Lewati ke konten

Klenteng Sanggar Agung: Simbol Akulturasi dan Toleransi di Pesisir Surabaya Modern

| 8 menit baca |Rekreatif | 0 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis:  Shella Mardiana Putri Editor: Supriyadi
  • Klenteng Sanggar Agung di kawasan Pantai Ria Kenjeran, Surabaya, bukan hanya pusat ibadah umat Tridharma. Sejak berdiri pada 1999, tempat ini berkembang menjadi simbol akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara yang terbuka bagi masyarakat lintas agama.
  • Keberadaan patung Dewi Kwan Im setinggi 20 meter yang menghadap Selat Madura menjadikan Sanggar Agung sebagai salah satu ikon wisata religi paling dikenal di Jawa Timur.
  • Arsitektur klenteng yang memadukan unsur Tionghoa dan lokal Jawa menunjukkan proses perjumpaan budaya yang telah berlangsung lama di Surabaya sebagai kota pelabuhan

Di tengah perkembangan kawasan wisata Pantai Ria Kenjeran, Klenteng Sanggar Agung berdiri sebagai salah satu penanda penting keberagaman budaya di Surabaya. Bangunan yang juga dikenal sebagai Klenteng Hong San Tang itu didirikan pada tahun 1999 dan sejak awal dirancang sebagai tempat ibadah bagi umat Tridharma.

Lokasinya berbeda dari kebanyakan klenteng yang berada di pusat permukiman atau kawasan perdagangan. Sanggar Agung dibangun di tepi laut, menghadap langsung ke Selat Madura, sehingga menciptakan lanskap yang memadukan aktivitas spiritual dengan karakter maritim pesisir Surabaya.

Pilihan lokasi tersebut bukan sekadar pertimbangan estetika. Kawasan pesisir Kenjeran sejak lama menjadi ruang hidup masyarakat nelayan sekaligus pintu masuk berbagai pengaruh budaya yang datang melalui jalur perdagangan laut.

Sebagai kota pelabuhan, Surabaya memiliki sejarah panjang interaksi antar-etnis. Komunitas Tionghoa menjadi salah satu kelompok yang turut membentuk perkembangan ekonomi, sosial, dan budaya kota sejak masa kolonial.

Keberadaan Sanggar Agung kemudian menjadi representasi dari proses sejarah tersebut. Klenteng ini tidak hanya mempertahankan tradisi leluhur masyarakat Tionghoa, tetapi juga menunjukkan bagaimana budaya tersebut beradaptasi dengan lingkungan lokal.

Hal itu terlihat pada sejumlah elemen bangunan yang menggabungkan gaya arsitektur Tionghoa dengan sentuhan material dan pendekatan konstruksi yang lazim ditemukan pada bangunan Nusantara.

Di kawasan utama, pengunjung akan menemukan ornamen naga, lampion, dan warna-warna khas klenteng tradisional. Namun pada beberapa bagian struktur, terdapat unsur yang menunjukkan pengaruh lokal Jawa yang telah melebur dalam proses pembangunan.

Perpaduan tersebut membuat Sanggar Agung tidak tampil sebagai replika bangunan dari daratan Tiongkok. Sebaliknya, ia mencerminkan identitas masyarakat Tionghoa Indonesia yang berkembang melalui proses interaksi panjang dengan budaya setempat.

Keberadaan klenteng ini juga muncul pada periode penting dalam sejarah Indonesia. Tahun 1999 merupakan masa ketika ruang ekspresi budaya dan identitas etnis mulai memperoleh kebebasan yang lebih luas setelah perubahan politik nasional.

Karena itu, pembangunan Sanggar Agung kerap dipandang sebagai bagian dari lahirnya kembali ruang publik yang memungkinkan masyarakat mengekspresikan identitas budaya dan keyakinan secara lebih terbuka.

Daya tarik terbesar kawasan ini adalah paviliun Dewi Kwan Im yang berdiri di atas laut. Patung setinggi sekitar 20 meter tersebut menjadi ikon yang paling sering diabadikan oleh pengunjung.

Patung itu diapit sejumlah figur pelindung dalam tradisi Tionghoa dan menghadap langsung ke perairan Selat Madura. Posisi tersebut menjadikannya salah satu simbol visual yang paling kuat di kawasan pesisir Surabaya.

Bagi sebagian umat, keberadaan patung tersebut memiliki makna spiritual yang mendalam. Sementara bagi wisatawan umum, kawasan ini menawarkan pengalaman melihat perpaduan antara arsitektur religius dan panorama laut terbuka.

Gerbang dua naga yang berada di area luar juga menjadi daya tarik utama. Struktur monumental tersebut tidak hanya berfungsi sebagai elemen arsitektur, tetapi juga menjadi ruang publik yang sering digunakan pengunjung untuk menikmati pemandangan laut.

Keunikan inilah yang membuat Sanggar Agung berbeda dari banyak tempat ibadah lainnya. Ia berkembang sebagai ruang yang memiliki fungsi religius sekaligus fungsi sosial dan budaya.

#Ruang Spiritual yang Menarik Umat dan Pengunjung Lintas Agama

Setiap hari, Sanggar Agung didatangi umat yang ingin beribadah maupun peziarah yang datang untuk berdoa. Di saat yang sama, kawasan ini juga ramai oleh wisatawan yang tertarik pada nilai sejarah dan arsitekturnya.

Yovita, peziarah asal Surabaya berusia 45 tahun, mengatakan suasana pesisir memberikan pengalaman spiritual yang berbeda dibanding tempat ibadah lain.

“Setiap kali saya datang ke Sanggar Agung untuk berdoa di bawah patung Dewi Kwan Im, ada rasa damai yang tidak bisa digantikan oleh tempat lain karena suasananya yang langsung menghadap ke laut lepas,” ujar Yovita, Selasa, (30/6/2026).

Menurut Yovita, doa yang dipanjatkan di klenteng tidak hanya ditujukan untuk kepentingan pribadi atau keluarga. Banyak umat juga mendoakan keselamatan kota dan keharmonisan masyarakat Surabaya.

Ia berpendapat kemegahan arsitektur serta keterhubungan dengan lingkungan alam memberikan suasana yang mendukung pelaksanaan tradisi keagamaan secara khusyuk.

Selain menjadi tempat ibadah, Sanggar Agung juga dianggap sebagai simbol identitas budaya masyarakat Tionghoa Surabaya. Kehadiran berbagai unsur arsitektur yang telah beradaptasi dengan lingkungan lokal menunjukkan proses pembauran yang berlangsung selama beberapa generasi.

“Kalau kita perhatikan, klenteng ini tidak murni bergaya Tiongkok daratan, tapi ada sentuhan material dan arsitektur lokal Jawa di bagian bawah strukturnya yang membuat tempat ini terasa sangat Indonesia,” ungkap Yovita.

Menurutnya, kondisi ini memperlihatkan budaya Tionghoa di Surabaya tidak berkembang secara terpisah dari masyarakat sekitar. Sebaliknya, budaya Tongkok, juga tumbuh bersama tradisi lokal dan menjadi bagian dari sejarah kota.

Fenomena menarik lainnya adalah tingginya jumlah pengunjung yang datang tanpa tujuan keagamaan. Banyak warga dari berbagai latar belakang memilih mengunjungi kawasan ini untuk menikmati arsitektur dan pemandangan laut.

Kondisi itu menciptakan ruang interaksi yang relatif terbuka. Pengunjung dapat menikmati kawasan luar klenteng sambil tetap menghormati aktivitas ibadah yang berlangsung di area utama.

Dengan perasaan kagum Yovita menilai keterbukaan yang alamiah, menjadi bentuk pendidikan toleransi yang berlangsung di Surabaya. Pengunjung dapat melihat langsung, bagaimana aktivitas keagamaan berlangsung tanpa harus terlibat di dalamnya.

“Saya sangat senang melihat banyak pengunjung yang datang ke sini sebenarnya bukan untuk sembahyang, melainkan warga umum lintas agama yang ingin melihat keindahan arsitekturnya,” ujarnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Ia menambahkan bahwa hubungan saling menghormati antara umat dan pengunjung menjadi salah satu kekuatan utama Sanggar Agung.

Potret Klenteng Sanggar Agung di Kenjeran, Surabaya, yang memadukan arsitektur Tionghoa dan Nusantara sebagai simbol toleransi. | Foto: Shella.

Di tengah meningkatnya polarisasi sosial yang sering muncul di ruang digital, pengalaman langsung di ruang publik seperti ini dinilai memiliki nilai penting dalam memperkuat pemahaman antar-kelompok masyarakat.

Keberadaan klenteng yang terbuka bagi pengunjung juga memperlihatkan bahwa situs keagamaan dapat berfungsi sebagai sarana dialog budaya. Interaksi yang terjadi berlangsung melalui pengalaman sehari-hari, bukan melalui forum formal.

Bagi banyak warga Surabaya, hal tersebut mencerminkan karakter kota yang sejak lama dikenal sebagai ruang pertemuan berbagai kelompok etnis dan agama.

#Menjaga Warisan Budaya dan Dampak Sosial bagi Masyarakat Pesisir

Di luar aktivitas keagamaan, Sanggar Agung memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat pesisir Kenjeran. Hubungan itu tampak berkembang melalui berbagai aktivitas sosial dan upaya menjaga lingkungan sekitar.

Hendra, 52 tahun, misalnya yang bertugas sebagai penjaga klenteng, mengatakan pengelola sejak awal berupaya menjadikan kawasan tersebut bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

“Sejak awal diresmikan pada tahun 1999, komitmen utama kami di Sanggar Agung adalah menjadikan tempat ini sebagai ruang yang membawa manfaat dan keteduhan bagi lingkungan sekitar,” katanya.

Menurut Hendra, pengelola rutin berkoordinasi dengan warga kampung dan komunitas nelayan untuk menjaga kebersihan kawasan pantai di sekitar klenteng.

Kerja sama tersebut menjadi penting mengingat lokasi klenteng yang langsung berbatasan dengan laut. Sampah laut dan perubahan kondisi pesisir menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.

“Hubungan sosial yang harmonis antara pihak klenteng dan masyarakat sekitar adalah fondasi utama yang membuat tempat ini tetap berdiri kokoh penuh kedamaian,” ujarnya.

Selain aspek sosial, kehadiran Sanggar Agung juga memberikan dampak ekonomi bagi kawasan Surabaya Timur. Arus kunjungan wisatawan menciptakan peluang usaha bagi warga setempat.

Di sekitar kawasan Kenjeran, pengunjung dapat menemukan berbagai usaha kuliner, penjualan suvenir, jasa transportasi wisata, hingga layanan pendukung lainnya yang berkembang seiring meningkatnya jumlah wisatawan.

Hendra mengatakan pengelola memang berupaya menjadikan area luar klenteng sebagai ruang yang ramah bagi masyarakat umum.

“Kami sengaja mendesain area luar klenteng agar ramah untuk dikunjungi oleh publik umum karena kami ingin tempat ini menjadi oase budaya yang inklusif bagi siapa saja,” katanya.

Menurutnya, manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat menjadi bagian penting dari keberadaan situs tersebut. Rumah ibadah tidak hanya menjalankan fungsi spiritual, tetapi juga dapat memberikan dampak sosial yang nyata.

Meski demikian, pengelola tetap menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas wisata dan kesakralan tempat ibadah.

Meningkatnya jumlah pengunjung membutuhkan pengaturan yang cermat agar aktivitas religius tetap dapat berlangsung dengan nyaman. Karena itu, pengelola menerapkan pembagian zona antara area ibadah dan area kunjungan publik.

“Tantangan terbesar kami di era modern ini adalah bagaimana menjaga kesucian ruang utama ibadah di dalam klenteng, sementara di sisi lain tetap memberikan ruang bagi wisatawan untuk mengagumi keindahan gerbang naga luar,” ujar Hendra.

Pendekatan tersebut dilakukan melalui penataan kawasan dan edukasi kepada pengunjung mengenai tata krama selama berada di lingkungan klenteng.

Menurut Hendra, pengalaman selama lebih dari dua dekade menunjukkan bahwa pariwisata budaya dan aktivitas keagamaan dapat berjalan berdampingan apabila dikelola dengan baik.

Keberhasilan tersebut menjadikan Sanggar Agung tidak hanya sebagai destinasi wisata religi, tetapi juga contoh bagaimana situs budaya dapat mempertahankan fungsi spiritualnya di tengah perkembangan kota modern.

Lebih dari dua puluh lima tahun setelah berdiri, klenteng ini tetap menjadi salah satu simbol penting keberagaman Surabaya. Di tengah perubahan wajah kota yang terus bergerak menuju metropolitan modern, Sanggar Agung mempertahankan perannya sebagai ruang perjumpaan budaya, spiritualitas, dan kehidupan sosial masyarakat pesisir.

Keberadaannya menunjukkan bahwa akulturasi bukan sekadar warisan masa lalu. Di Kenjeran, akulturasi terus hidup melalui bangunan, tradisi, interaksi sosial, dan hubungan harmonis antara umat, wisatawan, serta masyarakat sekitar.

Dari tepian Selat Madura, pesan tentang toleransi dan keterbukaan itu terus hadir dalam kehidupan sehari-hari warga Surabaya.***

*) Shella Mardiana PutriMahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini. 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *