Surabaya meluncurkan program pengendalian sampah sungai berbasis kolaborasi warga, pemerintah, dan NGO untuk menekan pencemaran laut plastik.
Surabaya menjadi kota pertama peluncuran Program Pengelolaan Sampah Plastik Sungai pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Program ini difokuskan untuk mengurangi aliran sampah plastik dari sungai menuju laut melalui penguatan kerja sama antara pemerintah, komunitas lingkungan, dan warga bantaran sungai.
“Saya pertama terima kasih ya dari seluruh kementerian, KLHK, Kemenko Pangan, dan seluruh kementerian yang lain. Surabaya ditunjuk menjadi salah satu lokasi soft launching terkait dengan operasionalisasi sampah plastik, dan di Hari Lingkungan ini dilakukan di Surabaya,” kata Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Muhamad Fikser, pada Jumat, (3/6/2026)
Peluncuran dilakukan pada Jumat itu dengan melibatkan Pemerintah Kota Surabaya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kemenko Pangan, UNDP Indonesia, Tim Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah Plastik Laut (TKN PSL), Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton), Lohjinawi, akademisi, dan sektor swasta.
Dua lokasi yang menjadi pusat implementasi adalah Kali Tebu dan Kali Mrutu. Kawasan tersebut selama beberapa tahun terakhir dikenal sebagai titik dengan tekanan pencemaran sampah domestik yang cukup tinggi.
“Surabaya ditunjuk menjadi salah satu lokasi soft launching terkait dengan operasionalisasi sampah plastik,” ucapnya.
Penunjukan Surabaya dinilai bukan tanpa alasan. Kota ini selama beberapa tahun terakhir aktif menjalankan berbagai program pengurangan sampah, termasuk penguatan bank sampah, pengelolaan sampah rumah tangga, dan pengawasan kawasan sungai perkotaan.
Namun, peluncuran program baru ini juga memperlihatkan fakta lain. Sungai di kawasan perkotaan masih menjadi jalur utama kebocoran sampah plastik menuju pesisir laut utara Jawa Timur.

#Satu Ton Sampah Diangkat Setiap Hari
Pemerintah Kota Surabaya mencatat sekitar satu ton sampah plastik diangkat setiap hari dari Kali Tebu dan Kali Mrutu. Proses pengangkatan dilakukan oleh pegiat lingkungan dari Ecoton dan Lohjinawi secara rutin.
“Satu hari 1 ton sampah plastik yang kemudian diambil oleh teman-teman Ecoton maupun Lohjinawi,” ujar Fikser.
Besarnya volume sampah tersebut menunjukkan tingginya tekanan limbah rumah tangga terhadap aliran sungai. Sebagian besar sampah terdiri atas plastik sekali pakai, botol minuman, kemasan makanan, hingga limbah domestik yang terbawa arus.
Kondisi itu memperlihatkan bahwa persoalan sampah di Surabaya belum sepenuhnya selesai di tingkat sumber. Sungai masih menjadi ruang pelarian tercepat bagi sampah yang tidak tertangani.
Program pengelolaan sampah sungai kemudian diarahkan bukan hanya untuk membersihkan badan air. Pemerintah kota juga mencoba membangun pola edukasi kepada masyarakat sekitar bantaran sungai.
Fikser menyebut dukungan pemerintah kota diberikan dalam bentuk fasilitas lapangan dan penguatan operasional komunitas lingkungan. Menurut dia, Wali Kota Surabaya meminta seluruh kebutuhan program mendapat dukungan penuh.
“Kita tidak hanya ambil sampah, tapi ada edukasi kepada warga di sekitar untuk menjaga lingkungan,” katanya.
Di lapangan, edukasi dilakukan melalui pendekatan langsung kepada warga. Masyarakat diajak memahami dampak sampah plastik terhadap kesehatan sungai dan ancaman pencemaran laut.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelKali Tebu dan Kali Mrutu dipilih karena berada di kawasan padat permukiman. Dua sungai ini juga menjadi bagian dari jalur air yang bermuara ke wilayah pesisir Surabaya.
#Sampah Diolah Menjadi Nilai Ekonomi
Program ini juga memperlihatkan pendekatan lain dalam pengelolaan sampah sungai. Sampah yang berhasil diangkat tidak langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir, tetapi dipilah kembali berdasarkan jenis materialnya.
Warga sekitar dilibatkan dalam proses pemilahan, pengemasan, hingga distribusi sampah plastik yang masih memiliki nilai jual. Model tersebut membuka peluang kerja baru bagi masyarakat sekitar sungai.
“Dari hasil sampah yang diambil, dilakukan pemilahan dengan memanfaatkan warga lokal,” ujar Fikser.
Sebagian warga kini bekerja bersama Ecoton dan Lohjinawi untuk menyortir sampah plastik sebelum dijual kembali. Sampah yang telah dipilah kemudian dipacking dan didistribusikan ke pengepul maupun industri daur ulang.
Skema tersebut mulai memperlihatkan pendekatan ekonomi sirkular dalam pengelolaan lingkungan. Sampah tidak lagi hanya dipandang sebagai limbah, tetapi juga material yang dapat diproses kembali.

Meski demikian, tantangan terbesar tetap berada pada perubahan perilaku masyarakat. Volume sampah yang terus muncul setiap hari menunjukkan bahwa konsumsi plastik sekali pakai masih tinggi.
Sejumlah pegiat lingkungan menilai pembersihan sungai tidak akan cukup tanpa pengurangan produksi sampah dari rumah tangga dan kawasan komersial. Pengawasan terhadap sumber pencemar juga dinilai perlu diperkuat.
#Surabaya Diproyeksikan Jadi Kota Percontohan
Koordinator Sekretariat Tim Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Ahmad Bahri Rambe, mengatakan program tersebut merupakan hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Uni Emirat Arab yang dijalankan bersama UNDP.
Menurut Ahmad, UNDP ditunjuk sebagai implementing agency untuk memastikan pelaksanaan program berjalan di berbagai wilayah prioritas. Selain Surabaya, program serupa dijalankan di Sidoarjo, Bekasi, Surakarta, dan Bali.
Namun Surabaya menjadi kota pertama yang melakukan peluncuran resmi. Pemerintah pusat berharap model yang dijalankan di Surabaya dapat diterapkan di daerah lain.
“Harapannya nanti Surabaya menjadi kota percontohan di antara lima tadi,” kata Ahmad.
Penunjukan Surabaya sebagai kota percontohan menjadi ujian bagi efektivitas pengelolaan sampah berbasis sungai. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya sampah yang diangkat, tetapi juga kemampuan menekan aliran limbah dari sumbernya.
Di tengah meningkatnya ancaman pencemaran plastik laut, sungai kini menjadi titik krusial pengendalian lingkungan perkotaan. Dari Kali Tebu dan Kali Mrutu, Surabaya sedang diuji untuk membangun model penanganan sampah yang tidak berhenti pada pembersihan, tetapi juga menyentuh perubahan perilaku dan keterlibatan warga secara langsung.***