Program MOZAIK menyosialisasikan bahaya mikroplastik di Kali Tebu Surabaya, memaparkan riset terbaru, serta mendorong warga mengubah perilaku pengelolaan sampah domestik secara kolektif.
Suasana basecamp MOZAIK di kawasan Platuk Donomulyo, Tambak Wedi, Kenjeran, Surabaya, tampak berbeda. Warga yang tinggal di sepanjang aliran Kali Tebu berkumpul mengikuti sosialisasi lanjutan program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) yang digagas Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton).
Kegiatan ini tidak hanya dihadiri warga sekitar lokasi kegiatan, tetapi juga masyarakat dari titik-titik permukiman lain yang berada di bantaran sungai, juga mahasiswa dan komunitas.
Dalam kegiatan, warga diperkenalkan pada bahaya mikroplastik melalui pemutaran film dokumenter Menolak Punah. Film karya Dandhy Laksono dan Aji Yahuti yang dirilis April 2026 itu menyoroti dampak industri fast fashion dan limbah tekstil terhadap lingkungan, termasuk kontribusinya terhadap pencemaran mikroplastik.
Diskusi berlangsung setelah pemutaran film. Warga mengaitkan persoalan yang diangkat dalam film dengan kondisi nyata di Kali Tebu. Edukasi menjadi pintu masuk untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah, terutama plastik sekali pakai dan limbah domestik.
Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, mengatakan pendekatan sosialisasi ini sengaja dirancang agar warga tidak hanya memahami persoalan, tetapi juga merasa memiliki tanggung jawab terhadap sungai.
“Sungai itu cermin perilaku kita. Kalau kita masih membuang sampah sembarangan, maka mikroplastik akan terus terbentuk dan masuk ke rantai makanan,” ujarnya, Senin malam, 27 April 2026.

#Temuan Mikroplastik di Lima Stasiun
Dalam kesempatan, Muhammad Rofi’ul Ihsan, mahasiswa Biologi Universitas Negeri Surabaya, memaparkan hasil penelitian yang ia beri judul Uji Mikroplastik dan Kualitas Air di Kali Tebu Surabaya.
Penelitian yang dilakukan di lima titik sampling sepanjang aliran sungai, dari hulu hingga hilir ditemukan hasil yang memprihatinkan.
Rofi’ul menjelaskan, mikroplastik ditemukan di seluruh stasiun pengamatan. “Kami menemukan total partikel mikroplastik di setiap titik, dengan jumlah tertinggi di Stasiun 5 wilayah hilir Tambak Wedi sebanyak 123 partikel,” katanya.
Mahsiswa yang sedang studi independen di Ecoton itu, juga merinci distribusi temuan mikroplastik dalam penelitiannya, yaitu 40 partikel di Stasiun 1, 52 partikel di Stasiun 2, 107 partikel di Stasiun 3, 88 partikel di Stasiun 4, dan puncaknya 123 partikel di Stasiun 5. Pola ini menunjukkan adanya peningkatan akumulasi mikroplastik ke arah hilir.
Menurut Rofi’ul, jenis mikroplastik yang paling dominan adalah fiber atau serat. “Fiber ini biasanya berasal dari limbah domestik, seperti cucian pakaian berbahan sintetis. Selain itu, kami juga menemukan fragmen, film, pellet, dan foam,” ujarnya.
Fragmen ditemukan cukup merata di semua titik, sedangkan film dan foam cenderung meningkat di wilayah hilir yang padat aktivitas manusia. Adapun pellet, meski jumlahnya kecil, diduga berasal dari aktivitas industri plastik.
Metode penelitian dilakukan melalui penyaringan sampel air, pemisahan partikel menggunakan larutan natrium klorida (NaCl), dan identifikasi menggunakan mikroskop stereo. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi jenis mikroplastik secara lebih rinci.
