Uji coba MOZAIK di Kali Tebu Surabaya memadukan teknologi penahan sampah, pemilahan berlapis, serta audit merek untuk menekan aliran plastik menuju laut secara sistematis.
Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) memulai uji coba pengendalian sampah di Kali Tebu, Surabaya, dengan memasang trash boom sebagai penahan aliran sampah. Pemasangan dilakukan pada Jumat, 24 April 2026, lalu dilanjutkan Sabtu, 25 April 2026, dengan pengangkatan sampah untuk memastikan efektivitas alat, selama 24 jam menahan limbah dari hulu.
Kali Tebu selama ini dikenal sebagai salah satu titik dengan tingkat pencemaran tinggi di kawasan pesisir Surabaya utara. Sampah rumah tangga, terutama plastik sekali pakai, mengalir tanpa kendali dan bermuara ke laut.
Koordinator Evakuasi Trash Boom MOZAIK, Heri Purnomo, menjelaskan proses pemasangan dilakukan bertahap. “Kemarin, Jumat, kami pasang sekitar pukul sembilan pagi. Hari Sabtu ini kami angkat untuk mengambil sampah-sampah yang tertahan, kemudian direncanakan dilakukan brand audit,” kata Heri di lokasi, Sabtu, 25 April 2026.
Heri menambahkan, proses pengangkutan sampah berlangsung lebih lama dari perkiraan. “Karena waktu cukup mendesak menjelang sore, pengangkutan baru bisa diselesaikan bertahap. Untuk brand audit, rencananya kami lakukan hari Senin (27 April 2026). Sementara sampah kami titipkan di TPS3R Kedung Cowek,” ujarnya.
#Intervensi dari Hulu hingga Hilir
Program MOZAIK dirancang untuk menjangkau seluruh aliran sungai melalui pembagian wilayah kerja. Enam kelurahan di Kecamatan Kenjeran menjadi titik intervensi yang dibagi dalam segmen hulu, tengah, dan hilir. Skema ini memastikan tidak ada bagian sungai yang luput dari pengawasan.
Trash boom yang dipasang berfungsi sebagai penghalang fisik. Struktur alat menggunakan pipa PVC dan rangka logam dengan jaring berpori kecil agar mampu menangkap plastik berukuran mikro hingga sedang.
Setelah sampah tertahan, tim memindahkannya ke minidock untuk ditiriskan sebelum dibawa ke titik pengumpulan utama. Dari lokasi ini, proses pemilahan dilakukan secara rinci.
Pemilahan tahap pertama memisahkan sampah ke dalam puluhan kategori material. Tahap berikutnya mengelompokkan material berdasarkan jenis dan warna untuk meningkatkan nilai ekonomi. Sampah yang telah terpilah kemudian dipadatkan sebelum dikirim ke mitra daur ulang.

#Data dan Audit Merek
Pendekatan MOZAIK menempatkan data sebagai fondasi utama. Setiap jenis sampah yang terkumpul dicatat untuk mengetahui komposisi dominan sekaligus menelusuri sumber pencemaran di aliran sungai.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Manager Data dan Informasi MOZAIK, Alaika Rahmatullah, mengatakan pemilahan rinci memungkinkan penyusunan basis data yang kuat. “Pemilahan hingga puluhan kategori memberi gambaran komposisi sampah secara detail. Dari situ dapat ditelusuri merek yang paling banyak ditemukan melalui brand audit,” kata Alaika.
Ia menambahkan, proses brand audit belum dilakukan pada tahap awal uji coba karena keterbatasan waktu. “Untuk saat ini kami belum melakukan brand audit. Insyaallah besok baru kami lakukan,” ujar Alaika.
Menurut dia, brand audit penting untuk mendorong tanggung jawab produsen terhadap kemasan plastik yang berakhir di sungai. Data lapangan tersebut menjadi dasar advokasi lingkungan berbasis bukti.
Selain pendekatan berbasis data, MOZAIK Ecoton juga menjalankan intervensi berbasis masyarakat di enam kelurahan. Kegiatannya meliputi pengelolaan sampah sungai, pembersihan rutin dengan partisipasi warga melalui pembentukan satuan tugas, hingga pengurangan sampah dari sumber melalui pemilahan dan praktik guna ulang.
Program ini juga mencakup Sekolah Zero Waste MOZAIK serta pendekatan GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) untuk memastikan keterlibatan kelompok rentan dalam pengelolaan lingkungan.
Manajer Program MOZAIK, Amiruddin Muttaqin, mengatakan pendekatan yang dijalankan tidak hanya berfokus pada penanganan di hilir, tetapi juga perubahan sistem dari hulu. “MOZAIK berfokus pada tiga hal utama, yaitu mencegah sampah bocor ke laut, mengurangi timbulan sampah dari sumbernya, serta mendorong perubahan perilaku masyarakat,” kata Amiruddin.
Melalui rangkaian intervensi tersebut, Kali Tebu diharapkan menjadi contoh praktik pengelolaan sampah berbasis sungai dan komunitas. Upaya ini juga diarahkan untuk menekan aliran pencemaran plastik yang selama ini bermuara ke laut.***