Lewati ke konten

Riset Pelajar SMP Muhammadiyah 9 Jakarta Temukan Mikroplastik di Tubuh Manusia

| 5 menit baca |Mikroplastik | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Pers Release Editor: Redaksi

Riset pelajar di Jakarta menemukan mikroplastik pada udara, air minum, daun, hingga kulit manusia selama program lingkungan.

Mikroplastik ditemukan pada udara, air minum, vegetasi, hingga permukaan kulit manusia> Hal ini mengemuka saat para siswa SMP Muhammadiyah 9 Jakarta, melakukan riset di lingkungan sekolah.

Kegiatan yang merupakan bagian dari program Microplastic Journey yang berlangsung 11–25 Mei 2026. Temuan para siswa itu, memperlihatkan bahwa paparan partikel plastik telah menyebar ke ruang belajar.

Program hasil kolaborasi SMP Muhammadiyah 9 Jakarta, Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), serta dukungan Korea Green Foundation itu melibatkan lebih dari 75 siswa yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Mulan Ambassador.

Para peserta mengikuti penelitian sederhana, diskusi, serta kampanye lingkungan dengan fokus pada ancaman mikroplastik.

Riset dilakukan pada delapan media lingkungan. Di  antaranya merepresentasikan aktivitas sehari-hari warga sekolah. Para siswa juga melakukan pengambilan sampel, pengamatan, dan identifikasi partikel mikroplastik dari berbagai objek di sekitar lingkungan sekolah.

Hasil pengamatan menunjukkan, mikroplastik menempel pada permukaan daun di area sekolah. Pada daun bambu ditemukan sekitar 5 partikel per lembar. Sementara pada daun puring jumlahnya jauh lebih tinggi, mencapai 37 partikel per lembar.

Paparan partikel plastik, juga ditemukan pada air minum dalam kemasan dari tiga merek berbeda. Dalam pengujian laboratorium sederhana, siswa mencatat kandungan mikroplastik berkisar 5 hingga 12 partikel per 100 mililiter air.

Temuan lain muncul pada udara sekolah. Di aula atau area indoor, rata-rata ditemukan 24 partikel mikroplastik per jam. Pada area depan sekolah yang terpapar aktivitas luar ruang, jumlahnya meningkat hingga 44 partikel per jam.

Data itu mengindikasikan faktor lalu lintas, debu, serta mobilitas manusia berpotensi memengaruhi kepadatan partikel mikroplastik di udara terbuka.

Penelitian juga mencatat kontaminasi mikroplastik pada sumber air yang digunakan sehari-hari. Air kran wastafel mengandung empat partikel per 100 mililiter. Sementara air toilet mencapai 20 partikel per 100 mililiter.

Pengujian diperluas ke tubuh manusia melalui swab kulit wajah dan tangan. Dari enam responden, kulit wajah menunjukkan rata-rata 9,3 partikel mikroplastik per orang. Pada delapan responden swab kulit tangan, ditemukan sekitar 3,5 partikel per orang.

Pelajar SMP Muhammadiyah 9 Jakarta memperlihatkan temuan partikel mikroplastik hasil penelitian lingkungan melalui pengamatan mikroskop. | Dok Ecoton

Temuan memperlihatkan kemungkinan paparan mikroplastik terjadi melalui kontak udara, air, serta aktivitas rutin manusia.

Wakil Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 9 Jakarta, Choliqul Hairi Darozat, M.E., mengatakan riset lingkungan yang dilakukan para siswa ini penting, sekaligus untuk membangun kesadaran sejak usia pelajar.

“Sekolah harus menjadi ruang belajar dengan basis kepekaan siswa terhadap persoalan lingkungan. Ketika anak-anak melihat sendiri mikroplastik ada di udara, air, dan sekitar tubuh manusia, kesadaran ekologis tumbuh dari pengalaman yang konkret,” kata Hairi yang dikutip TitikTerang, Senin, 25 Mei 2026.

Menurutnya, pendekatan penelitian langsung ini, memberi ruang bagi para siswa untuk membaca masalah lingkungan dengan data, bukan asumsi.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Tentunya ini akan menjadi langkah terbaik. Terhadap lingkungan siswa membaca dengan data, bukan dengan asumsi semata, “ ucapnya.

#Kampanye Pelajar Soroti Plastik Sekali Pakai

Pelajar SMP Muhammadiyah 9 Jakarta sedang membaca materi edukasi lingkungan dalam rangkaian kegiatan penelitian mikroplastik. | Dok Ecoton

Setelah riset selesai, para peserta menyusun strategi kampanye untuk menyebarluaskan hasil temuan kepada warga sekolah. Salah satu agenda penutup berupa kompetisi mading.

Tema mading tentang bahaya mikroplastik menarik perhatian warga sekolah. Melalui kegiatan yang digelar Rabu, 20 Mei 2026, para siswa juga mengampanyekan gaya hidup minim penggunaan plastik sekali pakai sebagai upaya mengurangi ancaman pencemaran mikroplastik.

Sebanyak 12 tim pendamping dari Ecoton terlibat dalam sesi presentasi yang menjadi ruang diskusi bagi pelajar ini. Mereka diminta memaparkan temuan, keresahan, serta usulan solusi lingkungan.

Tema “Everyone is Scientist, Everyone is Activist” menjadi benang merah kegiatan. Para siswa mempresentasikan hubungan antara pencemaran mikroplastik dengan perilaku konsumsi manusia.

Salah satu peserta, Kayla, mengangkat persoalan sampah plastik sekali pakai yang berujung ke laut. Dalam presentasinya, Kayla menyoal penggunaan botol plastik dan kantong plastik. Menurutnya, dua benda ini merupakan faktor yang memperbesar pencemaran laut dan membahayakan biota perairan.

“Saya mengajak masyarakat mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai, membawa tas belanja guna ulang, dan mengedukasi orang-orang di sekitar agar lebih peduli terhadap sampah plastik,” kata Kayla.

Tabel hasil penelitian yang menunjukkan temuan mikroplastik pada berbagai sampel lingkungan dan tubuh manusia. | Sumber: Pelajar SMP Muhammadiyah 9 Jakarta

Peserta lain, Vhicho, lebih pada menyoal mikroplastik dari produk personal care, seperti sabun mandi dan sampo. Ia menjelaskan, partikel mikroplastik dari produk tersebut dapat mengalir ke sungai dan laut. Lalu masuk ke rantai makanan organisme perairan.

“Banyak orang belum sadar bahwa mikroplastik tidak hanya berasal dari sampah besar, tetapi juga dari produk yang dipakai setiap hari,” kata Vhicho.

Setelah rangkaian kegiatan selesai, para siswa mengaku mendapat perspektif baru tentang luasnya penyebaran mikroplastik.

Raihana Ashila Rahman mengatakan pengalaman riset yang ia lakukan bersama teman-temannya, membuka pemahaman bahwa partikel plastik dapat ditemukan sangat dekat dengan kehidupan manusia.

“Saya jadi tahu mikroplastik sudah ada di udara, kulit, dan air minum di sekitar kita. Setelah kegiatan ini saya ingin mengurangi plastik sekali pakai dan mengajak teman-teman melakukan hal serupa,” ujar Raihana.

Program Microplastic Journey memperlihatkan sekolah dapat menjadi ruang penelitian lingkungan yang aktif. Dari pengamatan sederhana hingga kampanye publik, para siswa terlibat dalam proses ilmiah sekaligus penguatan kesadaran ekologis.

Temuan mikroplastik pada udara, air, vegetasi, dan tubuh manusia menjadi pengingat bahwa pencemaran plastik terus bergerak masuk ke ruang hidup sehari-hari.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *