Lewati ke konten

Riset Mahasiswa Unesa: Komunitas Plankton Berubah, Oksigen Kali Surabaya Kritis

| 8 menit baca |Highlight | 22 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus

Kualitas ekologis Kali Surabaya terus tertekan. Riset mahasiswa menemukan perubahan plankton hingga penurunan oksigen dari kawasan pertanian menuju perkotaan.

Penelitian mahasiswa yang dipresentasikan dalam “Seminar Hasil Penelitian Environmental Insights 2026” menemukan penurunan kualitas air Kali Surabaya terjadi secara konsisten dari wilayah hulu menuju hilir. Penurunan itu tercermin melalui rendahnya kadar oksigen terlarut, meningkatnya kandungan nutrien, dan berubahnya struktur komunitas plankton di sepanjang aliran sungai.

Forum ilmiah yang mempertemukan mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) tersebut menjadi ruang pembacaan baru atas kondisi ekologis sungai yang selama ini menjadi sumber air baku utama Kota Surabaya.

Penelitian dipresentasikan Wahyu Baitullah, mahasiswa S1 Biologi UNESA di Open Spice Gedung Insprirasi, Ecological Conservation and Wetlands (Ecoton) pada Kamis, 4 Juni 2026. Dalam penelitiannya Wahyu melakukan melalui sembilan titik sampling yang dibagi ke dalam wilayah hulu, tengah, dan hilir Kali Surabaya.

Wilayah hulu berada di kawasan pertanian Mlirip, Mojokerto. Wilayah tengah berada di kawasan industri Driyorejo, Gresik, sedangkan wilayah hilir mencakup kawasan padat permukiman Jagir dan Wonokromo, Surabaya.

Data penelitian menunjukkan kualitas ekologis sungai mengalami perubahan signifikan sepanjang aliran. Pada segmen tengah dan hilir, kadar dissolved oxygen (DO) atau oksigen terlarut turun drastis hingga berada di bawah baku mutu nasional.

“Penurunan nilai DO dari hulu ke hilir menunjukkan adanya degradasi kualitas air yang dipengaruhi aktivitas antropogenik di sepanjang Kali Surabaya,” kata Wahyu di depan mahsiswa yang mengikuti seminar, pada pekan lalu itu.

Di wilayah hulu, lanjut Wahyu, kadar DO tercatat masih tinggi, yakni berkisar 10,7–12,4 mg/L. Namun pada segmen tengah, nilainya turun menjadi 1,7–2,4 mg/L dan terus rendah di hilir pada kisaran 1,6–2,0 mg/L.

“Padahal, berdasarkan peraturan yang ada, yaitu  PP Nomor 22 Tahun 2021 kelas II, kadar DO minimal yang diperbolehkan ialah 4 mg/L. Rendahnya oksigen terlarut ini, bisa dibilang  menandakan tingginya tekanan pencemar organik di perairan Kali Surabaya, “ ucap Wahyu.

Dalam penelitian Wahyu menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan pada 1 April 2026 dan analisis data berlangsung selama satu bulan.

Selain DO, Wahyu juga mengukur parameter suhu, pH, total dissolved solids (TDS), fosfat, amonia, dan klorin bebas. “Seluruh parameter ini saya gunakan membaca kondisi fisika-kimia perairan, “ kata Wahyu.

“Hasil yang saya peroleh dalam pengukuran menunjukkan suhu dan TDS. Masih berada dalam ambang baku mutu. Namun parameter pH pada wilayah hulu dan DO di wilayah tengah hingga hilir tidak memenuhi standar kualitas air, “ jelas Wahyu.

Nilai pH di wilayah hulu tercatat antara 5,11–5,46 atau berada di bawah rentang ideal 6–9, kata Wahyu. “Kondisi itu menunjukkan karakter air yang relatif asam, ‘tandasnya.

Sementara itu, dalam uraiannya Wahyu menyebut, TDS meningkat tajam di kawasan tengah yang didominasi aktivitas industri. Pada salah satu titik di Driyorejo, nilai TDS mencapai 422 ppm, hampir tiga kali lebih tinggi dibanding wilayah hulu.

Meski belum melampaui ambang batas nasional, dalam penelitian itu. Wahyu menyebutkan, peningkatan TDS menunjukkan bertambahnya material terlarut di badan air. Material tersebut dapat berasal dari limbah cair industri, residu domestik, maupun limpasan aktivitas pertanian.

Indeks keanekaragaman plankton Kali Surabaya tergolong rendah, menunjukkan tekanan ekologis dan menurunnya stabilitas komunitas biota perairan | Capture PPT Wahyu

#Nutrien Meningkat di Kawasan Tengah dan Hilir

Penelitian Wahyu juga menemukan peningkatan konsentrasi nutrien dari segmen tengah hingga hilir Kali Surabaya. Fosfat menjadi parameter dengan konsentrasi tertinggi dibanding nutrien lainnya.

