- PBB mengingatkan eksplorasi Bulan berpotensi memicu krisis sampah antariksa yang mengancam Bumi dan keberlanjutan orbit.
- Lebih 140 juta serpihan sampah antariksa mengorbit Bumi, PBB mendesak eksplorasi Bulan mengutamakan keberlanjutan lingkungan global.
- Misi Bulan semakin masif, PBB mengingatkan polusi antariksa dapat berdampak pada atmosfer, ozon, dan ekosistem Bumi.
- PBB menyerukan tata kelola antariksa berkelanjutan agar perlombaan eksplorasi Bulan tidak mengorbankan masa depan Bumi bersama.
- Sampah antariksa terus bertambah, PBB meminta seluruh negara bertanggung jawab menjaga lingkungan Bumi dan ruang angkasa bersama.
PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan kepada seluruh negara dan pelaku industri luar angkasa agar gelombang baru eksplorasi Bulan tidak mengorbankan kelestarian lingkungan Bumi maupun keberlanjutan ruang angkasa. Seruan ini disampaikan di tengah meningkatnya marak misi antariksa yang melibatkan berbagai negara dan perusahaan swasta.
Pejabat Senior Program Lingkungan PBB (UNEP), Jason Jabbour, menegaskan bahwa setiap peluncuran roket menyisakan jejak lingkungan yang dampaknya sering kali baru terasa setelah bertahun-tahun.
“Puluhan tahun aktivitas antariksa yang berkembang pesat menunjukkan bahwa setiap peluncuran memiliki jejak lingkungan. Karena itu, sangat penting mempertimbangkan aspek keberlanjutan sejak tahap awal perencanaan program,” ujar Jabbour dalam keterangan resmi yang dikutip UN News, 20 Juli 2026.
#Eskalasi Sampah Antariksa dan Polusi Atmosfer
PBB mencatat bahwa keberadaan sampah antariksa (space debris) telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan:
- 140 Juta Serpihan Orbit: Diperkirakan terdapat lebih dari 140 juta serpihan berukuran di atas 1 milimeter yang mengorbit Bumi. Sebagian besar tidak dapat dilacak, namun memiliki daya rusak tinggi terhadap satelit dan wahana antariksa.
- Risiko Re-entry Satelit: Ketika satelit atau bagian roket yang telah habis masa operasinya terbakar di atmosfer, material tersebut melepaskan logam seperti aluminium, litium, dan tembaga. Pelepasan ini diduga berpotensi merusak lapisan ozon, memicu perubahan komposisi atmosfer, hingga memengaruhi pembentukan awan.
- Bahaya Fisik di Bumi: Sebagian komponen tahan panas dari ratusan ton sampah antariksa yang jatuh setiap tahun tidak terbakar habis dan berisiko menghantam daratan maupun ekosistem laut.
- Peningkatan Kecerahan Langit Malam: Partikel mikroskopis hasil benturan antar-sampah antariksa mulai meningkatkan tingkat kecerahan langit malam secara global.
#Peran Vital Bulan dan Perlombaan Misi Antariksa
Momentum Peringatan Hari Bulan Internasional setiap 20 Juli dimanfaatkan PBB untuk mengingatkan kembali peran krusial satelit alami tersebut. Selain menjadi objek penelitian asal-usul Tata Surya, gaya gravitasi Bulan sangat vital dalam mengendalikan pasang surut laut, membantu oksigenasi perairan pesisir, serta menjaga keberlangsungan ekosistem laut global seperti Great Barrier Reef.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelDi sisi lain, intensitas eksplorasi Bulan meningkat pesat melalui berbagai program besar:
- Program Artemis (NASA): Menargetkan kehadiran manusia secara berkelanjutan di Bulan pada dekade 2030-an.
- Aktor Negara & Swasta: Negara-negara seperti China, India, dan Jepang, serta berbagai korporasi swasta, tengah aktif menguji coba dan meluncurkan wahana antariksa mereka sendiri.
#Penguatan Tata Kelola Antariksa Berkelanjutan
Menanggapi potensi krisis lingkungan luar angkasa, negara-negara anggota PBB telah menyepakati sejumlah pedoman mitigasi, antara lain:
- Membatasi limbah peluncuran dan mencegah ledakan satelit secara sengaja.
- Memastikan pemindahan satelit dan badan roket yang sudah purna tugas dari orbit secara aman.
- Penegakan Konvensi Tanggung Jawab PBB 1972, yang menetapkan bahwa negara peluncur bertanggung jawab penuh atas kerusakan fisik yang disebabkan oleh objek antariksa mereka di Bumi.
Guna memperkuat kerangka regulasi masa depan, UNEP kini menjalin kerja sama erat dengan Kantor PBB untuk Urusan Antariksa Luar (UNOOSA) untuk mengkaji dampak lingkungan secara komprehensif. PBB menegaskan bahwa perlindungan lingkungan Bumi dan ruang angkasa harus dijadikan prioritas utama dalam setiap rencana eksplorasi antariksa modern.***