Lewati ke konten

Peresmian Gedung Pemuda Banyu Urip, Ruang Baru Harapan dan Eksperimen Sosial Generasi Muda Surabaya

| 4 menit baca |Ide | 65 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Peresmian Gedung Pemuda RW 6 Banyu Urip menandai investasi baru Surabaya pada generasi muda. Dibangun dari Dana Kelurahan 2025, fasilitas ini diharapkan menjadi ruang inovasi, partisipasi sosial, serta jawaban atas tantangan perkotaan dari tingkat akar rumput.

#Ruang baru di tengah kampung kota

Di tengah kepadatan permukiman Banyu Urip, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, Jawa Timur, sebuah bangunan sederhana namun bermakna diresmikan pada Senin, 15 Desember 2025. Gedung Pemuda RW 6 dibuka sebagai ruang publik baru yang disiapkan untuk menampung aktivitas, gagasan, serta eksperimen sosial generasi muda di tingkat komunitas.

Camat Sawahan Amiril Hidayat melakukan pemotongan pita sebagai tanda peresmian Gedung Pemuda RW 6 Banyu Urip. Fasilitas ini diharapkan menjadi ruang aktivitas, kolaborasi, dan pengembangan potensi generasi muda di lingkungan setempat. | Foto: Ulung

Peresmian ini dihadiri Camat Sawahan Amiril Hidayat, Lurah Banyu Urip Dedy Ahmad Choiruddin, serta Ketua Karang Taruna Kota Surabaya Febryan Kiswanto. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut mencerminkan harapan besar terhadap peran pemuda dalam menjawab persoalan sosial di tingkat kampung kota.

Gedung ini dibangun menggunakan Dana Kelurahan (DAKEL) tahun anggaran 2025. Pemerintah kelurahan menilai fasilitas tersebut sebagai kebutuhan mendesak, mengingat selama bertahun-tahun pemuda RW 6 tidak memiliki ruang tetap untuk berkegiatan.

Banyu Urip merupakan kawasan padat dengan dinamika sosial yang kompleks. Persoalan pengangguran, keterbatasan ruang publik, hingga tantangan lingkungan menjadi bagian dari keseharian warga. Dalam konteks itu, Gedung Pemuda diharapkan menjadi titik temu solusi berbasis komunitas.

#Pemerintah dan peran aktif pemuda

Dalam sambutannya, Camat Sawahan Amiril Hidayat menekankan bahwa generasi muda tidak bisa lagi berada di posisi pasif. Menurutnya, tantangan sosial perkotaan membutuhkan keterlibatan langsung pemuda sebagai aktor perubahan.

“Pemuda harus tanggap terhadap permasalahan di lingkungannya sendiri,” kata Amiril. Ia menyebut isu pengangguran, degradasi lingkungan, hingga konflik sosial skala RW sebagai persoalan nyata yang dapat diurai jika pemuda diberi ruang dan kepercayaan.

Amiril menilai pembangunan Gedung Pemuda sebagai investasi jangka panjang. Ia menegaskan bahwa DAKEL 2025 dialokasikan secara transparan untuk proyek-proyek yang berdampak langsung bagi warga.

“Gedung ini bukan hanya bangunan fisik. Ini investasi masa depan,” ujarnya. Ia mendorong agar fasilitas tersebut dimanfaatkan untuk pelatihan kewirausahaan, edukasi lingkungan, dan program sosial yang relevan dengan kebutuhan lokal.

Pemerintah kecamatan, lanjut Amiril, terbuka untuk mendukung pengembangan program lanjutan. Syaratnya, karang taruna mampu menyusun proposal yang jelas dan akuntabel, serta menunjukkan dampak nyata bagi masyarakat.

Peresmian Gedung Pemuda RW 6 Banyu Urip ditutup dengan pemotongan pita oleh Camat Sawahan dan penandatanganan prasasti oleh Lurah Banyu Urip, diiringi musik patrol Karang Taruna. Momen ini menandai dimulainya fungsi gedung sebagai ruang publik baru bagi warga. | Foto; Ulung

#Dari kebutuhan warga hingga rasa memiliki

Lurah Banyu Urip Dedy Ahmad Choiruddin menyampaikan bahwa pembangunan gedung ini berangkat dari kebutuhan riil warga. Selama ini, kegiatan pemuda kerap berpindah-pindah tempat atau menumpang fasilitas RW lain.

“DAKEL 2025 kami gunakan seefisien mungkin untuk fasilitas yang benar-benar dibutuhkan,” kata Dedy. Ia menyebut gedung ini akan menjadi pusat rembug warga, pelatihan digital, hingga kegiatan budaya.

Proses pembangunan juga melibatkan partisipasi masyarakat, termasuk pemuda setempat dalam pengawasan proyek. Menurut Dedy, langkah ini penting untuk menumbuhkan rasa memiliki sekaligus menjadi bentuk pendidikan kewarganegaraan yang konkret.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Ia optimistis, keberadaan Gedung Pemuda dapat mendorong program vokasi dan pelatihan kerja yang dirancang untuk menekan angka pengangguran pemuda di kelurahan tersebut.

“Kalau ruangnya ada, gagasan akan lebih mudah tumbuh,” ujarnya.

Gedung Pemuda RW 6 Banyu Urip berdiri sebagai simbol pembangunan berbasis komunitas. Di tengah keterbatasan ruang kota, fasilitas ini diharapkan menumbuhkan solidaritas, inovasi, dan kepemimpinan muda sebagai investasi sosial jangka panjang bagi Surabaya. | Foto: Ulung

#Inovasi lokal, dampak kota

Ketua Karang Taruna Kota Surabaya, Febryan Kiswanto, melihat Gedung Pemuda RW 6 Banyu Urip sebagai potensi inkubator ide. Ia mendorong pemuda setempat untuk berpikir melampaui batas RW.

“Dari sini bisa lahir inovator muda, start-up lokal, atau program sosial kreatif,” kata Febryan. Ia menilai inovasi berbasis kampung justru memiliki peluang besar untuk direplikasi di wilayah lain.

Ia memberi contoh inisiatif yang bisa dikembangkan, mulai dari digitalisasi UMKM, pelatihan kreator konten untuk promosi kuliner lokal, hingga sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada ketiadaan ide, melainkan konsistensi dan kolaborasi. Ia menekankan pentingnya jejaring antar karang taruna se-Surabaya untuk berbagi pengalaman dan sumber daya.

“Jangan biarkan gedung ini kosong,” ujarnya. “Isilah dengan kegiatan yang memberi manfaat nyata.”

#Investasi sosial jangka panjang

Peresmian ditutup dengan pemotongan pita oleh Camat Sawahan dan penandatanganan prasasti oleh Lurah Banyu Urip, diiringi musik patrol Karang Taruna RW 6. Momen tersebut menandai dimulainya fungsi gedung sebagai ruang publik baru.

Gedung Pemuda RW 6 Banyu Urip kini berdiri sebagai simbol pendekatan pembangunan berbasis komunitas. Di tengah keterbatasan ruang kota, fasilitas ini diharapkan menjadi tempat tumbuhnya solidaritas, inovasi, dan kepemimpinan muda.

Bagi Surabaya, investasi pada pemuda di tingkat kelurahan bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan upaya membangun daya tahan sosial dari akar rumput. Sebuah eksperimen kecil yang hasilnya diharapkan berdampak besar.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *