Lewati ke konten

Jejak De Javasche Bank Surabaya: Dari Simpul Ekonomi Kolonial ke Simbol Kedaulatan Moneter

| 5 menit baca |Rekreatif | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri, Editor: Supriyadi

Bangunan bersejarah di Surabaya mengungkap jejak ekonomi kolonial hingga nasionalisasi, menyimpan kisah kekuasaan finansial, eksploitasi, dan lahirnya kedaulatan moneter Indonesia.

Di Jalan Garuda Nomor 1, Krembangan Selatan, Surabaya, berdiri gedung eks De Javasche Bank yang masih kokoh menahan arus zaman. Fasad putih dengan pilar bergaya Neo-Renaissance menyiratkan ambisi besar pada awal abad ke-20, ketika Surabaya menjadi simpul perdagangan global di kawasan timur Jawa.

Dibangun pada 1910 oleh biro arsitek Cuypers & Huygwit, gedung tersebut dirancang sebagai pusat sirkulasi keuangan yang menopang distribusi komoditas ekspor seperti gula, kopi, dan tembakau. Posisi Surabaya sebagai pelabuhan utama menjadikan kantor cabang ini strategis dalam mengelola arus modal.

Peneliti sejarah urban, Andika Pratama, menyebut arsitektur bangunan mencerminkan kepercayaan diri institusi keuangan kolonial. “Gedung ini menunjukkan bagaimana Surabaya telah masuk dalam jaringan ekonomi dunia sejak awal abad ke-20,” ujarnya saat ditemui di pelataran museum.

Detail interior memperkuat kesan kemegahan. Kaca patri berwarna, lantai tegel bermotif geometris, serta ukiran kayu jati menghadirkan estetika tinggi. Pada saat yang sama, desain ventilasi alami menjadi solusi atas iklim tropis. Plafon tinggi dan jendela besar memungkinkan sirkulasi udara yang menjaga suhu tetap sejuk tanpa teknologi modern.

Kehadiran bangunan ini menandai pergeseran ekonomi tradisional menuju sistem perbankan modern. Uang kertas dan koin yang beredar dari sini menjadi instrumen utama dalam menggerakkan roda ekonomi kolonial.

Miniatur De Javasche Bank Surabaya menampilkan detail arsitektur bergaya Neo-Renaissance, merefleksikan kemegahan bangunan asli sebagai pusat aktivitas perbankan pada masa kolonial. | Foto: Shella

#Ruang Khazanah dan Memori yang Tersimpan

Di bagian bawah gedung, terdapat ruang yang dahulu tertutup rapat dari publik: bunker penyimpanan. Pintu besi tebal dengan sistem penguncian kompleks menjadi simbol ketatnya pengamanan terhadap cadangan emas dan uang tunai.

Memasuki ruang tersebut menghadirkan suasana berbeda. Dinding tebal dan pencahayaan redup menciptakan kesan dingin sekaligus sunyi. Andika menggambarkan ruang itu sebagai pusat kendali keuangan masa lalu. “Pengamanan di sini sangat ketat. Hanya pejabat tertentu yang memiliki akses,” katanya.

Kini, bunker tersebut difungsikan sebagai ruang pamer koleksi numismatik. Beragam uang kertas dan koin dari berbagai periode ditampilkan untuk menunjukkan evolusi sistem ekonomi di Nusantara. Pengunjung dapat melihat bagaimana konsep nilai berkembang seiring perubahan politik dan sosial.

Erni, 27 tahun, pengunjung asal Gubeng, mengaku mendapatkan perspektif baru setelah berkunjung. “Saya kira hanya bangunan tua. Setelah melihat koleksinya, terasa bahwa perjalanan ekonomi Indonesia sangat panjang,” ujarnya. Ia menambahkan suasana interior membuat pengalaman terasa lebih hidup. “Pencahayaan dan suara langkah kaki memberi kesan seperti berada di masa lalu.”

Budi Santoso, penjaga wilayah sekitar museum, menyoroti pentingnya pemahaman konteks sejarah. “Pengunjung sering fokus pada foto. Padahal, yang lebih penting adalah memahami bagaimana bank ini berperan dalam sistem kolonial dan perubahan setelah kemerdekaan,” katanya.

Menurut Budi, inovasi penyampaian menjadi tantangan utama. Penggunaan kode QR sudah mulai diterapkan untuk memberikan informasi tambahan. “Kalau narasi disampaikan dengan menarik, pengunjung akan lebih mudah terhubung,” ujarnya.

Aula utama dengan pilar-pilar tinggi dan kaca patri menghadirkan kemegahan arsitektur klasik, merekam denyut aktivitas perbankan kolonial di jantung Surabaya. | Foto: Shella

#Nasionalisasi dan Kedaulatan Ekonomi

Perubahan terbesar dalam sejarah gedung ini terjadi setelah kemerdekaan Indonesia. Pada 1951, pemerintah mulai mengambil alih saham De Javasche Bank sebagai bagian dari upaya dekolonisasi ekonomi.

Proses tersebut mencapai puncak pada 1 Juli 1953, ketika bank ini resmi menjadi Bank Indonesia. Transformasi ini menandai lahirnya bank sentral nasional yang mengelola kebijakan moneter secara mandiri.

Perubahan tersebut memiliki makna simbolik dan strategis. Negara yang baru merdeka membutuhkan kontrol atas sistem keuangan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Nasionalisasi menjadi langkah penting dalam membangun fondasi kedaulatan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Gedung di Jalan Garuda tetap digunakan sebagai kantor cabang hingga 2012, sebelum operasional dipindahkan ke lokasi baru di Jalan Pahlawan. Setelah itu, bangunan bersejarah ini dialihfungsikan menjadi museum.

Keputusan tersebut membuka akses publik terhadap sejarah ekonomi yang sebelumnya tersembunyi di balik tembok institusi keuangan. Koleksi yang ditampilkan memperlihatkan perjalanan panjang dari sistem kolonial menuju ekonomi nasional.

Dalam konteks Surabaya sebagai Kota Pahlawan, narasi perjuangan tidak hanya berkaitan dengan pertempuran fisik. Perjuangan ekonomi juga memiliki peran penting dalam membentuk identitas bangsa.

Museum ini menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk memahami bagaimana kebijakan keuangan memengaruhi kehidupan sehari-hari. Dari pengelolaan mata uang hingga distribusi sumber daya, semua memiliki akar sejarah yang panjang.

Upaya modernisasi terus dilakukan untuk menjaga relevansi. Pameran temporer, teknologi digital, dan pendekatan naratif yang lebih interaktif diharapkan dapat menarik minat generasi muda.

Budi menilai pendekatan tersebut penting untuk menjaga daya tarik museum. “Kalau hanya menampilkan benda, orang cepat lupa. Cerita yang kuat membuat pengunjung kembali,” katanya.

Di tengah perkembangan kota yang pesat, keberadaan museum ini menjadi pengingat bahwa sejarah memiliki peran penting dalam membentuk masa depan. Gedung tersebut berdiri sebagai saksi perjalanan panjang ekonomi Indonesia, dari masa kolonial hingga era kedaulatan nasional.

Mengakhiri kunjungan di aula utama, pengunjung dapat merasakan suasana masa lalu yang masih tertinggal. Ruang luas dengan pencahayaan alami menghadirkan imajinasi tentang aktivitas perbankan pada masa lampau.

Dari denting koin hingga diskusi kebijakan, semua membentuk jejak yang kini dapat ditelusuri kembali. Gedung ini menyimpan narasi tentang kekuasaan, perubahan, dan perjuangan dalam satu ruang yang sama.

Sejarah yang terpatri di dalamnya memberikan pelajaran penting: kedaulatan ekonomi dibangun melalui proses panjang yang melibatkan banyak pihak. Ingatan tersebut menjadi dasar untuk memahami tantangan masa kini dan masa depan.***

 

*) Shella Mardiana PutriMahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini. 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *