Ukuran serpihan plastik menentukan dampaknya bagi tubuh. Partikel sangat kecil dalam skala mikron dapat menembus darah dan memicu peradangan hingga stres oksidatif.
Mikroplastik selama ini dikenal sebagai serpihan plastik yang berukuran kurang dari lima milimeter. Batas ukuran tersebut banyak digunakan dalam penelitian lingkungan untuk mengelompokkan fragmen plastik yang terbentuk dari pelapukan benda plastik lebih besar.
Namun dalam kajian kesehatan manusia, ukuran itu belum sepenuhnya menggambarkan tingkat risiko partikel plastik terhadap tubuh.
Dr. Yudhiakuari Sincihu, dr., M.Kes., FISPH., FISCM, pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya menjelaskan, mikroplastik berukuran milimeter umumnya belum mampu menembus sistem peredaran darah manusia. Partikel plastik itu biasanya hanya melewati saluran pencernaan.
Menurut dia, ketika plastik berukuran relatif besar tertelan bersama makanan atau minuman, partikel itu akan melewati mulut, lambung, dan usus. Akan tetapi ukurannya masih terlalu besar untuk menembus lapisan jaringan menuju pembuluh darah.
“Masuk ke dalam mulut, di usus, biasanya tidak bisa tembus ke darah kalau ukurannya masih milimeter,” ujar Yudhi dalam sesi wawancara saat “Expose Temuan Bahan Kimia: Racun Plastik dalam Darah, “ di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya pada Senin, 9 Maret 2026.
Masalah muncul ketika ukuran partikel menjadi jauh lebih kecil, yakni dalam skala mikron. Satu mikron setara dengan seperseribu milimeter. Pada ukuran ini, partikel plastik menjadi sangat kecil sehingga dapat melewati berbagai penghalang biologis tubuh.
Peneli yang focus persolan mikroplastik ini, juga menjelaskan, ukuran sekitar lima mikron menjadi batas penting dalam memahami potensi mikroplastik masuk ke dalam sistem sirkulasi manusia. Perbandingan ini dapat dilihat dari ukuran sel darah merah.
“Sel darah kita, eritrosit, itu kira-kira delapan mikron. Nah, kalau partikel plastik sekitar lima mikron atau kurang, kemungkinan dia bisa masuk ke dalam darah,” kata pria yang biasa disapa Dokter Yudhi ini.
Partikel yang sangat kecil dapat menembus tubuh melalui beberapa jalur. Salah satunya melalui sistem pernapasan. Mikroplastik yang terhirup bersama udara dapat mencapai alveoli, yaitu kantung udara kecil di paru-paru tempat pertukaran oksigen berlangsung.
Membran alveoli sangat tipis agar oksigen mudah masuk ke pembuluh darah. Namun sifat ini juga membuat partikel yang sangat kecil berpotensi melewatinya.
Selain melalui paru-paru, mikroplastik juga dapat masuk melalui sistem pencernaan. Dinding usus memiliki penghalang biologis yang berfungsi menyerap nutrisi, tetapi partikel berukuran mikron dapat melintasi lapisan tersebut.
“Lewat hidung bisa sampai alveoli, lewat usus juga bisa menembus barrier usus. Kalau ukurannya kecil, semuanya bisa masuk ke dalam darah,” ujarnya.
Begitu berada dalam sistem peredaran darah, partikel mikroplastik berpotensi menyebar ke berbagai organ tubuh. Aliran darah menjangkau hampir seluruh jaringan manusia.
Menurut Yudhiakuari, mikroplastik yang sudah berada di dalam sirkulasi dapat terbawa menuju otak, jantung, ginjal, hati, hingga pankreas. Bahkan, partikel tersebut berpotensi mencapai jaringan yang berkaitan dengan perkembangan janin.
“Kalau sudah masuk ke dalam darah, dia bisa ke mana-mana—ke otak, jantung, ginjal, liver, pankreas, semuanya,” kata dia.

#Dari Peradangan Hingga Stres Oksidatif
Ketika mikroplastik berada di dalam jaringan tubuh, sistem imun akan merespons kehadiran partikel asing tersebut. Respons awal biasanya berupa peradangan.
Masih menurut Yudhi, tubuh memiliki berbagai sel pertahanan yang akan berusaha menghancurkan benda asing. Sel-sel inflamasi seperti neutrofil dan makrofag akan dikerahkan untuk menyerang partikel plastik yang masuk.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Berbeda dengan bakteri atau virus, plastik merupakan material yang sangat stabil secara kimia. Akibatnya, mikroplastik sulit dihancurkan oleh mekanisme biologis tubuh.
“Tubuh mencoba menghancurkan, tetapi tidak bisa,” ujar dokter yang pernah melakukan penelitian Respons Neuron Hipokampus Tikus Wistar terhadap Mikroplastik Polietilena Berdensitas Rendah ini.
Ketika upaya penghancuran tidak berhasil, sel-sel imun tetap aktif dan memicu reaksi peradangan. Aktivitas ini dapat menghasilkan molekul oksigen reaktif yang dikenal sebagai radikal bebas.
Radikal bebas terbentuk ketika molekul kehilangan elektron sehingga menjadi sangat reaktif. Molekul ini kemudian bereaksi dengan komponen lain dalam sel.
Akibatnya, berbagai bagian sel tubuh dapat mengalami kerusakan. Dinding sel bisa rusak, organel penting seperti mitokondria terganggu, dan inti sel yang menyimpan materi genetik juga dapat terdampak.
“Selnya menjadi stres. Itu yang disebut stres oksidatif,” tandas Yudhi.
Kerusakan pada tingkat sel sering kali tidak langsung menimbulkan gejala. Jika hanya satu atau dua sel yang mati, tubuh biasanya masih mampu menggantinya.
“Satu sel mati, tidak ada gejala. Dua sel mati, juga tidak terasa,” ujarnya.
Namun kerusakan yang berlangsung terus-menerus dapat menumpuk. Ketika jumlah sel yang rusak semakin banyak, fungsi organ mulai terganggu.
Sebagai contoh, kerusakan pada sel hati dapat memengaruhi produksi enzim penting dalam metabolisme. Jika pankreas yang terdampak, produksi hormon seperti insulin dapat terganggu sehingga berpotensi memicu diabetes.
Gangguan serupa juga dapat terjadi pada organ lain. Kerusakan pada sel jantung dapat berkontribusi terhadap gangguan fungsi jantung, sementara kerusakan pada ginjal dapat memengaruhi kemampuan organ tersebut menyaring zat sisa dari darah.
Dalam beberapa kondisi, sel tubuh berusaha beradaptasi terhadap tekanan lingkungan yang terus terjadi. Namun perubahan tersebut tidak selalu berjalan sempurna.
“Kadang sel mencoba berubah agar bisa bertahan, tetapi perubahan itu bisa gagal. Dari situ bisa terpicu pembentukan tumor,” kata Yudhi.
Karena itu, ia menilai pemahaman masyarakat tentang mikroplastik perlu diperluas. Bukan hanya melihat batas ukuran lima milimeter, tetapi juga memperhatikan partikel yang jauh lebih kecil dalam skala mikron.
Partikel yang hampir tak terlihat itulah yang memiliki peluang lebih besar menyusup ke dalam sistem tubuh manusia dan memicu berbagai proses biologis yang kompleks.***