Lewati ke konten

Busa Limbah Rumah Tangga Cemari Kali Tebu Surabaya

| 3 menit baca |Sorotan | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Busa putih limbah domestik mengalir di Kali Tebu Surabaya, membuat ikan mabuk dan tak layak konsumsi, serta mengancam ekosistem sungai hingga pesisir laut.

Aliran Kali Tebu di kawasan Kenjeran, Surabaya, kembali menunjukkan tanda-tanda pencemaran serius. Busa putih tebal tampak mengapung di permukaan sungai, terutama di sekitar pintu air Tambak Wedi, yang merupakan bagian hilir sungai sebelum bermuara ke Teluk Madura.

Fenomena ini diduga kuat berasal dari limbah rumah tangga yang dibuang langsung ke badan sungai tanpa proses pengolahan.

Informasi itu disampaikan Muhamad Subari (62), warga Tambak Wedi yang telah setahun terakhir bermukim di kawasan tersebut. Pensiunan pertanian asal Singosari, Malang, ini mengaku hampir setiap hari menyaksikan kemunculan busa putih di Kali Tebu, terutama pada pagi hari.

“Biasanya muncul antara jam delapan sampai jam sepuluh pagi. Kalau debit air naik, busanya tidak kelihatan. Tapi saat air normal, busa putih tebal muncul di permukaan,” ujar Subari, Selasa (10/2/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung pada biota sungai. Ikan-ikan seperti belanak dan keting terlihat berenang tidak normal, seolah kehilangan keseimbangan.

“Ikannya kelihatan seperti mabuk. Kalau dikonsumsi, bisa bikin pusing,” katanya.

Akibatnya, aktivitas memancing yang sebelumnya cukup ramai di sekitar Kali Tebu kini semakin jarang dilakukan. Warga khawatir ikan hasil tangkapan tidak aman dikonsumsi dan berisiko terhadap kesehatan. Sebagai sungai yang bermuara ke laut, pencemaran di Kali Tebu juga dikhawatirkan membawa dampak lanjutan terhadap ekosistem pesisir dan perairan Teluk Madura.

#Mikroplastik dan Ancaman Kesehatan dari Limbah Domestik

Kekhawatiran terhadap pencemaran Kali Tebu diperkuat hasil penelitian Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton) bersama Komunitas Tolak Plastik (KTP) sekali pakai dan Mupalas pada Jumat, 19 Maret 2021. Penelitian yang saat itu menemukan sebanyak 20 partikel mikroplastik dalam setiap 100 liter air Sungai Tambak Wedi, Surabaya.

Cici Eka Rahayu, anggota KTP, mikroplastik yang ditemukan didominasi jenis fiber, dengan ukuran sekitar 20 mikrometer. Temuan tersebut diperoleh melalui pengamatan menggunakan mikroskop binokuler dengan perbesaran 40 hingga 100 kali.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Mikroplastik jenis fiber berasal dari serpihan tekstil pakaian yang umumnya berbahan polyester. Sumber utamanya dari limbah cair rumah tangga,” jelasnya.

Peneliti mikroplastik Ecoton, Eka Chlara Budiarti, saat itu menambahkan dominasi mikroplastik fiber menunjukkan buruknya pengelolaan limbah domestik di kawasan permukiman.

Berdasarkan pemantauan Ecoton pada Agustus 2022, busa putih dan pencemaran limbah domestik masih terlihat di aliran sungai Tambak Wedi, Surabaya. | Foto: Dok. Ecoton

Limbah cucian dan laundry rumah tangga dibuang langsung ke sungai tanpa melalui sistem penyaringan atau pengolahan. “Limbah domestik tidak memiliki sistem pengolahan, sehingga sisa cucian langsung masuk ke sungai. Itu sebabnya mikroplastik fiber selalu mendominasi temuan di perairan,” ungkap Chlara.

Chlara mengingatkan, mikroplastik memiliki dampak serius terhadap kesehatan manusia. Di dalam mikroplastik terkandung senyawa aditif seperti phthalat, bisphenol A, dan alkil fenol yang bersifat sebagai pengganggu hormon.

“Paparan mikroplastik dapat menyebabkan gangguan sistem reproduksi, penurunan kualitas sperma, hingga menopause dini,” tegasnya.

Padahal Pemerintah Kota Surabaya sendiri  sudah menetapkan sungai ini sebagai badan air Kelas III berdasarkan Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 02 Tahun 2004, dengan peruntukan untuk budidaya ikan air tawar, peternakan, dan pengairan pertanian, dengan persyaratan mutu air tertentu.

Sayang, kondisi busa limbah dan temuan mikroplastik menunjukkan upaya pengendalian pencemaran masih menghadapi tantangan besar, terutama dari limbah rumah tangga yang terus mengalir tanpa pengolahan.

Jika tidak segera ditangani secara menyeluruh, Kali Tebu berisiko terus menanggung beban pencemaran yang berdampak lintas ekosistem, dari sungai hingga laut.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *