Lewati ke konten

Menjemput Ingatan di Jombang: Saat Lensa, Artefak, dan Aksara Bertemu

| 2 menit baca |Rekreatif | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fio Atmadja Editor: Marga Bagus

Pameran lintas medium di Jombang mempertemukan fotografi, artefak, dan aksara nusantara, menghadirkan dialog antara tubuh, tradisi, serta ingatan budaya yang terus bertransformasi.

Ruang pamer yang riuh oleh rasa ingin tahu, pelajar dan masyarakat berbaur, menjadikan seni sebagai jembatan antara pengetahuan, budaya, dan generasi. | Foto: Fio

Gedung Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang menjadi ruang pertemuan narasi budaya dan seni visual kontemporer. Pameran bertajuk “Cagar Budaya, Aksaragata, dan Seni Visual” resmi dibuka, menyuguhkan kolaborasi dua fotografer lintas latar belakang, Sofan Kurniawan (Sofanka) dan Luhur Wahyu Wijaya.

Pameran yang berlangsung hingga 2 April ini tak hanya menampilkan bingkai foto dan lukisan, tetapi juga menghadirkan artefak arkeologi serta aksara nusantara klasik. Pengunjung diajak menyusuri jejak sejarah yang jarang tersentuh ruang publik, sekaligus membaca ulang hubungan antara masa lalu dan praktik seni hari ini.

Sofan Kurniawan membawa karya bertajuk “Travesti: Dialektika Tubuh dan Perlawanan”. Ia mengangkat sosok travesti dalam kesenian ludruk, laki-laki yang memerankan Perempuan, sebagai medium refleksi sosial.

Melalui pendekatan visualnya, Sofanka menempatkan tubuh sebagai ruang ekspresi sekaligus simbol resistensi. Dalam konteks historis, ludruk pernah dibekukan pada masa Orde Baru karena dianggap kritis dan menjadi “corong” komunis. Kini, kesenian itu kembali hidup, meski tetap berada dalam bayang-bayang pengawasan, sekaligus menjadi hiburan masyarakat pedesaan.

Karya-karya tersebut tidak hanya menyoroti estetika, tetapi juga mengandung lapisan sejarah dan politik yang membentuk identitas kesenian rakyat.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel
Dialog hangat di antara karya, pengunjung membaca ulang makna di balik visual, menjadikan ruang pamer sebagai tempat bertukar tafsir dan pengalaman. | Foto: Fio

#Tradisi Bertahan di Tengah Zaman

Berbeda dengan Sofanka, Luhur Wahyu Wijaya menghadirkan tema “Wayang Topeng Jatiduwur: Nafas Lama Dalam Tubuh Baru”. Ia mendokumentasikan keberlanjutan tradisi di tengah perubahan sosial yang cepat.

Sebagai pegiat foto budaya, Luhur berupaya menunjukkan bahwa kesenian tradisional tidak statis, melainkan terus beradaptasi. Dokumentasinya menjadi pengingat bahwa tradisi tetap hidup melalui reinterpretasi generasi baru.

Dalam pameran ini, pengunjung juga disuguhi artefak dan aksara kuno yang memperkaya pengalaman visual sekaligus intelektual. “Pameran ini sekaligus literasi bagi kami, baik secara visual maupun tekstual, banyak yang kami dapatkan dan kaji dalam pameran kali ini” ujar Saskia salah satu pengunjung, Rabu (1/4/2026).

Pameran ini menjadi kesempatan langka untuk menikmati dialektika seni dan mengenal lebih dekat kekayaan cagar budaya lokal sebelum berakhir pada 2 April 2026 ini.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *