Lewati ke konten

Lima Mahasiswa, Satu Pertanyaan, dan Kelahiran Gerakan Lingkungan dari Ruang Laboratorium ECOTON Bernama GrowGreen

| 6 menit baca |Ide | 34 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus
Terverifikasi Bukti

Mereka datang ke ECOTON hanya untuk menyelesaikan studi independen. Lima mahasiswa Ilmu Komunikasi itu tidak berniat menjadi aktivis, apalagi mendirikan komunitas. Namun satu pertanyaan sederhana mengubah arah hidup mereka: apakah mungkin anak muda berhenti menjadi penonton kerusakan bumi dan mulai turun ke garis depan?

#Ruang Kelas Bernama Sungai yang Tercemar

Bersama-sama di ruang meeting ECOTON, menyatukan pikiran untuk satu tujuan: bumi yang lebih sehat. Di sini kami belajar, berdiskusi, dan merencanakan aksi—karena perubahan lahir dari ruang kecil sebelum berdampak besar. | Foto: Dok GrowGreen

SEMULA tak ada yang istimewa. Lima mahasiswa datang ke ECOTON dengan pikiran sederhana: belajar, observasi, pulang, menulis laporan. Tidak ada visi perubahan, tidak ada keinginan menciptakan gerakan. 9 September 2025 semestinya hanya menandai awal semester, bukan awal perjalanan hidup. Tetapi hari itu, sesuatu terjadi.

“Dari yang gelap menuju yang terang…” celetuk Siti Nor Shofiyah sambil menghirup udara siang di selasar kantor ECOTON, Wringinanom, Gresik, Jawa Timur, Jumat, 21 November 2025.

Celetukan Shofiyah pun menjadi tumpahan tawa meledak oleh teman-temannya. Sebab kata-katanya terdengar terlalu filosofis untuk situasi santai. Tetapi makna itu sesungguhnya tepat: selama ini dunia mereka terang oleh isu politik, gelap oleh isu lingkungan, kosong dari pengetahuan yang nyatanya dekat dengan tubuh fisik mereka sendiri.

“Hantu apalagi ini?” ujar Shofiyah ketika pertama kali mendengar istilah mikroplastik di ruang diskusi. Tawa pecah lagi, tapi perlahan padam ketika mata mereka bertemu dengan lensa mikroskop. Di sana, potongan mikroplastik terapung dalam garam dapur, sampel hujan, hingga mi instan. Bukan sekadar teori, melainkan ancaman tak kasat mata.

“Ini bukan cuma teori… ini kita yang sedang tercemar,” bisik Dinara. Sejak saat itu, bukan lagi sekadar kunjungan belajar. Mereka sedang berhadapan dengan kebenaran yang selama ini diabaikan dunia.

Begitulah bagian cerita mereka; Siti Nor Shofiyah, Anjar Bintoro Aji Mujiono, Dinara Safinatun Nahdliyah, Naswa Rosalia Agnesia, dan Ridha Fadhillah – mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi FISIPOL Universitas Negeri Surabaya Angkatan 2023.

Terasa tak ada rasa canggung ketika diajak ngobrol. Bagi mereka, tidak menjawab saat ditanya adalah kesadaran ketidaktahuan. Kalau tahu persoalan, mereka bercerita detail dan bahkan tak bisa dijeda. Mereka berbicara apa adanya, tanpa basa-basi intelektual, tanpa berusaha terlihat paling mengerti.

Di titik ini, ada satu hal yang mencuri perhatian, keberanian untuk jujur, mereka tidak tahu sebelum belajar. Mungkin inilah yang membedakan generasi mahasiswa sekarang dengan generasi dulu.

Jika dulu mahasiswa sering merasa harus tampil seolah paling paham untuk dianggap kritis, anak muda hari ini justru lebih terbuka mengakui ketidaktahuan. Karena bagi mereka, belajar bukan soal gengsi, tetapi soal menemukan kebenaran. Mungkin terlihat santai, tapi kesantaian itu justru membuat mereka belajar lebih cepat dan lebih tulus.

Kesadaran itu, bisa jadi, adalah start kecil yang sering hilang di ruang akademik: bukan sekadar berdebat siapa paling pintar, tapi berani mengakui ketidaktahuan agar bisa memulai perjalanan memahami sesuatu yang penting.

Siapa sangka tugas kuliah membawa kami pada kenyataan bahwa bumi sedang sakit? Hari ini bersama ECOTON, kami belajar sambil bergerak: dari meneliti sampel sungai hingga mengurangi plastik dalam keseharian. Perubahan dimulai dari diri sendiri — sekecil apa pun. | Foto” Dok GrowGreen

#Ketika Kesadaran Menjadi Penanda Kedewasaan

Dari ruang laboratorium, mereka keluar dengan perasaan yang bercampur, takut, marah, dan ingin tahu. Mahasiswa yang biasanya mempelajari teori persuasi kini berhadapan dengan sesuatu yang lebih dari sekadar objek akademik, ini soal hidup mereka sendiri.

