Sinergi DLH Surabaya dan Ecoton mengungkap paparan mikroplastik, menjaring ratusan kilogram sampah, serta menekan perubahan perilaku warga dari hulu hingga hilir sungai kota.
Peringatan Hari Bumi di Surabaya tahun ini diarahkan pada langkah yang lebih konkret: membongkar persoalan yang selama ini tersembunyi di balik aliran sungai kota. Pemerintah Kota Surabaya bersama Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) memanfaatkan momentum ini untuk memperlihatkan realitas pencemaran plastik secara terbuka kepada publik.
Kegiatan berlangsung dalam Forum SheHeros by Bumbi bertema “She Changes the Earth” yang digelar di kawasan Car Free Day Jalan Tunjungan, Ahad (26/4/2026).
Ratusan perempuan terlibat aktif dalam rangkaian edukasi dan aksi lingkungan. Salah satu yang menarik perhatian adalah booth Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) yang menghadirkan uji mikroplastik secara langsung kepada pengunjung.
Sebanyak 50 partisipan mengikuti uji menggunakan mikroskop portabel. Hasilnya menunjukkan seluruh sampel terindikasi mengandung mikroplastik dengan jenis dominan fiber dan fragmen.
“Awalnya saya kira ini cuma isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Tapi setelah lihat langsung hasil uji, rasanya seperti ditampar. Ternyata yang kita anggap sepele sudah masuk ke tubuh kita tanpa terasa,” kata Keisha Estiya Safira di lokasi kegiatan, Ahad, (26/4/2026).
Ia juga mengaku temuan Ecoton mengubah cara pandangnya terhadap persoalan lingkungan. “Ini bukan lagi isu lingkungan semata. Kalau kita cermati, mikroplastik sudah ada dalam tubuh kita sendiri,” ujarnya.

#Mikroplastik dan Tekanan dari Hilir
Data pemantauan Kali Tebu yang ditampilkan dalam kegiatan memperkuat temuan jika dalam setiap 100 liter air, ditemukan rata-rata 82 partikel mikroplastik, dengan angka tertinggi mencapai 123 partikel di wilayah hilir.
Temuan ini mencerminkan tekanan pencemaran yang terus meningkat dan berpotensi mengancam ekosistem serta kesehatan manusia.
Tim MOZAIK mencatat sebanyak 907 kilogram sampah berhasil dijaring dari aliran Kali Tebu. Volume itu menunjukkan bahwa kebocoran sistem pengelolaan sampah masih terjadi dari daratan menuju badan sungai.
Founder Ecoton, Prigi Arisandi, memgungkapkan bahwa kondisi ini merupakan dampak langsung dari pola konsumsi masyarakat yang masih bergantung pada plastik sekali pakai.
“Kita sedang menghadapi persoalan yang kita ciptakan sendiri. Sampah di Kali Tebu itu bukan datang dari langit, melainkan dari dapur, pasar, dan kebiasaan harian kita,” kata Prigi.
Menurut peneliti sungai ini, bahwa penanganan persoalan tidak dapat berhenti pada kegiatan pembersihan sungai. Perubahan harus dimulai dari sumbernya, yakni perilaku konsumsi masyarakat.
“Selama masyarakat masih bergantung pada plastik sekali pakai dan produk sachet, sungai akan terus jadi tempat pelarian terakhir. Perubahan gaya hidup itu menjadi keharusan,” ujarnya.
Program MOZAIK dikembangkan dengan pendekatan sistemik melalui pemasangan trash boom, pengelolaan sampah berbasis kawasan, serta edukasi masyarakat.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Kalau sungai sudah jadi titik akhir, itu tanda sistem di darat gagal. Karena itu kami tidak bisa bekerja sendiri. Sinergi dengan Pemerintah Kota Surabaya penting untuk menutup celah dari hulu, mulai dari kebijakan, pengawasan, sampai perubahan perilaku warga,” kata Prigi.
“Tanpa itu, yang dilakukan di sungai hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikan, ” tadas Prigi.

*Sinergi Pemerintah dan Komunitas*
Pemerintah Kota Surabaya menegaskan komitmennya dalam mendukung upaya tersebut. Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, M. Fikser, hadir langsung dalam kegiatan dan berdialog dengan tim Ecoton serta peserta.
Menurut Fikser, sinergi antara Pemerintah Kota Surabata dan Ecoton menjadi kunci dalam memperkuat efektivitas pengelolaan lingkungan.
“Kami melihat pendekatan berbasis komunitas mampu menjangkau hal-hal yang tidak selalu tersentuh oleh program pemerintah. Partisipasi warga menjadi kunci dalam pengelolaan sampah,” kata Fikser.
Fikser menambah, Pemerintah Kota Surabaya terus memperkuat kebijakan pengurangan sampah sekali pakai, termasuk mendorong penanganan limbah spesifik seperti popok dan pembalut.
“Pengelolaan sampah tidak bisa lagi disamaratakan. Ada jenis limbah yang membutuhkan penanganan khusus, dan itu harus mulai dibangun dari sekarang. Sinergi dengan Ecoton menjadi bagian dari upaya tersebut,” kata Fikser.
Dalam pertemuan itu juga terungkap, bahwa keterlibatan perempuan dalam kegiatan dinilai cukup strategis, mengingat peran dalam menentukan pola konsumsi rumah tangga yang berpengaruh langsung terhadap produksi sampah.
Bagi peserta, pengalaman melihat langsung mikroplastik memberikan perspektif baru terhadap kondisi sungai di perkotaan.
“Data dari Kali Tebu menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga kesehatan kita sendiri,” kata Keisha.
Melalui sinergi antara pemerintah dan komunitas, penanganan sampah di Kali Tebu diarahkan pada perubahan perilaku yang berkelanjutan. Edukasi, riset, dan intervensi teknis berjalan bersamaan untuk memperkuat keterlibatan publik.
Tanpa perubahan tersebut, temuan ratusan kilogram sampah berpotensi hanya menjadi catatan sementara—sebelum kembali bertambah dari kebiasaan yang belum berubah.***