Bedah buku #Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia baru di Trenggalek menjadi ruang gelisah bersama, saat data, kesaksian, dan imajinasi keberlanjutan bertemu, menampar nalar pembangunan lama yang merusak alam dan martabat manusia.
#Tamparan Air, Sungai, dan Fatamorgana Pembangunan
Catatan ini saya tulis sebagai kesaksian personal atas sebuah forum yang tidak sekadar membedah buku, tetapi membongkar ilusi. #Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia baru menghadirkan tamparan paling telanjang, yaitu krisis air.
Ketika Dandhy Laksono menyebut kualitas air minum Indonesia kalah dari Timor Leste, ironi itu terasa pahit. Negeri yang mengklaim kaya air justru memaksa 60 persen warganya membeli air minum.
Sebagai pegiat lingkungan di Ecoton, saya melihat langsung bagaimana sungai-sungai dikorbankan. Pernyataan jika kita telah “mengorbankan 68 sungai” bukan sekadar angka, melainkan potret kegagalan paradigma.
Pembangunan dipersepsikan harus merusak, seolah kemajuan selalu menuntut tumbal ekologis. Lebih ironis lagi, kerusakan itu tidak berbanding lurus dengan kedaulatan industri. Sungai rusak, udara tercemar, tetapi industri strategis nasional justru tak kita miliki.
Diskusi ini memperjelas bahwa krisis ekologis bukan kecelakaan, melainkan hasil kebijakan terpusat yang seragam. Dari Aceh hingga Papua, jeritannya sama. Benaya Harobu, dengan kejernihan suara dari Timur, menegaskan jarak emosional Jakarta dengan realitas daerah. Sentralisme membuat kontrol lemah, sanksi lamban, dan kearifan lokal terpinggirkan.
#Biodiversity, Ekoteologi, dan Trenggalek sebagai Living Lab
Di tengah kegelisahan itu, Farid Gaban menggeser fokus kita pada kekayaan sejati: biodiversitas. Bukan emas kuning, nikel, atau batu bara, melainkan “emas hijau” yang menyimpan ilmu pengetahuan dan masa depan.
Perspektif ini penting bagi daerah yang kerap minder karena label “miskin”. Justru wilayah yang masih menjaga lingkungan memiliki modal peradaban.
Titik temu yang menarik dari Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin. Mas Ipin tidak bersikap kaku, justu ia menunjukkan sikap egaliter. Ia menawarkan definisi “Reset” yang operasional, birokrasi dengan logika kapital, performa lingkungan, dan jiwa keadilan sosial. Ini bukan jargon, melainkan praktik.
Trenggalek diposisikan sebagai living lab, tempat membuktikan ekonomi bisa tumbuh tanpa membabat hutan.
Bagi saya, ini adalah praktik ekoteologi dalam kebijakan: memuliakan alam bukan sebagai beban, tetapi sebagai fondasi. Ketika biodiversitas ditempatkan sebagai aset, pembangunan menemukan etika barunya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel#Dari Victim Complex ke Imajinasi Kebijakan
Forum ini juga jujur menelanjangi problem internal birokrasi dan pendidikan. Kritik tentang victim complex ASN, korupsi pendidikan, dan pemborosan anggaran rapat mengemuka. Namun, yang penting, diskusi tidak berhenti pada keluhan.
Jawaban konkret muncul pada isu privatisasi air. Dengan PAD terbatas, Mas Ipin menawarkan cross-financing: air gratis bagi rakyat miskin, tetapi menjadi komoditas bagi industri dan kelompok mampu.
Negara berbisnis air, lalu keuntungannya dikembalikan untuk subsidi jaringan air bersih. Ini bentuk keberanian melawan ketergantungan pada pusat, sekaligus menegakkan kedaulatan lokal.
Penutup paling emosional datang dari Yusuf Priambodo yang membacakan surat untuk anaknya. Pesannya sederhana namun dalam: Reset Indonesia adalah maraton antargenerasi. Bukan dengan dendam, bukan dengan caci, melainkan dengan imajinasi dan keberanian mencipta.
Saya pulang dari Trenggalek dengan keyakinan, Indonesia baru tidak lahir dari langit Jakarta. Ia tumbuh dari keberanian daerah, dari sungai yang dirawat, dari birokrasi yang berani berpikir, dan dari warga yang mencintai alam sebagai rumah bersama.
Trenggalek menolak menjadi sepele dan memilih menjadi penanda arah.***

*) Jofan Ahmad Arianto, mahasiswa Fakultas Kesehatan Sains dan Psikologi Universitas Sunan Gresik dan aktif di Ecological Observation dan Wetlands Conservation (Ecoton)