“Kadar fosfat tercatat berada pada rentang 0,3–1,8 ppm. Konsentrasi tertinggi ditemukan pada Stasiun 2 Titik 3 dan Stasiun 3 Titik 1,” sebut Wahyu.

Penelitian menduga tingginya fosfat berasal dari limbah domestik, penggunaan deterjen rumah tangga, dan limpasan pertanian. Ketiga sumber itu menjadi beban pencemar yang terus masuk ke badan sungai.

Selain fosfat, kandungan amonia ditemukan pada kisaran 0,07–0,15 ppm. Sementara klorin bebas berada pada rentang 0,01–0,23 ppm.

Keberadaan amonia menunjukkan tingginya proses dekomposisi bahan organik di perairan. Sedangkan klorin bebas mengindikasikan pengaruh limbah domestik dan aktivitas manusia di sekitar sungai.

Secara umum, peningkatan nutrien memperlihatkan kuatnya tekanan antropogenik terhadap Kali Surabaya. Aktivitas manusia menjadi faktor dominan yang membentuk perubahan kualitas perairan dari hulu hingga hilir.

“Peningkatan nutrien di segmen tengah hingga hilir menunjukkan sungai menerima tekanan pencemaran yang terus bertambah dari aktivitas domestik, industri, maupun pertanian,” kata Wahyu.

Dalam forum seminar, sejumlah peserta menyoroti posisi Kali Surabaya yang selama ini menanggung limpasan aktivitas ekonomi kawasan metropolitan Jawa Timur. Sungai tersebut menerima aliran dari kawasan pertanian, industri, hingga permukiman padat.

Kondisi itu membuat pencemaran sungai berlangsung secara kompleks. Sumber pencemar tidak berasal dari satu sektor tunggal.

Di kawasan hulu, limpasan pertanian membawa residu pupuk dan bahan organik. Sementara di segmen tengah, kawasan industri meningkatkan risiko masuknya limbah cair ke badan sungai.

Memasuki wilayah hilir, tekanan pencemaran bertambah melalui limbah domestik rumah tangga. Padatnya permukiman di sekitar sungai memperbesar potensi pembuangan limbah tanpa pengolahan.

“Pola penurunan kualitas air dari hulu ke hilir memperlihatkan bahwa beban pencemaran di Kali Surabaya bersifat akumulatif dan dipengaruhi aktivitas manusia di sepanjang aliran sungai,” ujar Wahyu.

Kombinasi berbagai sumber pencemar tersebut menciptakan akumulasi beban ekologis di sepanjang aliran Kali Surabaya. Dampaknya terlihat jelas melalui penurunan kadar oksigen dan meningkatnya kandungan nutrien.

Secara ekologis, kondisi tersebut berisiko memicu eutrofikasi atau ledakan pertumbuhan organisme tertentu akibat tingginya nutrien di perairan. Dalam jangka panjang, situasi itu dapat memperburuk kualitas air dan mengganggu keseimbangan ekosistem.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Penurunan kualitas air juga berdampak terhadap organisme akuatik yang membutuhkan oksigen tinggi. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat menurunkan keanekaragaman hayati sungai.

Wahyu bersama tim penelitian mengambil sampel air dan mengamati plankton menggunakan mikroskop dalam studi kualitas Kali Surabaya | Capture PPT Wahyu

#Plankton Menjadi Penanda Perubahan Ekologis

Selain mengukur kualitas air, penelitian turut menganalisis struktur komunitas plankton sebagai bioindikator kondisi ekologis sungai. Pendekatan ini digunakan untuk membaca dampak pencemaran terhadap organisme mikroskopik di perairan.

Hasil identifikasi menemukan 25 genus plankton dengan total 162 individu. Kelompok Bacillariophyceae menjadi takson yang paling dominan di seluruh titik pengamatan.

Beberapa genus yang mendominasi antara lain Synedra sp., Navicula sp., Cyclotella sp., dan Oscillatoria sp. Keberadaan genus tersebut menunjukkan tingginya kandungan nutrien serta pengaruh aktivitas manusia di badan sungai.

Kelimpahan plankton cenderung menurun dari hulu menuju hilir. Penurunan itu berjalan seiring meningkatnya tekanan pencemaran pada segmen tengah dan hilir Kali Surabaya.

Dalam kajian ekologi perairan, plankton menjadi indikator biologis yang sensitif terhadap perubahan lingkungan. Perubahan komposisi plankton dapat menunjukkan kondisi pencemaran bahkan sebelum kerusakan terlihat secara kasat mata.