Shofiyah mengingat betul saat ia membaca jurnal penelitian yang menjelaskan bagaimana mikroplastik bisa masuk ke aliran darah dan memicu kanker, stroke, hingga gangguan hormon. “Kalau kita tahu sesuatu yang berbahaya dan tetap diam, berarti kita bagian dari masalah,” ujar Anjar lirih, tapi mantap.

Tak satu pun dari mereka bersuara. Tapi mereka tahu, keputusan sudah jatuh. Tugas kuliah telah menjelma menjadi urgensi moral.

Sejak hari itu, gaya hidup mereka berubah. Tumbler menggantikan botol air mineral. Totebag menggantikan kantong plastik. Wadah makan menggantikan kemasan sekali pakai. Mereka mengurangi bukan karena tren, bukan karena nilai akademik, melainkan karena kesadaran.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Kesadaran itu menuntut harga, konsistensi, komitmen, dan keberanian untuk berbeda. Tapi tidak satu pun dari mereka mundur.

#Pertanyaan yang Mengubah Takdir

Semua titik kecil akhirnya mengarah ke satu percakapan penting. Di ruang diskusi ECOTON, di antara poster sungai tercemar dan botol sampel riset, founder ECOTON Prigi Arisandi mengajukan pertanyaan yang mengguncang fondasi mereka. “Kalau kalian serius peduli lingkungan, kenapa tidak bikin komunitas sendiri? Kampanye kalian akan lebih kuat kalau punya rumah perjuangan.”

Kalimat itu jatuh seperti palu godam. Tidak ada pidato, tidak ada perintah, tidak ada tekanan. Hanya pertanyaan. Tentu pertanyaan yang membuka pintu perubahan. Shofiyah, Anjar, Dinara, Naswa, dan Ridha saling berpandangan: takut, ragu, tapi juga terpanggil.

Di teras ECOTON yang menghadap Kali Brantas, nama itu lahir begitu saja, “GrowGreen.” Sederhana, tapi mengandung harapan panjang, bertumbuh hijau, bertumbuh bersama. Komunitas yang awalnya “tidak direncanakan” justru menjadi rumah yang selama ini tanpa sadar mereka cari.

Nama itu kemudian mereka akuisisi sebagai identitas digital melalui akun Instagram @growgreenn. Namun prosesnya tidak sesederhana menulis kata di kertas.

“Sayang ya, ketika kita pilih nama ini untuk akun Instagram, kita harus nambah satu huruf ‘N’,’’ ucap Anjar setengah menggerutu. “Karena nama GrowGreen yang satu ‘N’ sudah ada.”

Ridha langsung menimpali sambil mengangkat alis, “Tapi kita kan lebih aktif, meski baru.” Tawa pecah lagi, tetapi kali ini bukan karena tidak mengerti—melainkan karena mereka sadar sedang merintis sesuatu yang lebih besar dari tugas kuliah.

Saat cerita ini ditulis akun Instagram @GrowGreenn sudah memposting kegiatan 54 posts, 1,661 followers dan 447 following.,

#Dari Kampus ke Lapangan, dari Kesadaran ke Gerakan

Praktik lapangan mereka berubah total. Bukan lagi mengamati, melainkan terlibat. Bukan lagi membaca, melainkan mengedukasi. Mereka masuk ke sekolah, ke ruang digital, ke kampus, sambil membawa pesan bahwa bumi tidak membutuhkan orang hebat untuk diselamatkan, hanya membutuhkan orang yang mau mulai.

Shofiyah yang memang tampak paling energik berdiri menjelaskan mikroplastik kepada siswa. Anjar yang suka berada di balik layar kini mengabadikan dokumentasi kampanye. Dinara dan Naswa merancang konten edukasi yang beresonansi dengan anak muda. Ridha menyusun strategi kolaborasi. Mereka bergerak sebagai satu tubuh.

Hari terakhir studi independen, Prigi kembali menatap mereka dan berkata, “Kalau gerakan ini berhenti hanya karena studi independen selesai, maka yang kalian pelajari cuma teori. Tapi kalau lanjut, kalian sedang menyelamatkan masa depan kalian sendiri.”

Gerakan itu pun tak berhenti. GrowGreen lahir bukan sebagai tugas kuliah, melainkan sebagai panggilan. Kampanye mereka kini menggema melalui media sosial dan ruang pertemuan. Mereka bukan LSM, bukan aktivis berpengalaman, hanya lima anak muda yang akhirnya sadar bahwa bumi tidak menunggu yang sempurna—bumi menunggu mereka yang bersedia mulai.

Kini, setiap kali mereka melihat logo GrowGreen, kelima pendiri itu menyadari sesuatu: Gerakan ini bukan awal yang mereka rencanakan, tetapi akhir yang ternyata selama ini mereka tuju. ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *