Paparan mikroplastik kini menembus tubuh manusia, dari plasenta hingga organ vital, memicu kekhawatiran baru tentang dampak jangka panjang terhadap sistem hormon dan kesehatan global.
Suasana di ECOTON terasa lebih sunyi dari biasanya pada Selasa pagi, 31 Maret 2026 itu. Sejumlah mahasiswa peserta studi independen tampak serius menyimak paparan tentang ancaman mikroplastik. Isu yang mungkin saja sudah mereka pahami, sejak mengikuti studi independent di Ecoton.
Hanya saja sudahkah mereka pahami jika persoalan plastik bukan hanya persoalan lingkungan tapi menjadi persoalan kesehatan.
Selama ini, plastik dikenal sebagai masalah sampah yang mencemari sungai, laut, dan tanah. Sejak awal 2000-an, perhatian ilmuwan dunia mulai tertuju pada partikel plastik berukuran sangat kecil, yaitu mikroplastik. Partikel ini ditemukan hampir di semua kompartemen lingkungan—air laut, sedimen, udara—dan kini bahkan di dalam tubuh manusia.
“Kita sudah tidak bisa melarikan diri dari plastik. Cara paling realistis adalah mengurangi penggunaannya,” ujar Direktur Ecoton, Dr. Daru dalam pemaparannya di depan para mahasiswa itu.
Ia juga menjelaskan, mikroplastik tidak hanya berasal dari degradasi sampah plastik besar, tetapi juga dari produk sehari-hari seperti pakaian sintetis, kemasan makanan, hingga debu udara.
“Ukurannya yang sangat kecil membuatnya mudah terhirup atau tertelan, lalu masuk ke dalam sistem biologis manusia, “ ucapnya menekan.
#Jejak Mikroplastik dalam Tubuh Manusia
Temuan terbaru yang dipaparkan dalam sesi tersebut, cukup mengkhawatirkan. Mikroplastik kini terdeteksi di berbagai organ tubuh manusia, termasuk darah, paru-paru, hati, hingga plasenta. Artinya, paparan tidak hanya terjadi pada individu dewasa, tetapi juga pada bayi sejak dalam kandungan.
Menurut data yang disampaikan, usus besar menjadi organ dengan konsentrasi mikroplastik tertinggi, mencapai 15,4 ± 28,1 partikel per gram. Sementara itu, hati mencatat sekitar 4,6 partikel per gram. Jenis mikroplastik yang paling sering ditemukan antara lain polyethylene (PE), polyethylene terephthalate (PET), polypropylene (PP), polystyrene (PS), polyvinyl chloride (PVC), dan polycarbonate (PC).
Sumbernya pun dekat dengan kehidupan sehari-hari. PET misalnya, banyak ditemukan pada botol air minum sekali pakai. PP digunakan dalam wadah makanan, sementara PVC tak hanya ada pada pipa, tetapi juga dalam material seperti banner dan tirai plastik.
Paparan pada bayi bahkan disebut lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Dalam beberapa penelitian, ditemukan kandungan mikroplastik dalam kotoran bayi mencapai 5.700 hingga 82.000 nanogram per gram, dengan median sekitar 36.000 nanogram per gram—angka yang disebut bisa mencapai sepuluh kali lebih tinggi dibanding orang dewasa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa mikroplastik telah menjadi bagian dari rantai kehidupan modern. Dari lingkungan, masuk ke makanan—terutama ikan yang mengira partikel plastik sebagai plankton—lalu berakhir di tubuh manusia.
“Ketika kita makan ikan yang terkontaminasi, kita sebenarnya juga mengonsumsi mikroplastik,” kata Dr. Daru.

#Ancaman pada Sistem Hormon dan Masa Depan Kesehatan
Bahaya mikroplastik tidak hanya terletak pada partikelnya, tetapi juga pada kandungan kimia yang menyertainya. Plastik dibuat dari bahan dasar minyak bumi dan sering kali ditambahkan zat aditif seperti phthalate dan bisphenol A (BPA) agar lebih fleksibel atau kuat.
Zat-zat ini tergolong sebagai endocrine disrupting chemicals (EDC), yakni senyawa yang dapat mengganggu sistem endokrin—sistem yang bertanggung jawab mengatur hormon dalam tubuh.
“Plastik menjadi masalah bukan hanya saat menjadi sampah. Sejak proses produksinya, ia sudah membawa potensi bahaya karena kandungan kimianya,” ujar Dr. Daru.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Sistem endokrin sendiri berperan penting dalam mengatur metabolisme, pertumbuhan, hingga reproduksi. Gangguan pada sistem ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan jangka panjang, mulai dari gangguan kehamilan, penurunan kualitas sperma, hingga obesitas.
Temuan mahasiswa dari Universitas Negeri Malang dan Universitas Bojonegoro yang turut dipaparkan dalam forum tersebut memperkuat kekhawatiran ini. Mereka menunjukkan bahwa mikroplastik mampu melepaskan senyawa kimia aktif yang mengganggu keseimbangan hormon.
Paparan terhadap anak-anak juga menjadi perhatian khusus. Aktivitas bermain di sekitar tempat pembakaran atau daur ulang sampah plastik disebut meningkatkan risiko paparan. Ironisnya, lingkungan yang seharusnya menjadi ruang tumbuh justru menjadi sumber kontaminasi.
Di sisi lain, solusi struktural terhadap sampah plastik dinilai belum memadai. Sekitar 90 persen sampah disebut masih tercecer dan belum tertangani secara optimal.
#Hidup Sederhana di Tengah Krisis Plastik
Pendiri ECOTON, Prigi Arisandi, menutup sesi dengan refleksi sederhana namun tajam. Ia mengajak peserta untuk kembali pada gaya hidup yang cukup dan tidak berlebihan dalam konsumsi.
Menurutnya, membiasakan anak bermain di alam terbuka jauh lebih sehat dibandingkan membiarkan mereka tumbuh di lingkungan yang penuh material plastik. Kekhawatiran terhadap ancaman jangka pendek seperti gigitan serangga dinilai tidak sebanding dengan bahaya laten mikroplastik.
“Serangan hewan kecil itu jangka pendek. Tapi mikroplastik, dampaknya jangka panjang dan tidak terlihat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterampilan dasar seperti memasak dan bertani sebagai bentuk resistensi terhadap sistem pangan yang terlalu terindustrialisasi. Dengan demikian, ketergantungan pada produk berkemasan plastik dapat dikurangi.
Di tengah krisis yang kian kompleks, pesan itu terasa relevan: bahwa solusi tidak hanya datang dari kebijakan besar atau inovasi teknologi, tetapi juga dari perubahan gaya hidup sehari-hari.
Transisi ancaman mikroplastik—dari lingkungan ke tubuh manusia—menjadi pengingat bahwa batas antara alam dan manusia semakin kabur. Apa yang mencemari bumi, pada akhirnya, akan kembali ke dalam tubuh kita sendiri.***

Muhammad Faizul Adhim, mahasiswa Departemen Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan, Angkatan 2023 Universitas Negeri Malang yang tengah menjalani studi independen di Ecoton, berkontribusi dalam artikel ini.