Lewati ke konten

Penilaian Lomba Lingkungan Surabaya Pacu Pemilahan Sampah Mandiri Dua Kelurahan Pinggir Kali Tebu

| 4 menit baca |Kali Tebu | 1 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus
  • TP PKK Surabaya menilai pengelolaan sampah organik dan anorganik warga Simokerto serta Tanah Kali Kedinding.
  • Tim penilai dari DLH, akademisi, dan praktisi mengevaluasi kebiasaan pemilahan limbah rumah tangga warga.
  • Program evaluasi lingkungan ini menyasar pengurangan beban sampah kota yang masuk ke TPA Benowo.
  • Kawasan permukiman Kali Tebu menjadi percontohan program MOZAIK zero waste pendampingan lembaga lingkungan ECOTON.
  • Pengelolaan sampah dari sumbernya diharapkan mampu menekan potensi kebocoran limbah plastik ke perairan.

TIM juri meninjau pemukiman warga di RW 13 Simokerto, Kecamatan Simokerto serta RW 09 Tanah Kali Kedinding di Kecamatan Kenjeran. Penilaian ini menjadi bagian dari agenda tahunan evaluasi lingkungan tingkat Kota Surabaya. Wilayah permukiman warga tersebut berada dekat dengan aliran perairan Kali Tebu.

Kawasan ini menjadi lokasi dampingan program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) bentukan ECOTON. Melalui program percontohan ini, warga diajak mengolah limbah secara mandiri dari rumah. Penjurian difokuskan pada keberhasilan pemilahan sampah organik dan anorganik oleh warga.

“Penjuriannya ini dilakukan di minggu satu September. Dan Kelurahan Tanah Kalikedinding dan Simokerto ini mendapat giliran di tanggal sembilan, eh maaf, di tanggal 10 September 2026 atau hari ini,” kata Praktisi Zero Waste ECOTON Tonis Afrianto, saat memberikan keterangannya, Kamis, (10/9/2026).

Warga setempat menyambut positif pelaksanaan penilaian kebersihan lingkungan yang rutin digelar pemerintah kota ini. Kebiasaan memilah sampah rumah tangga telah menjadi rutinitas harian warga sehari-hari. Pemilahan awal membuat jumlah sampahterbuang menjadi jauh berkurang.

“Warga di sini sudah terbiasa memisahkan sampah basah dan sampah kering sehari-hari,” kata Mujiatiningsih, warga RW 13 Simokerto.

Mujiatiningsih menambahkan, pemilahan dari rumah membuat pengelolaan sampah menjadi jauh lebih mudah dan ekonomis.

BACA JUGA:  Jatim Siaga El Nino Godzilla, Tujuh Daerah Waspada Krisis Air dan Karhutla Mengancam

“Sampah organik menjadi bermanfaat untuk pupuk kompos tanaman, sedangkan sampah anorganik dikumpulkan ke bank sampah kelurahan, “ tutur ibu rumah tangga 55 tahun ini.

Warga dan peserta penilaian dalam kegiatan penjurian Kampung Zero Waste di Tanah Kali Kedinding, Surabaya. | Foto: Tonis Afrianto

#Penilaian Lintas Sektor Lingkungan

Proses evaluasi lapangan ini melibatkan lintas sektor agar penilaian berlangsung objektif dan menyeluruh. Agenda lomba lingkungan tahunan ini diselenggarakan oleh Tim Penggerak PKK Kota Surabaya. Tim juri memantau langsung konsistensi kebiasaan memilah sampah di setiap rumah.

“Jadi lomba ini diadakan oleh TP PKK Kota Surabaya. Lomba ini hari ini dijuri atau dinilai oleh teman-teman praktisi dari TP PKK, dari DLH Kota Surabaya, dari akademisi. Kemudian lomba ini menonjolkan pada bagaimana kawasan kelurahan tersebut atau RW tersebut mengelola sampah organik dan anorganik,” ujar Tonis.

Indikator utama penilaian menekankan pada keberlanjutan sistem pengolahan limbah di tingkat RW. Akademisi bersama praktisi memeriksa efektivitas fasilitas pemilahan yang telah dibangun masyarakat. Keterlibatan aktif warga menjadi poin krusial selama proses penilaian lapangan berlangsung.

Pengurus wilayah terus mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan kawasan. Pendampingan intensif dari pengurus lingkungan membantu warga konsisten mengolah limbah mandiri. Kesadaran bersama menjadi kunci sukses pengelolaan limbah permukiman setempat.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Kami terus mengajak seluruh warga untuk konsisten memilah sampah dari rumah,” tutur Yoyok, Ketua RW 09 Tanah Kali Kedinding.

Yoyok yang dari awal sangat mendukung program lingkungan bebas sampah ini, juga mengatakan, pendampingan dari ECOTON sangat membantu mengedukasi warga. Melalui pemilahan yang teratur, volume sampah yang dibuang ke lingkungan sekitar Kali Tebu dapat ditekan secara signifikan.

BACA JUGA:  Mengenal Bahaya EDC: Mengapa Plastik Bisa Mengganggu Hormon dan Reproduksi?
Warga RW 13 Simokerto berdiskusi mengenai pengelolaan sampah sambil memperlihatkan hasil pemilahan sampah organik dan anorganik. | Foto: Tonis Afrianto

“Kehadiran ECOTON di wilayah kami betul-betul membawa perubahan nyata. Bagi saya pribadi, Ecoton tidak hanya memberi edukasi, tetapi juga konsisten mendampingi warga dari rumah ke rumah hingga sistem pemilahan sampah ini bisa berjalan mandiri dan dirasakan manfaatnya oleh lingkungan, ” tutur Yoyok.

#Menekan Timbulan Sampah ke TPA

Pemerintah Kota Surabaya terus berupaya memangkas volume limbah yang masuk menuju TPA. Pengolahan sampah langsung dari sumbernya dinilai sebagai langkah strategis paling efektif. Model kampung MOZAIK ini diharapkan dapat diterapkan di berbagai kelurahan lainnya.

Warga dan peserta penilaian berfoto bersama dalam kegiatan penjurian Kampung Zero Waste di Tanah Kali Kedinding, Surabaya. | Foto: Tonis Afrianto

“Harapannya supaya sampah bisa terkelola di sumber dan tidak dibawa langsung ke TPS atau ke TPA untuk mengurangi timbulan sampah di TPA. Ini juga sesuai dengan program Pemerintah Kota Surabaya yang saat ini sedang berjuang untuk mengurangi timbulan sampah yang dibawa ke TPA,” tutur Tonis.

Melalui pendampingan warga yang konsisten, pencemaran sampah plastik ke sungai dapat dicegah. Warga membiasakan diri mengolah sampah organik menjadi kompos serta memilah daur ulang. Inisiatif komunitas ini memperkuat langkah kota dalam mewujudkan pengelolaan sampah berkelanjutan.

Upaya kolektif ini memberikan dampak nyata bagi kelestarian ekosistem di sekitar Kali Tebu. Aliran sungai menjadi lebih bersih dan bebas dari sumbatan sampah plastik. Gotong royong warga terbukti efektif menciptakan lingkungan hunian yang sehat.

“Program seperti ini diharapkan menjadi pemicu perubahan perilaku masyarakat secara luas,” pungkas Tonis. “Ketika setiap rumah tangga mampu mengelola sampahnya sendiri, target Surabaya bebas dari darurat sampah plastik akan lebih cepat tercapai.” ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *