- Kilau Mania menjadi puncak Hari Anak Nasional 2026 dengan panggung seni yang menyuarakan hak anak di Surabaya.
- Lima sanggar pendidikan alternatif mengangkat persoalan keluarga, sekolah, ruang bermain, masyarakat, dan dunia digital anak bersama.
- FPA Surabaya mengajak pemerintah, keluarga, dan masyarakat memperluas ruang aman bagi tumbuh kembang seluruh anak Indonesia.
- Pementasan teater menyoroti krisis ruang bermain, ancaman gawai, serta pentingnya perlindungan anak di kawasan perkotaan padat.
- Kolaborasi komunitas, kampus, dan sekolah memperkuat advokasi pemenuhan hak anak melalui seni pertunjukan yang partisipatif bersama.
PANGGUNG seni menjadi medium penyampaian pesan perlindungan anak dalam puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang digelar Forum Pendidikan Alternatif (FPA) Surabaya. Melalui kegiatan bertajuk Kilau Mania di Gedung Widya Kartika, Sabtu (25/7/2026), ratusan peserta dari berbagai sanggar pendidikan alternatif menampilkan pertunjukan yang mengangkat persoalan nyata yang dihadapi anak-anak di lingkungan perkotaan.
Kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan pengalaman, harapan, dan pandangan mereka mengenai lingkungan yang aman. Hadir dalam kegiatan itu perwakilan Komisi Nasional Perlindungan Anak Surabaya, pemerintah daerah, aktivis sosial, hingga praktisi pendidikan.
Ketua Pelaksana Kilau Mania, Mahrawi, mengatakan peringatan HAN tahun ini dirancang melalui dua rangkaian kegiatan yang saling melengkapi. Sebelum pementasan seni, FPA telah menyelenggarakan talkshow mengenai hak dasar dan sistem perlindungan anak pada 18 Juli 2026.
“Untuk kegiatan FPA dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional 2026 ini ada dua. Pertama ada talkshow yang sudah terselenggara tanggal 18 kemarin, dan hari ini adalah pentas seni yang melibatkan lima unit sanggar dari Kota Surabaya,” ujar Mahrawi.
Acara dibuka dengan Tari Remo sebagai simbol semangat menyambut pesan-pesan kebaikan. Setelah itu, anak-anak melakukan parade sambil membawa poster berisi ajakan menghormati hak anak dan menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi tumbuh kembang mereka.
Menurut Mahrawi, tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar menghasilkan pertunjukan yang menarik, melainkan membangun kesadaran publik mengenai pentingnya pemenuhan hak anak.
“Output utamanya adalah menjadi ruang yang nyata bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri mereka. Selain itu, kami ingin mengajak semua pihak untuk peduli, memberikan ruang yang aman dan layak bagi anak,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat mendorong perubahan sikap masyarakat agar lebih peka terhadap kebutuhan anak di lingkungan keluarga maupun ruang publik.

#Lima Sanggar Angkat Persoalan Nyata Kehidupan Anak Perkotaan
Kilau Mania tahun ini melibatkan lima lembaga pendidikan alternatif, yaitu Sanggar Merah Merdeka, Pelita Insan Pembelajar (PIJAR), Sanggar Alang-Alang, Rumah Belajar Navaloka, dan Kelompok Belajar Anak Lembaga Karya Dharma.
Seluruh penampilan dikembangkan berdasarkan lima tema utama yang dinilai dekat dengan kehidupan anak saat ini. Tema tersebut meliputi lingkungan keluarga, masyarakat, ruang bermain, sekolah, serta dunia maya.
Pendekatan tersebut menjadi pembeda dibanding penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya yang lebih banyak menampilkan pertunjukan hiburan. Kali ini, setiap sanggar diminta menyusun pementasan yang berangkat dari persoalan yang mereka temui selama melakukan pendampingan kepada anak-anak.
Rumah Belajar Navaloka, misalnya, menampilkan drama mengenai pentingnya keluarga sebagai tempat pertama yang memberikan rasa aman. Melalui cerita sederhana, mereka menggambarkan bahwa perhatian orang tua tetap dibutuhkan meski tekanan ekonomi dan kesibukan sehari-hari semakin meningkat.
Sementara itu, PIJAR memilih mengangkat persoalan semakin sempitnya ruang bermain anak di kawasan perkotaan. Menurut penanggung jawab PIJAR, Frido Yoga, kondisi tersebut membuat banyak anak kehilangan ruang untuk berinteraksi secara langsung.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Konsep yang dibawakan dari PIJAR adalah temanya Lingkungan Bermain. Kami mengangkat isu semakin minimnya ruang bermain anak-anak khususnya di perkotaan. Anak-anak berebut ruang sehingga kita sering melihat anak-anak di pinggiran bermain di tempat yang berbahaya, misal di pinggiran rel kereta api,” kata Frido.
Melalui pertunjukan teater, PIJAR menyisipkan adegan komedi yang menggambarkan sempitnya permukiman padat penduduk. Dalam salah satu adegan, anak-anak digambarkan berlari hingga menabrak ketua RT yang sedang duduk di gang karena tidak lagi memiliki tempat bermain yang memadai.
“Tadi ada adegan di mana saking sempitnya ruang bermain dan anak-anak kehabisan tempat, saat mereka berlari-lari malah sampai menabrak Pak RT yang sedang duduk ngobrol di tengah embong. Ini gambaran betapa sempitnya ruang hidup mereka,” ujarnya.
Frido menilai keterbatasan ruang bermain juga berdampak pada meningkatnya penggunaan gawai oleh anak-anak. Ketika ruang interaksi fisik semakin terbatas, anak cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di dunia digital yang belum tentu aman bagi perkembangan mereka.

#Pendampingan Anak Pinggiran Didorong Melalui Kolaborasi Berbagai Pihak
Selain menyampaikan pesan melalui seni, PIJAR juga memperkenalkan aktivitas pendampingan yang selama ini dilakukan di lima kawasan pinggiran Surabaya, yakni Tambak Mayor, Asem Rowo, Tambak Madu, Simokerto, dan Pulo Wonokromo Wetan.
Sebanyak 30 anak tampil dalam Kilau Mania mewakili berbagai kelompok usia. Pementasan teater diperankan oleh siswa tingkat SMP, termasuk peserta baru yang menjalani latihan intensif kurang dari tiga pekan.
Frido mengakui proses pendampingan anak-anak dari kawasan marjinal memiliki tantangan tersendiri. Pendamping harus mampu menyesuaikan metode belajar dengan karakter, kondisi psikologis, serta latar belakang sosial ekonomi masing-masing anak.
“Kita tidak bisa pungkiri, anak-anak pinggiran berangkat dari latar belakang ekonomi yang lemah. Secara finansial mereka sering kurang dukungan untuk mengakses pendidikan formal yang maksimal. Maka kehadiran teman-teman pendamping dari PIJAR dan FPA adalah bentuk solidaritas agar mereka tetap punya akses pendidikan dan kesempatan berkembang,” katanya.
Keberhasilan penyelenggaraan Kilau Mania juga didukung berbagai institusi pendidikan di Surabaya. Di antaranya SMA/SMK Katolik St. Louis Surabaya, Program Studi PG PAUD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya, serta Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa isu perlindungan anak semakin dipandang sebagai tanggung jawab bersama. Keterlibatan sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dan organisasi masyarakat memperluas dukungan terhadap pendidikan alternatif bagi anak-anak yang hidup di kawasan marjinal.
Menutup rangkaian kegiatan, Mahrawi berharap seluruh pihak dapat terus menjaga ruang aman bagi anak, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Menurutnya, pemenuhan hak anak memerlukan keterlibatan orang tua, pemerintah, komunitas, hingga dunia usaha agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, bermain, memperoleh layanan kesehatan, serta mengekspresikan diri secara positif.***