Lorong sempit di Peneleh menyimpan rumah bersejarah yang menjadi ruang tumbuh gagasan pergerakan nasional, tempat lahirnya pemimpin dan kesadaran kemerdekaan Indonesia.
Di tengah padatnya permukiman kawasan Peneleh, Surabaya, berdiri sebuah rumah sederhana yang menyimpan jejak penting perjalanan bangsa. Bangunan itu dikenal sebagai Museum Rumah H.O.S. Tjokroaminoto, tempat lahirnya gagasan besar tentang perlawanan terhadap kolonialisme.
Lorong menuju lokasi terasa sempit, diapit dinding rumah warga yang mulai termakan usia. Sekilas, tidak ada yang mencolok. Suasana tenang justru memperkuat kesan kampung lama yang bertahan di tengah laju modernisasi kota.
Sejarawan lokal, Rizky (29), menyebut rumah tersebut sebagai titik penting dalam sejarah pergerakan nasional. “Rumah Tjokroaminoto menjadi ruang kaderisasi. Di sana berlangsung proses pembentukan pemimpin bangsa,” ujar Rizky, Sabtu, (25/4/2026).
Menurut Rizky, metode pendidikan yang diterapkan H.O.S. Tjokroaminoto tergolong progresif pada zamannya. Diskusi terbuka dan perdebatan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mendorong lahirnya pemikiran kritis.
“Pendekatan seperti itu jarang ditemukan pada masa kolonial. Kebebasan berpikir justru dipupuk untuk melahirkan kesadaran politik,” katanya.
Rumah tersebut pernah menjadi tempat berkumpul tokoh-tokoh muda yang kelak berperan dalam perjalanan bangsa. Dari ruang sempit itulah, gagasan tentang nasionalisme, keadilan sosial, dan kemerdekaan dirumuskan secara intens.

#Jejak Sejarah yang Menghidupkan Kesadaran
Bagi pengunjung, pengalaman memasuki rumah ini menghadirkan suasana reflektif. Maya (24), salah satu pengunjung, mengaku merasakan kedekatan emosional saat berada di dalam bangunan tersebut.
“Sulit membayangkan tempat sekecil ini pernah menjadi pusat lahirnya ide besar,” ujarnya.
Maya menilai ruang sejarah seperti ini penting diperkenalkan kepada generasi muda.
“Dari sini terlihat bahwa perjuangan berawal dari pemikiran yang matang, bukan hanya aksi di lapangan,” katanya.
Tokoh yang pernah tinggal di rumah ini dikenal luas sebagai pendiri Sarekat Islam (SI), organisasi besar yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat pribumi dalam melawan ketidakadilan kolonial. Di bawah kepemimpinannya, gerakan tersebut berkembang pesat dan menjangkau banyak wilayah di Hindia Belanda.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelSurabaya pada masa itu menjadi salah satu pusat pergerakan nasional. Kota pelabuhan ini mempertemukan berbagai gagasan, kepentingan, serta perlawanan terhadap kekuasaan kolonial. Ketimpangan sosial yang terjadi mendorong lahirnya kesadaran kolektif untuk memperjuangkan hak rakyat.
Rumah di Peneleh menjadi salah satu titik penting dalam dinamika tersebut. Aktivis dan pemikir berkumpul, menyusun strategi, serta menyebarkan gagasan nasionalisme kepada generasi muda.
Kini, bangunan itu tetap berdiri di tengah perkembangan kota yang pesat. Dindingnya menyimpan cerita panjang tentang keberanian, pendidikan politik, dan solidaritas sosial. Artefak serta dokumen yang tersimpan di dalamnya menjadi pengingat bahwa perubahan besar dapat lahir dari ruang sederhana.
Pengalaman berkunjung ke lokasi ini memberi kesan mendalam bagi banyak orang. Suasana historis terasa kuat saat menyusuri setiap sudut ruangan. Jejak masa lalu hadir melalui benda-benda yang masih terawat, membawa ingatan pada masa perjuangan yang penuh tantangan.
Keberadaan museum tersebut juga menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan sejarah. Nilai-nilai perjuangan yang lahir dari tempat ini tetap relevan dalam menghadapi tantangan masa kini, termasuk perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
Rizky menilai perhatian publik terhadap situs sejarah seperti ini masih perlu ditingkatkan.
“Peneleh memiliki peran penting dalam sejarah nasional. Kesadaran untuk merawat dan mengenalkannya perlu diperkuat,” ujarnya.
Rumah sederhana di gang sempit itu menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu tercatat dalam bangunan megah. Dari ruang terbatas, lahir pemikiran besar yang menggerakkan perubahan. Warisan tersebut menjadi bagian penting dari identitas bangsa yang perlu terus dijaga dan dipelajari lintas generasi.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.