Dalam 24 jam, 907 kilogram sampah terjaring di Kali Tebu Surabaya, didominasi plastik sekali pakai dan popok, mempertegas darurat pengelolaan sampah perkotaan.
Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) yang digagas Ecoton mulai menunjukkan hasil awal setelah pemasangan trash boom di Kali Tebu, Surabaya. Dalam kurun 24 jam, tim mencatat total 907 kilogram sampah yang tersaring dari aliran sungai tersebut.
Dari jumlah itu, sebanyak 757 kilogram merupakan sampah anorganik, dengan dominasi plastik sekali pakai. Sementara itu, 150 kilogram lainnya berupa sampah organik. Temuan ini memperlihatkan tingginya tekanan pencemaran di sungai perkotaan akibat perilaku konsumsi dan pengelolaan sampah yang belum optimal.
Audit yang dilakukan tim MOZAIK juga mengungkap jenis sampah paling dominan. Popok sekali pakai menempati posisi teratas, disusul sampah residu seperti kantong plastik kresek dan kemasan saset. Kondisi ini memperkuat indikasi bahwa limbah rumah tangga menjadi penyumbang utama pencemaran sungai.
Direktur Ecoton, Daru Setyorini menyampaikan, proses audit sampah yang dilakukan Tim MOZAIK memberikan gambaran nyata tentang karakter limbah yang mengalir di sungai.
“Sampah yang kami temukan didominasi popok sekali pakai. Ini menjadi peringkat pertama. Selain itu, terdapat sampah residu berupa kresek dan saset yang tidak memiliki nilai daur ulang,” kata Daru saat ditemui di TPS3R Kedung Cowek Kenjeran lokasi audit sampah plastik hasil jaringan dari Kali Tebu, Senin, (18/4/2026).
Menurut Daru, sampah residu menjadi persoalan serius karena tidak dapat diproses kembali. Limbah jenis ini akhirnya berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) dan menambah beban kapasitas yang sudah terbatas.

Kondisi di lokasi audit juga menunjukkan tantangan berat bagi tim audit. Bau menyengat dari sampah popok dan campuran limbah rumah tangga membuat proses identifikasi berlangsung dalam situasi tidak nyaman. Meski demikian, kata Daru, kegiatan tetap berjalan hingga menghasilkan data akurat sebagai dasar intervensi kebijakan.
“Sampah popok sekali pakai mendominasi temuan kami, diikuti residu seperti kresek dan saset yang tidak bisa didaur ulang. Ini alarm serius bagi pengelolaan sampah kota, ”ungkap Daru.
#Tekanan ke TPA dan Seruan Perubahan Perilaku
Dalam pandangan Daru, peningkatan volume sampah residu berpotensi mempercepat penuhnya TPA. Di Surabaya, TPA Benowo menjadi titik akhir sebagian besar sampah kota. Jika aliran residu terus meningkat, daya tampung TPA akan semakin terbebani.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Kalau masyarakat terus menggunakan plastik kresek dan kemasan saset, sampah residu akan terus bertambah. Padahal, jenis ini tidak bisa didaur ulang dan harus dibuang ke TPA,” ujar Daru.

Sebagai langkah mitigasi, Ecoton mendorong perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Selain itu, pemilahan sampah dari sumber rumah tangga dinilai sebagai langkah paling mendesak.
Daru juga menekankan pentingnya pengelolaan sampah organik. Berdasarkan data lapangan, sekitar 60 persen sampah rumah tangga merupakan sampah organik. Jika dipilah dan diolah sejak dari rumah, volume sampah yang dikirim ke TPA dapat berkurang signifikan.
“Pengolahan sampah organik bisa menekan hingga 60 persen beban TPA. Ini langkah paling efektif yang bisa dilakukan semua rumah tangga,” kata Daru.
Pengolahan tersebut dapat dilakukan melalui komposting, produksi eco-enzyme, hingga budidaya maggot. Selain mengurangi beban lingkungan, metode ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Program MOZAIK di Kali Tebu menjadi bagian dari upaya sistematis untuk menahan laju sampah menuju laut. Melalui kombinasi teknologi, audit merek, dan edukasi publik, Ecoton berharap intervensi ini dapat menjadi model pengelolaan sampah berbasis data di kawasan perkotaan.
Ajakan memilah sampah dari rumah perlu digaungkan sebagai langkah paling sederhana sekaligus tegas dan paling berdampak dalam menghadapi persoalan sampah yang kian mendesak.***