Lewati ke konten

Taman Kota Surabaya: Antara Paru-Paru Hijau dan Tempat Transit Sesaat

| 4 menit baca |Rekreatif | 22 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Supriyadi

Ruang hijau kota hadir sebagai penyeimbang urbanisasi, tetapi pemanfaatannya oleh warga Surabaya masih terbatas sebagai tempat singgah singkat tanpa keterikatan yang mendalam.

Surabaya memiliki sejumlah taman kota yang dirancang sebagai ruang terbuka hijau sekaligus ruang sosial. Keberadaan taman diharapkan mampu meredam kepadatan kota, memperbaiki kualitas udara, serta menyediakan tempat berinteraksi bagi warga.

Sejumlah taman seperti Taman Bungkul dan Taman Prestasi kerap menjadi rujukan ketika membahas ruang publik. Pepohonan rindang, jalur pedestrian, hingga bangku taman memberi kesempatan bagi warga untuk beristirahat dari rutinitas harian.

Dimas, karyawan swasta, mengaku sering mampir ke taman sepulang kerja. Kunjungan itu tidak berlangsung lama. “Kalau lagi capek, enak duduk di sini. Lumayan adem dibanding di jalan,” ujarnya, Senin, (13/4/2026).

Durasi singkat menunjukkan pola pemanfaatan yang cenderung sementara. Taman lebih sering digunakan sebagai tempat transit sebelum melanjutkan aktivitas lain.

Kondisi serupa terlihat pada hari kerja. Suasana relatif lengang, hanya beberapa pengunjung yang datang untuk duduk atau sekadar melepas penat. Aktivitas terbatas membuat fungsi ekologis lebih terasa daripada fungsi sosial yang aktif.

Signage artistik Taman Ekspresi menonjol di antara pepohonan, menghadirkan ruang hijau nyaman. Fasilitas memadai tersedia, meski aktivitas warga masih singkat sebagai tempat beristirahat sejenak. | Foto: Shella

#Ruang Sosial Tanpa Beban Biaya

Mahasiswa bernama Ayu memilih taman sebagai tempat berkumpul bersama teman. Faktor ekonomi menjadi alasan utama dibandingkan tujuan menikmati ruang hijau.

“Kalau ke kafe kan harus beli sesuatu. Kalau di taman, ya gratis. Bisa ngobrol santai aja,” katanya dengan nada bercanda.

Pilihan mereka menegaskan posisi taman sebagai ruang publik yang inklusif. Semua kalangan dapat mengakses tanpa batasan biaya. Fungsi sosial muncul melalui interaksi sederhana seperti berbincang, belajar, atau menunggu waktu.

Akses terbuka menjadi keunggulan utama taman kota dibandingkan ruang privat seperti pusat perbelanjaan. Ketersediaan fasilitas dasar sudah cukup untuk menarik pengunjung, terutama pelajar dan pekerja.

Meski begitu, aktivitas yang terjadi masih terbatas pada kebutuhan praktis. Interaksi dengan unsur alam—pepohonan, tanah, udara segar—belum menjadi tujuan utama. Pengalaman ruang hijau sering kali menjadi latar belakang, bukan fokus utama kunjungan.

Perubahan gaya hidup perkotaan ikut memengaruhi pola tersebut. Waktu luang lebih banyak dihabiskan dalam ruang tertutup yang menawarkan kenyamanan instan. Taman kalah bersaing dengan fasilitas berpendingin udara dan akses digital yang lebih lengkap.

Suasana teduh taman kota Surabaya menghadirkan ketenangan di tengah hiruk pikuk. Pepohonan lebat dan jalur pedestrian memberi ruang jeda, meski kunjungan warga masih singkat. | Foto: Shella

#Ketimpangan dan Tantangan Pengelolaan

Kualitas taman kota tidak merata. Beberapa lokasi terlihat ramai dan terawat, terutama yang berada di pusat kota atau memiliki ikon tertentu. Sebaliknya, taman di kawasan lain cenderung sepi, minim aktivitas, bahkan kurang terawat.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Perbedaan kondisi tersebut memengaruhi minat warga untuk berkunjung. Taman yang bersih dan aman akan lebih menarik dibandingkan ruang terbuka yang kurang terkelola. Faktor keamanan, pencahayaan, serta fasilitas menjadi pertimbangan penting.

Kehadiran pengunjung berkaitan erat dengan rasa nyaman. Tanpa perawatan yang konsisten, taman berpotensi kehilangan fungsi sosialnya. Ruang terbuka berubah menjadi area pasif tanpa interaksi berarti.

Pengelolaan taman membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat. Penyediaan fasilitas seperti jalur olahraga, area bermain, serta ruang komunitas dapat meningkatkan aktivitas. Program kegiatan juga berperan dalam menghidupkan suasana.

Keterlibatan warga menjadi faktor penentu keberlanjutan. Rutinitas sederhana seperti berjalan kaki, berolahraga, atau membaca di taman dapat membangun hubungan yang lebih kuat antara manusia dan ruang hijau.

Perubahan tidak terjadi secara instan. Dampak keberadaan taman terasa perlahan melalui kualitas udara yang lebih baik, suhu yang lebih sejuk, serta kesehatan mental yang lebih terjaga.

Kesadaran tersebut masih perlu ditumbuhkan. Banyak warga belum merasakan manfaat jangka panjang dari ruang hijau karena efeknya tidak langsung terlihat.

Kota terus berkembang dengan tekanan pembangunan dan mobilitas tinggi. Ruang terbuka hijau menjadi elemen penting untuk menjaga keseimbangan tersebut. Keberadaannya memberi jeda dalam ritme kehidupan yang cepat.

Taman kota masih berada pada persimpangan fungsi. Peran ekologis tetap berjalan, sementara fungsi sosial belum sepenuhnya berkembang. Pola kunjungan yang singkat mencerminkan hubungan yang belum mendalam antara warga dan ruang hijau.

Perubahan dapat dimulai dari langkah kecil. Kehadiran yang lebih rutin, aktivitas yang lebih beragam, serta pengelolaan yang konsisten dapat mengubah wajah taman menjadi ruang hidup yang aktif.

Kota tidak hanya dibentuk oleh bangunan dan jalan. Ruang terbuka memberi napas bagi kehidupan urban, menghadirkan keseimbangan yang sering kali luput dari perhatian.***

*) Shella Mardiana PutriMahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini. 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *