Kali Tebu di Kenjeran Surabaya menyimpan riwayat panjang. Dari aliran bening tempat memancing, kini berubah menjadi sungai penuh sampah yang menunggu perhatian serius.
Tulisan 4
Ada kisah yang berulang setiap kali Kali Tebu dibicarakan. Kisah tentang nama yang tak pernah benar-benar pasti asal-usulnya. Warga hanya mewarisi cerita, tanpa catatan yang benar-benar mengikat.
Yoyo, begitu ia meminta namanya disebut. Sebagai warga Bulak Banteng, tumbuh bersama riwayat sungai yang mengalir di dekat rumahnya. Ingatan tentang Kali Tebu tidak muncul sebagai cerita tunggal, melainkan serpihan kisah yang diwariskan dari mulut ke mulut.
Salah satu versi yang masih bertahan menyebut bantaran sungai pernah dipenuhi pedagang es tebu. Di tepian aliran, mesin pemeras sederhana berderit tanpa henti, menggiling batang tebu menjadi air manis yang dijajakan kepada warga yang melintas. Suara logam dan kayu yang saling beradu menjadi latar keseharian, menyatu dengan arus sungai yang kala itu masih bersih.
“Dulu banyak penjual es tebu di bantaran. Mungkin dari situ orang-orang menyebutnya Kali Tebu,” kata Yoyo saat bersambang di basecamp MOZAIK, setelah mengikuti diskusi dan menonton dokumenter Menolak Punah Senin malam, 27 April 2026.
Memang malam itu kami sedang berkumpul bersama warga yang tinggal di bantaran Kali Tebu, mahasiswa dan beberapa komunitas, menonton dokumneter Menolak Punah yang sutradarai Dandhy Laksono dari Watcdoc.
Pas dalam dokumenter, pelaku peran Prigi Arisandi pendiri Ecoton yang menginisiasi program MOZAIK di Kali Tebu.
Versi itu tidak pernah dipastikan. Yoyo sendiri tidak sepenuhnya yakin. Nama lain justru lebih akrab di ingatannya: Kali Pogot. Sebutan itu merujuk pada wilayah hulu sungai yang diduga berada di kawasan Pogot, Tanah Kali Kedindng.
“Kalau dulu saya lebih mengenalnya Kali Pogot,” ucapnya.
Sebutan boleh berubah, ingatan tetap melekat. Jika sungai itu pernah menjadi bagian hidup warga Simokerto, Tanah Kali kedinding, Tambak Wedi, dan Bulak Banteng.
Bagaimana waktu itu, diceritakan Yoyo, lahan di sekitarnya belum padat penduduk seperti sekarang, masih berupa hamparan sawah.

#Air Bening dan Kenangan Memancing
Akhir 1990-an menjadi masa yang masih bisa dikenang dengan jelas. Air Kali Tebu belum seburam sekarang. Tidak sebening sungai pegunungan, tetapi cukup jernih untuk melihat arus yang bergerak pelan.
Yoyo masih menyimpan ingatan tentang aktivitas sederhana di tepian sungai. Waktu dihabiskan untuk memancing di sepanjang aliran. Pengalaman itu tertanam kuat, menjadi pembanding dengan kondisi hari ini.
“Sekitar tahun 1999 airnya masih bening. Saya pernah mancing di sana,” ujarnya. Saat itu, Yoyo masih duduk di kelas dua SMP YP 17 di Jalan Randu Sidotopo Wetan, Kecamatan Kenjeran.
Perubahan mulai terasa seiring meningkatnya aktivitas permukiman. Sungai yang dulu menjadi ruang hidup perlahan berubah fungsi menjadi saluran buangan, seperti bak sampah terbuka.
Ketika air laut pasang, aliran sungai terdorong naik. Di kawasan hilir, tepatnya di Tambak Wedi, berdiri pompa air yang berfungsi mengatur debit agar wilayah sekitar tidak tergenang.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Dalam ingatan Yoyo, pertemuan antara air laut yang asin dan aliran sungai yang tawar menghadirkan pemandangan tersendiri. Ikan-ikan bermunculan di permukaan, menjadi penanda keseimbangan yang pernah terjaga.
Seorang rekannya, Hendro asal Krian, Sidoarjo, yang juga sedang bersambang ke basecamp MOZAIK, sempat mempertanyakan fungsi pompa. Pertanyaan sederhana itu mencerminkan jarak antara warga dengan sistem yang bekerja di lingkungannya.
“Pompa itu untuk melepas air supaya wilayah sini tidak banjir,” kata Yoyo, yang saat ini juga pelaku Urban Farming, yang ketika era Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, sempat menjadi program unggulan Pemerintah Kota Surabaya.
Infrastruktur sudah hadir pada masa itu, tetapi tidak selalu diiringi pemahaman bersama. Sungai tetap berjalan di antara dua tarikan: logika alam dan tekanan aktivitas manusia.

#Banjir, Kehilangan, dan Sungai yang Sakit
Tahun 2021 menjadi titik penting dalam ingatan Yoyo. Kawasan Bulak Banteng dan sekitarnya dilanda banjir. Air meluap, membawa lumpur dan merendam permukiman.
Peristiwa itu bukan hanya meninggalkan kerusakan, tetapi juga menghapus jejak dokumentasi. Foto dan video yang sempat merekam kondisi Kali Tebu tahun 2015-2020, hilang tersapu banjir.
“Saya dulu punya foto dan video Kali Tebu, tapi hilang waktu banjir 2021,” ucapnya, dengan wajah mengingat masa lalu itu.
Yoyo memang dikenal sebagai dokumenter. Berbagai peristiwa yang berkaitan dengan lingkungan, agraria maupun isu-isu sosial, kerap direkamnya dalam bentuk film. Salah satu proyek yang tengah digarap berkisah tentang konflik perampasan lahan di Pakel, Banyuwangi.
Hilangnya dokumentasi Kali Tebu yang pernah disimpannya membuat cerita tentang masa lalu kian bergantung pada ingatan. Tanpa arsip visual, kondisi sungai yang dulu lebih baik bertahan dalam narasi lisan.
Kini, kondisi Kali Tebu jauh berbeda. Aliran air tertutup sampah plastik dan limbah rumah tangga. Permukaan sungai sulit dikenali sebagai ekosistem yang hidup. Yang terlihat adalah lapisan kotoran yang mengendap dan mengalir bersamaan.
Jika sungai dapat merasakan sakit, barangkali beban yang ditanggung Kali Tebu sudah terlalu berat. Sungai itu tidak hanya menampung air, tetapi juga menanggung akumulasi perilaku manusia yang mengabaikan keberlanjutan.
Cerita tentang Kali Tebu perlu diulang, bukan untuk romantisme masa lalu, melainkan sebagai pengingat. Sungai ini pernah menjadi ruang hidup, bukan tempat pembuangan.
“Yang saya ingat, dulu sungai ini masih bisa dinikmati,” kata Yoyo.
Sederhana memang pernyataan Yoyo itu, tetapi mengandung jarak yang panjang antara masa lalu dan sekarang. Kali Tebu mengalir sebagai saksi perubahan, sekaligus cermin bagaimana kota memperlakukan lingkungannya sendiri.
Tanpa upaya serius, kisah yang tersisa hanya akan menjadi nostalgia. Sementara sungai terus menanggung beban yang tidak pernah dipilihnya.***