Rofi’ul menegaskan bahwa peningkatan jumlah mikroplastik di hilir erat kaitannya dengan akumulasi limbah dari aktivitas manusia di sepanjang aliran sungai. “Sumber utamanya tetap dari aktivitas domestik, terutama plastik sekali pakai dan limbah rumah tangga,” katanya.
#Kualitas Air dan Indikasi Pencemaran
Selain mikroplastik, penelitian ini juga mengukur kualitas air berdasarkan parameter suhu, pH, dissolved oxygen (DO), dan total dissolved solids (TDS). Hasilnya menunjukkan kondisi yang beragam di setiap titik.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Secara umum, suhu air berada dalam kisaran normal, antara 30,9 hingga 32,2 derajat Celsius. Nilai pH juga tergolong netral, berkisar antara 7,04 hingga 7,19, yang masih sesuai dengan baku mutu air.
Namun, kondisi berbeda terlihat pada parameter DO dan TDS. Di beberapa titik, terutama di bagian hilir, nilai DO tercatat sangat rendah, bahkan di bawah 2 mg/L. “Nilai DO serendah ini menunjukkan bahwa kandungan oksigen terlarut tidak cukup untuk mendukung kehidupan organisme air secara optimal,” ujar Rofi’ul.
Sementara itu, nilai TDS justru meningkat di wilayah hilir, dengan angka tertinggi mencapai 679 mg/L. Tingginya TDS mengindikasikan banyaknya zat terlarut dalam air, yang umumnya berasal dari limbah domestik maupun aktivitas manusia lainnya.
Kepala Laboratorium Ecoton, Rafikan Aprilianti menilai, kombinasi rendahnya DO dan tingginya TDS merupakan sinyal kuat adanya pencemaran. “Data ini menunjukkan tekanan lingkungan yang serius. Sungai masih terlihat normal dari sisi suhu dan pH, tetapi secara biologis sudah mengalami penurunan kualitas,” ujarnya.

Menurut Rafikan, mikroplastik dan parameter kualitas air harus dibaca secara bersamaan. Mikroplastik tidak hanya menjadi indikator pencemaran, tetapi juga berpotensi membawa zat berbahaya yang dapat memperburuk kondisi ekosistem.
#Dorongan Perubahan Perilaku
Hasil penelitian ini memperkuat urgensi perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah. Prigi Arisandi menegaskan bahwa solusi tidak bisa hanya mengandalkan teknologi seperti trash boom atau pembersihan sungai.
“Kalau sumber sampahnya tidak dihentikan, maka sungai akan terus tercemar. Yang paling penting adalah perubahan dari rumah tangga, mulai dari memilah sampah hingga mengurangi plastik sekali pakai,” katanya.
Pendapat serupa disampaikan Lilis Kurniawati, guru RA Al Iksan yang berada di Jalan Dukuh Bulak Banteng. Ia mengaku kegiatan sosialisasi ini membuka wawasan warga, terutama terkait dampak mikroplastik terhadap kesehatan.
“Selama ini kami hanya tahu sungai kotor, tapi tidak paham bahwa partikel kecil seperti mikroplastik bisa masuk ke tubuh manusia. Ini sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.
Lilis menambahkan, edukasi semacam ini penting untuk anak-anak dan keluarga. “Kalau sejak kecil sudah diajarkan tidak membuang sampah sembarangan, dampaknya akan besar ke depan,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, Ecoton melalui program MOZAIK mendorong pemantauan rutin kualitas air dan mikroplastik di Kali Tebu. Selain itu, warga diharapkan mulai menerapkan pengelolaan limbah domestik yang lebih baik.
Penelitian ini menegaskan bahwa Kali Tebu bukan sekadar sungai kecil di kawasan perkotaan, melainkan ekosistem yang tengah menghadapi tekanan serius. Upaya kolaboratif antara masyarakat, peneliti, dan organisasi lingkungan menjadi kunci untuk memulihkan kondisi sungai.
“Menjaga sungai berarti menjaga kehidupan,” kata Rofi’ul.***