“Perubahan komposisi plankton mengindikasikan bahwa plankton berpotensi digunakan sebagai bioindikator kondisi ekologis Kali Surabaya,” kata Wahyu menjelaskan.

Nilai indeks keanekaragaman plankton (H’) dalam penelitian ini tergolong rendah, yakni hanya berkisar 0,33–0,61. Angka tersebut menunjukkan komunitas organisme berada dalam tekanan lingkungan.

Indeks keseragaman juga tercatat rendah pada kisaran 0,06–0,11. Kondisi itu menandakan distribusi organisme tidak merata dan komunitas biologis sungai kurang stabil.

Sementara indeks dominansi berada pada angka 0,00. Tidak ada satu genus yang mendominasi secara mutlak, namun struktur komunitas tetap menunjukkan gangguan ekologis.

Menurut Wahyu, perubahan kualitas air memengaruhi struktur komunitas plankton secara langsung. Semakin tinggi tekanan pencemaran, semakin besar perubahan pada komunitas organisme mikroskopik di perairan.

“Struktur komunitas plankton berubah mengikuti kondisi kualitas air. Ketika tekanan pencemaran meningkat, organisme yang sensitif akan berkurang dan hanya jenis tertentu yang mampu bertahan,” ujar Wahyu.

Plankton memiliki posisi penting dalam rantai makanan akuatik. Organisme tersebut menjadi sumber makanan bagi berbagai biota air, termasuk ikan dan organisme tingkat lebih tinggi.

Karena itu, perubahan struktur plankton dapat memicu gangguan ekologis yang lebih luas. Ketika komunitas dasar terganggu, rantai makanan perairan ikut terdampak.

Dalam konteks Kali Surabaya, penelitian ini memperlihatkan bahwa tekanan pencemaran tidak hanya mengubah parameter kimia air. Dampaknya juga sudah masuk ke tingkat biologis ekosistem.

Temuan tersebut memperkuat kekhawatiran mengenai kondisi sungai perkotaan di Jawa Timur. Di tengah meningkatnya kebutuhan air bersih, kualitas badan sungai justru terus mengalami tekanan.

Kali Surabaya selama ini menjadi sumber air baku utama bagi jutaan warga Surabaya dan sekitarnya. Penurunan kualitas ekologis sungai berpotensi meningkatkan tantangan pengolahan air di masa mendatang.

Hasil pengukuran fisika-kimia menunjukkan penurunan kualitas air Kali Surabaya dari hulu menuju hilir akibat tekanan aktivitas manusia | Capture PPT Wahyu

#Sungai Perkotaan dan Tantangan Pengelolaan Lingkungan

Seminar “Environmental Insights 2026” tidak hanya menjadi forum presentasi akademik. Kegiatan itu juga memperlihatkan meningkatnya perhatian mahasiswa terhadap isu pencemaran lingkungan di Jawa Timur.

Berbagai penelitian yang dipresentasikan dalam forum tersebut menyoroti mikroplastik, kualitas udara, pencemaran sungai, hingga kondisi ekosistem pesisir. Tema-tema itu menunjukkan perubahan lingkungan kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Penelitian Wahyu menjadi salah satu gambaran mengenai tekanan ekologis yang dihadapi sungai perkotaan. Sungai tidak lagi hanya dipandang sebagai saluran air, tetapi juga ruang hidup yang menanggung dampak aktivitas manusia.

Di sepanjang aliran Kali Surabaya, tekanan berasal dari berbagai sektor yang saling bertumpuk. Aktivitas industri, domestik, dan pertanian membentuk pola pencemaran yang berlangsung terus-menerus.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas air Kali Surabaya menurun dari hulu ke hilir akibat aktivitas antropogenik. Penurunan itu ditandai meningkatnya suhu, TDS, fosfat, dan amonia serta turunnya kadar DO.

Struktur komunitas plankton juga menunjukkan kondisi ekosistem yang kurang stabil. Rendahnya indeks keanekaragaman dan keseragaman menjadi indikator adanya tekanan lingkungan yang nyata.

Bagi peneliti muda, plankton bukan sekadar organisme mikroskopik di bawah lensa laboratorium. Keberadaannya menjadi penanda bagaimana sungai merespons tekanan aktivitas manusia dari waktu ke waktu.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pencemaran sungai tidak selalu hadir dalam bentuk limbah yang terlihat jelas. Sebagian perubahan justru terbaca melalui organisme kecil yang hidup di dalamnya.

Di tengah laju urbanisasi dan pertumbuhan industri di Jawa Timur, kondisi Kali Surabaya menjadi cermin tantangan pengelolaan lingkungan perkotaan. Sungai tetap menjadi sumber kehidupan, tetapi sekaligus menanggung beban pencemaran yang terus bertambah.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *