Deforestasi Indonesia pada 2025 meningkat drastis. Data awal menunjukkan kehilangan hutan berkorelasi dengan bencana ekologis di Sumatra serta ekspansi industri ekstraktif.
Angka deforestasi di Indonesia pada 2025 menunjukkan lonjakan signifikan. Data awal yang dipaparkan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi IV DPR mengungkapkan, kehilangan tutupan hutan tahun lalu meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan 2024.
Ketua Yayasan Auriga Nusantara, Timer Manurung, menyampaikan bahwa berdasarkan analisis sementara Auriga, luas deforestasi nasional pada periode Oktober–Desember 2025 mencapai sekitar 417.000 hektare. Angka ini jauh melampaui capaian 2024 yang mencatat kehilangan hutan sekitar 261.000 hektare.
“Peningkatannya dua kali lipat. Ini kemungkinan masih akan bertambah karena kami masih menganalisis data hingga akhir Desember,” ujar Timer saat menghadiri RDPU Panitia Kerja Alih Fungsi Lahan Komisi IV DPR di Jakarta, Senin (26/1/2026).
Menurut Auriga, tren kenaikan deforestasi tidak hanya terjadi secara nasional, tetapi juga terlihat jelas di sejumlah wilayah yang terdampak bencana ekologis besar pada November 2025. Dalam rentang Januari–Oktober 2025, lonjakan deforestasi tercatat di tiga provinsi di Sumatra yang mengalami banjir bandang dan tanah longsor.
“Tiga wilayah terdampak bencana di Sumatra mengalami lonjakan hampir tiga kali lipat,” kata Timer.
Di Aceh, misalnya, luas deforestasi melonjak dari 8.962 hektare pada 2024 menjadi sekitar 278.000 hektare pada 2025. Sumatra Barat yang pada 2024 mencatat deforestasi terendah secara nasional, yakni 6.360 hektare, justru mengalami peningkatan tajam menjadi 280.503 hektare pada 2025.
Lonjakan juga terjadi di Sumatra Utara. Luas deforestasi di provinsi ini mencapai 18.150 hektare, naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 7.203 hektare.
“Lonjakan ini tiga kali lipat, dan kita bisa melihat dampaknya secara nyata pada bencana di Sumatera,” ujar Timer.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 25 Januari 2026, rangkaian bencana ekologis di Pulau Sumatra tersebut menyebabkan lebih dari 1.200 orang meninggal dunia, 142 orang dinyatakan hilang, serta ratusan ribu warga terpaksa mengungsi.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
#Pergeseran Tutupan Lahan dan Dominasi Industri
Selain memaparkan kondisi terkini, Auriga Nusantara juga menyoroti perubahan tutupan lahan jangka panjang di Indonesia. Dalam periode 1990–2024, tutupan vegetasi alami Indonesia mengalami penyusutan signifikan.
Pada 1990, luas vegetasi alami Indonesia tercatat sekitar 151 juta hektare. Dalam kurun 34 tahun, angka ini menyusut sekitar 30 juta hektare. Timer menjelaskan, sekitar 80 persen dari kehilangan tersebut merupakan hutan alam, dengan luas mencapai 23,5 juta hektare.
Penyusutan hutan alam ini beriringan dengan ekspansi sektor industri ekstraktif. Perkebunan kelapa sawit mengalami peningkatan paling mencolok, yakni sebesar 1.270 persen atau hampir 12 kali lipat. Dari hanya 1,3 juta hektare pada 1990, luas perkebunan sawit mencapai sekitar 17,3 juta hektare pada 2024.
Selain itu, kebun kayu seperti eukaliptus dan akasia juga meluas hingga 8.400 persen, dengan total luasan sekitar 2,3 juta hektare. Sebaliknya, sejumlah bentuk pertanian rakyat justru mengalami penyusutan.
“Pertanian lain seperti sawah dan kebun karet berkurang. Banyak lahan masyarakat hilang dan berganti, terutama menjadi kebun sawit, kebun kayu, dan pertambangan,” kata Timer.
Di sisi lain, kawasan permukiman bertambah sekitar 1 juta hektare. Namun, menurut Auriga, pertumbuhan terbesar justru berasal dari aktivitas perusahaan berskala besar.
“Yang membesar itu kegiatan perusahaan. Pertanyaannya, apakah kita akan meneruskan pola ini atau mengaturnya agar lebih terkendali,” ujar Timer.***