Lewati ke konten

Riset Lintas Kampus di Surabaya Ungkap Racun Plastik dalam Tubuh Manusia

| 6 menit baca |Mikroplastik | 25 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Seminar ilmiah di Surabaya memaparkan temuan bahan kimia plastik dalam tubuh manusia. Penelitian lintas kampus menyoroti ancaman mikroplastik bagi kesehatan dan lingkungan.

Auditorium lantai 1 Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya dipenuhi mahasiswa, dosen, dan pegiat lingkungan. Mereka menghadiri seminar bertajuk “Expose Temuan Bahan Kimia: Racun Plastik dalam Darah”, sebuah forum ilmiah yang memaparkan hasil riset mengenai paparan bahan kimia plastik pada manusia di Auditorium, Senin, 9 Maret 2026.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Fakultas Ilmu Keolahragaan – Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang, dan Fakultas Sains dan Teknik – Jurusan Kimia Universitas Bojonegoro, bersama lembaga lingkungan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton).

Dekan Fakultas Kedokteran UKWMS, Herjunianto, membuka diskusi dengan refleksi tentang relasi manusia dan lingkungan. Menurut dia, meningkatnya bencana ekologis tidak bisa lagi dipahami sekadar sebagai peristiwa alam.

“Bersahabatlah dengan alam. Kita sering melihat begitu banyak bencana lalu mengatakan itu karena hujan deras. Padahal, sering kali karena kita sendiri yang membuatnya,” ujar dekan yang mulai aktif menjabat 2025 ini.

Dokter yang aktif dalam pengembangan riset stem cell ini menilai, isu mikroplastik tidak hanya relevan bagi disiplin ilmu kesehatan, tetapi juga bidang lain. Ia berharap riset ini melibatkan lintas fakultas, mulai dari filsafat, psikologi, farmasi, hingga keperawatan, agar persoalan lingkungan dipahami secara lebih luas.

Menurut dia, simbol-simbol visual seperti patung instalasi bertema plastik yang dipasang dalam kegiatan ini menjadi pengingat bahwa partikel mikroplastik yang tampak kecil sebenarnya dapat menyebar luas dan berdampak panjang.

“Kampus harus menjadi ruang lahirnya pengetahuan sekaligus solusi. Kalau kita memahami masalahnya secara ilmiah, kita juga punya tanggung jawab mencari jalan keluarnya,” kata Herjunianto.

Penandatanganan perjanjian kerja sama antara Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya dan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) di Surabaya, Senin (9/3/2026). Kesepakatan ditandatangani oleh Direktur Ecoton Daru Setyorini bersama Dekan Fakultas Kedokteran Herjunianto sebagai bentuk kolaborasi riset dan edukasi terkait dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia. | Foto: Com-Ecoton

#Mikroplastik: Dari Sungai hingga Tubuh Manusia

Pendiri Ecological Observation and Wetlands Conservation, Prigi Arisandi, memaparkan perjalanan penelitian lembaganya sejak berdiri pada 1996. Awalnya Ecoton berfokus pada ekosistem sungai dan lahan basah, namun sejak 2017 mereka menaruh perhatian serius pada mikroplastik.

“Kami ini berlatar belakang saintis. Karena itu kami mencoba membuktikan sendiri bagaimana lingkungan kita berubah,” kata Prigi.

Saat menyampaikan perjalanan panjangnya mendirikan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Prigi Arisandi mengungkapkan kenangan ekologis kawasan tempat berdirinya Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Ia menyebut, pada masa lalu wilayah tersebut masih banyak ditumbuhi mangrove.

Peraih Goldman Environmental Prize 2011 itu mengatakan perubahan lanskap kota menunjukkan bagaimana tekanan pembangunan perlahan menggeser ekosistem alami.

Dalam berbagai upaya advokasi lingkungan di Surabaya, ia juga pernah bekerja sama dengan mantan Wali Kota Tri Rismaharini, yang memimpin kota itu pada periode 2010–2015 dan 2016–2020.

Prigi menjelaskan, penelitian Ecoton menemukan berbagai polutan di ekosistem pesisir dan sungai, termasuk akumulasi logam berat. Ekosistem mangrove, menurut dia, memang memiliki kemampuan menyerap berbagai zat berbahaya dari lingkungan, tetapi kemampuan alam tersebut memiliki batas.

“Ekosistem seperti mangrove sangat penting bagi evolusi lingkungan. Tapi ternyata kandungan logam berat di beberapa wilayah sudah cukup tinggi,” ujarnya.

Masalahnya, lanjut Prigi, banyak masyarakat yang masih bergantung pada air sungai untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Ia memperkirakan sekitar 50 persen sumber air minum masyarakat berasal dari sungai.

Temuan lain yang disorot adalah konsumsi mikroplastik oleh manusia. Berdasarkan berbagai penelitian global, rata-rata manusia dapat mengonsumsi mikroplastik setara dengan empat kartu ATM setiap pekan.

Sumbernya beragam, mulai dari makanan laut, air minum, hingga wadah plastik sekali pakai yang terkena panas. Prigi mencontohkan penggunaan gelas plastik untuk minuman panas yang dapat melepaskan partikel mikroplastik berukuran sangat kecil.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Tujuan kami sederhana, agar masyarakat sadar dan mengurangi penggunaan plastik yang berpotensi melepaskan mikroplastik,” kata dia.

Prigi juga menekankan bahwa gerakan lingkungan tidak bisa hanya dilakukan segelintir aktivis. “Di era plastik ini, semua orang harus menjadi aktivis sekaligus saintis. Semua orang perlu terlibat.”

Suasana seminar “Expose Temuan Bahan Kimia: Racun Plastik dalam Darah” tampak gayeng dengan diskusi aktif antara mahasiswa, dosen, dan pegiat lingkungan di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya | Foto: Ecoton

#Produksi Plastik dan Risiko Kesehatan

Sementara itu Direktur Ecoton, Daru Setyorini menilai ancaman mikroplastik kini telah masuk ke berbagai aspek kehidupan manusia. Ia menyebut akar persoalan berada pada industri global berbasis minyak bumi yang terus memproduksi plastik dalam jumlah besar.

“Negara-negara besar seperti Cina, India, dan Arab terus memproduksi plastik. Produksi ini tidak mungkin berhenti dalam waktu dekat,” kata Doktor Universitas Brawajya Malang ini.

Menurut Daru, produksi besar-besaran memicu konsumsi yang juga berlebihan. Ketika industri tidak menekan produksinya, masyarakat perlu mulai menolak plastik sekali pakai.

Ia menilai institusi pendidikan, mulai dari sekolah hingga universitas—memiliki peran penting dalam mendorong perubahan perilaku sekaligus regulasi publik.

“Masalahnya bukan hanya sampah. Plastik membawa senyawa kimia yang dapat mengganggu hormon manusia,” ujarnya.

Senyawa yang dikenal sebagai endocrine disruptors itu dapat memengaruhi sistem biologis tubuh, termasuk metabolisme dan fungsi reproduksi. Daru menilai solusi sebenarnya sudah tersedia, bahkan berasal dari tradisi lama masyarakat Indonesia yang terbiasa hidup dengan pola konsumsi minim sampah.

“Tradisi kita dulu sebenarnya sangat ramah lingkungan. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menghidupkan kembali praktik itu,” kata dia.

Dosen Universitas Negeri Malang Muhammad Al Irsyad menjelaskan tren penelitian mahasiswa tentang mikroplastik semakin berkembang dalam dua tahun terakhir, seiring keterlibatan mereka dalam riset di Ecoton. | Dok Ecoton

#Mahasiswa Mulai Tertarik Meneliti Mikroplastik

Dosen Universitas Negeri Malang, Muhammad Al Irsyad, yang turut mendampingi mahasiswa dalam program magang di Ecoton, mengatakan minat mahasiswa terhadap isu mikroplastik mulai meningkat dalam dua tahun terakhir.

“Tahun ini kami melihat peningkatan ketertarikan mahasiswa untuk meneliti mikroplastik,” katanya.

Beberapa penelitian mahasiswa bahkan mulai mengaitkan mikroplastik dengan kerusakan lingkungan hingga potensi gangguan kesehatan manusia, termasuk dampaknya terhadap sistem pencernaan.

Menurut Irsyad, tantangan terbesar adalah membangun kesadaran publik. Istilah mikroplastik masih terdengar teknis bagi sebagian masyarakat, sehingga diperlukan pendekatan edukasi yang lebih sederhana.

“Semoga apa yang dipelajari mahasiswa di sini bisa dibawa kembali ke kampus dan menjadi bahan pembelajaran yang bermanfaat,” ujarnya.

Seminar itu pun berakhir dengan diskusi terbuka antara mahasiswa, peneliti, dan dosen. Di tengah meningkatnya produksi plastik global, forum seperti ini menjadi penting, karena sekaligus pengingat bahwa persoalan mikroplastik tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga kesehatan manusia di masa depan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *