Lewati ke konten

Studi Kolaborasi Ecoton: Mikroplastik Menembus Sistem Biologis Tubuh Manusia

| 6 menit baca |Mikroplastik | 13 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus

Kolaborasi riset Ecoton dan Institut Teknologi Bandung mengungkap partikel plastik berukuran nanometer dalam darah dan sperma, memicu kekhawatiran dampak kesehatan serius jangka panjang manusia.

Tim Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bekerja sama dengan Scientific Imaging Centre (SIC) di Institut Teknologi Bandung untuk memastikan keberadaan partikel plastik dalam tubuh manusia. Pengujian dilakukan menggunakan teknologi Scanning Electron Microscope (SEM), alat dengan kemampuan resolusi hingga 10 nanometer.

Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti menjelaskan, penggunaan SEM memungkinkan identifikasi partikel dengan ukuran yang jauh lebih kecil dibandingkan metode sebelumnya.

“Dengan menggunakan SEM, kami menemukan nanoplastik dalam darah dan sperma dengan ukuran 200 hingga 800 nanometer,” ujar Rafika dalam keterangannya pada Jumat, 10 April 2026.

Menurut Rafika, temuan ini menandai fase baru dalam penelitian pencemaran plastik. Selama ini, fokus riset lebih banyak tertuju pada mikroplastik. Skala nanoplastik membuka dimensi baru karena ukurannya memungkinkan penetrasi lebih dalam ke jaringan biologis.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa pencemaran plastik telah mencapai tingkat yang lebih dalam, hingga masuk ke sistem biologis manusia, ” jelas Rafika.

Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, mengamati hasil pemindaian Scanning Electron Microscope pada jaringan sperma manusia yang menunjukkan keberadaan nanoplastik berukuran sekitar 400 nanometer. | Dok Ecoton

Ketua tim yang juga pendiri Ecoton, Prigi Arisandi menegaskan, fasilitas di SIC diperlukan untuk mengonfirmasi temuan tersebut. “Ukuran partikel yang masuk ke dalam darah sangat kecil, sehingga tidak bisa diperiksa dengan peralatan biasa,” kata Prigi dalam keterangannya setelah melakukan uji di Gedung CRiMSE ITB Kampus Ganesha, Bandung.

SEM tidak hanya mengukur ukuran partikel, tetapi juga mampu mengidentifikasi unsur penyusun material. Hal ini penting untuk memastikan bahwa partikel yang ditemukan benar-benar berasal dari plastik, bukan kontaminan lain.

“Ini menjadi peringatan kalau paparan plastik telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan bagi kesehatan manusia, ” ucap Prigi.

#Skala Mikro hingga Nano dalam Tubuh

Ukuran menjadi kunci memahami ancaman partikel plastik. Satu nanometer setara dengan satu per satu juta milimeter. Sebagai perbandingan, diameter rambut manusia berkisar 0,1 milimeter. Artinya, nanoplastik memiliki ukuran sekitar 1 per 100 ribu dari diameter rambut.

Sel darah merah atau eritrosit memiliki diameter rata-rata sekitar 7,2 mikrometer. Ukuran tersebut jauh lebih besar dibandingkan nanoplastik yang ditemukan dalam penelitian ini. Dengan skala yang sangat kecil, partikel mampu bergerak bebas dalam aliran darah dan berinteraksi langsung dengan sel.

Darah: Visualisasi menggunakan Scanning Electron Microscope memperlihatkan partikel nanoplastik tersebar di antara struktur sel darah. Temuan ini menegaskan keberadaan kontaminan plastik berukuran sangat kecil dalam sistem peredaran manusia. | Dok Ecoton

Definisi mikroplastik mencakup partikel dengan ukuran di bawah 5 milimeter hingga 1 mikrometer. Nanoplastik berada satu tingkat lebih kecil dari itu, sehingga potensi penetrasi biologisnya lebih tinggi.

Temuan Ecoton ini juga menunjukkan variasi bentuk partikel. Jenis yang teridentifikasi meliputi fiber atau serat serta fragmen pecahan plastik. Sumbernya diduga berasal dari degradasi plastik sekali pakai serta serat sintetis dari tekstil.

Data tambahan dari berbagai penelitian internasional memperkuat temuan tersebut. Rata-rata ditemukan sekitar sembilan partikel mikroplastik per mililiter darah manusia. Kontaminasi bahkan terdeteksi dalam seluruh sampel cairan ketuban pada beberapa studi.

Komposisi polimer menunjukkan dominasi polyethylene sebesar 32 persen, diikuti poliester 28 persen, dan polyisobutylene 24 persen. Poliester yang banyak digunakan dalam pakaian sehari-hari menjadi salah satu sumber utama paparan.

#Risiko Biologis dan Ancaman Kesehatan

Sejumlah penelitian global mulai mengungkap dampak biologis dari keberadaan partikel plastik dalam tubuh. Studi yang dipimpin Longxiao Liu dari School of Public Health, Hangzhou Medical College, yang dipublikasikan dalam jurnal Toxic pada Oktober 2025, menunjukkan efek serius pada sistem darah.

Penelitian tersebut menemukan bahwa nanoplastik dapat memicu hemolisis atau pecahnya sel darah merah. Selain itu, partikel plastik juga meningkatkan aktivitas pro-koagulan, yang berpotensi memicu pembekuan darah abnormal.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Interaksi antara partikel plastik dan membran sel menjadi perhatian utama. Partikel dengan ukuran sangat kecil mampu menempel dan mengganggu fungsi seluler. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memicu inflamasi kronis.

“Nanoplastik dalam darah menunjukkan mekanisme biologis yang konsisten dengan risiko gangguan kardiovaskular,” tulis Liu dalam publikasinya.

Hubungan langsung dengan penyakit seperti stroke masih dalam tahap penelitian. Bukti yang ada bersifat indikatif, belum menunjukkan hubungan sebab akibat secara pasti. Meski begitu, pola mekanisme yang ditemukan memperkuat kekhawatiran para peneliti.

Selain sistem peredaran darah, dampak juga mengarah pada sistem imun. Paparan jangka panjang berpotensi melemahkan respons imun akibat peradangan kronis yang terus berlangsung.

Ancaman lain muncul pada sistem reproduksi. Temuan nanoplastik dalam sperma membuka kemungkinan dampak terhadap kualitas genetik. Kontaminasi dalam cairan ketuban juga menunjukkan potensi paparan lintas generasi.

Sperma: Citra hasil pemindaian Scanning Electron Microscope menunjukkan partikel nanoplastik berbentuk fragmen dan serat terdeteksi dalam sampel sperma manusia. Ukuran partikel berkisar ratusan nanometer, mengindikasikan potensi paparan hingga sistem reproduksi. | Dok Ecoton

#Sumber Paparan dan Upaya Mitigasi

Penelitian terbaru Ecoton belum mengkaji dampak kesehatan pada subyek yang ditemukan mengandung partikel plastik dalam darah. Peneliti, Lestari Sudaryanti dari FK Universitas Airlangga, Surabaya menyatakan, riset lanjutan akan menyoroti kemungkinan fragmentasi DNA akibat cemaran tersebut.

“Keberadaan plastik dalam darah ini yang saya khawatirkan adalah memicu fragmentasi DNA. Stres oksidatif dapat merusak integritas membran darah,” kata Lestari.

Paparan plastik dalam tubuh manusia terjadi melalui berbagai jalur. Konsumsi makanan dan minuman terkontaminasi, penggunaan plastik sekali pakai, serta serat sintetis dari pakaian menjadi sumber utama.

Serat poliester yang terlepas saat proses pencucian dapat masuk ke lingkungan, kemudian kembali melalui rantai makanan dan udara. Plastik sekali pakai yang terurai menjadi partikel kecil turut menyumbang paparan dalam skala luas.

Ecoton menilai situasi ini memerlukan respons sistemik. Upaya paling realistis dimulai dari pengurangan plastik sekali pakai. Perubahan perilaku individu berperan penting dalam menekan paparan sehari-hari.

Langkah mitigasi yang disarankan meliputi penggunaan tas belanja guna ulang, membawa botol minum pribadi, serta mengurangi pakaian berbahan sintetis.

Nanoplastik ditemukan dalam darah dan sperma manusia, berukuran sangat kecil hingga mampu menembus jaringan biologis. Temuan ini memicu kekhawatiran risiko kesehatan jangka panjang yang masih terus diteliti. | Desain AI

Dalam hal ini Prigi menegaskan, persoalan ini berkaitan langsung dengan kesehatan publik. “Paparan plastik sudah masuk ke tubuh manusia. Ini membutuhkan perhatian serius dari semua pihak,” ujarnya.

Temuan ini melibatkan sejumlah peneliti dari Ecoton dan kolaborator, antara lain Lestari Sudaryanti, staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; Daru Setyorini, Direktur Ecoton; Rafika Aprilianti; Sofi Azilan Aini; Tasya Husna; Prigi Arisandi; serta Sri Astika, mahasiswa Biologi Universitas Negeri Surabaya.

Temuan mereka menambah bukti bahwa plastik telah melampaui batas yang sebelumnya dianggap aman. Partikel berukuran sangat kecil kini terdeteksi dalam sistem biologis manusia, membawa konsekuensi yang masih terus diteliti.

Kesimpulan sementara menunjukkan ancaman plastik tidak lagi terbatas pada pencemaran lingkungan. Tubuh manusia telah menjadi bagian dari siklus tersebut, sehingga penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami dampak jangka panjang secara lebih komprehensif.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *