknologi injeksi (Honda Beat 2020 ke atas, Vario 160, dkk.), adalah korban utama. Mengapa? Karena mesin baru ini manja dan sensitif terhadap kualitas.

Seorang mekanik di Bratang Gede menduga, Pertalite dengan kualitasnya yang Ron 90 memang kurang direkomendasikan untuk motor injeksi. Lha wong spek mesinnya minta Pertamax (Ron 92) ke atas, kok dikasih yang pas-pasan terus. Mungkin Pertalitenya merasa tertekan dan akhirnya memberontak dengan cara brebet. Ini namanya pemberontakan kelas pekerja di dunia permesinan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

3: Konspirasi Njelimet Musiman

Ada juga yang berbisik-bisik, jangan-jangan ini adalah cara halus untuk “mengedukasi” masyarakat agar pindah kasta ke Pertamax. Dibuat brebet dulu motornya, biar kapok, baru sadar bahwa kemewahan itu harganya nggak bisa bohong.

Aku wis tak ganti Pertamax, Mas, langsung normal maneh, tapi isih ana brebete sitik.” Inilah pengakuan Dicky, warga yang terpaksa naik kelas karena motornya nggak mau diajak miskin. Sebuah drama kenaikan kelas BBM yang penuh air mata dan biaya servis busi.

#Pertamina: Maaf, Posko, dan Kontrol Kualitas yang Tiba-Tiba Diperketat

Setelah keluhan ngebul di media sosial, bos-bos Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus langsung bergerak cepat (tentu saja setelah panik melihat tagar). Permintaan maaf sudah dilayangkan, dan Posko Pengaduan pun didirikan di beberapa titik (Tuban, Bojonegoro, dkk., yang kemudian merembet ke Surabaya Raya).

“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami sedang melakukan investigasi lanjutan untuk pengecekan kualitas dan kuantitas BBM di level SPBU. Konsumen yang terdampak, silakan lapor,” ujar Ahad Rahedi, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, dengan nada cool tapi tertekan.

Intinya, Pertamina menyuruh kita jadi detektif BBM dadakan. Kita disuruh mencium bau Pertalite di SPBU, merasakan tarikan gas, dan jika ada kejanggalan, segera laporkan. Padahal tugas kita cuma mengisi dan membayar. Ah, sungguh multitalenta kaum rebahan ini.

#Antrean Bengkel Sebagai Destinasi Wisata Baru

Surabaya Raya kini punya destinasi wisata baru yang nggak terduga: Bengkel Motor. Di sana, kita bisa bertemu dengan sesama korban Pertalite. Kita bisa berbagi cerita horor motor ngeden di lampu merah, atau motor mati di tengah jalan layang. Persatuan ini lahir dari penderitaan yang sama: Brebet Gara-Gara BBM Subsidi.

Mari kita berdoa bersama, semoga kualitas BBM kita segera pulih. Karena arek-arek Suroboyo ini nggak ada waktu buat motor brebet. Mereka harus gas pol mencari cuan untuk bayar tagihan, cicilan, dan healing yang nggak kunjung selesai.

Kalau motor terus brebet, bagaimana kita mau berjuang? Bagaimana kita mau jadi motor penggerak ekonomi kalau motor kita sendiri mogok massal?

Surabaya, wani melawan penjajah, tapi kalah sama bensin bau pepaya busuk. Sungguh ironi.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *