Lewati ke konten

Siswa SMPN 25 Surabaya Temukan Mikroplastik di Air, Udara, dan Tubuh di Kegiatan Microplastic Journey ECOTON

| 5 menit baca |Mikroplastik | 2 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Sampel udara indoor SMPN 25 Surabaya mengandung 34 partikel mikroplastik, dengan granule terbanyak sebanyak 16 partikel atau 47,1 persen tercatat.
  • Sampel udara outdoor menemukan 29 partikel mikroplastik, terdiri atas 18 fragmen, 9 fiber, dan 2 filamen, dengan fragmen mencapai 62,1 persen.
  • Pengujian udara SMPN 25 Surabaya menemukan total 63 partikel mikroplastik, terdiri atas 34 partikel indoor dan 29 outdoor selama kegiatan.
  • Pada udara indoor ditemukan 16 granule, 12 fiber, 4 fragmen, dan 2 film dari total 34 partikel mikroplastik yang diamati.
  • Udara outdoor mengandung 18 fragmen, 9 fiber, dan 2 filamen, dengan fragmen menjadi bentuk mikroplastik paling dominan mencapai 62,1 persen.

Penulis: Tasya Husna, merupakan pengelola publikasi ilmiah Environmental Pollution Journal (EPJ) dan bagian dari tim peneliti ECOTON. Fokus kajiannya mencakup perubahan iklim, kualitas air sungai, serta pencemaran mikroplastik.

SEBANYAK 60 siswa SMP Negeri 25 Surabaya menemukan mikroplastik dalam sejumlah sampel lingkungan sekolah. Temuan itu diperoleh melalui kegiatan Microplastic Journey bersama ECOTON, Rabu (9/9/2026).

Para siswa menguji sampel air keran, udara dalam dan luar ruangan. Pengujian juga dilakukan melalui metode swab pada tangan dan wajah siswa.

Dari pengujian air keran dekat aula, ditemukan 45 partikel mikroplastik. Partikel tersebut terdiri atas 15 fiber dan 30 fragmen.

Temuan tersebut menunjukkan mikroplastik berada pada lingkungan aktivitas sehari-hari. Namun, keberadaan partikel dalam sampel tidak otomatis menunjukkan risiko kesehatan tertentu.

Kegiatan diikuti kelompok SDGs, Lingkungan Hidup, OSIS, perwakilan kelas. Siswa SMP Taman Pelajar Surabaya juga mengikuti kegiatan tersebut.

Peserta mengamati hasil pengujian mikroplastik melalui mikroskop dalam sesi praktik bersama ECOTON di SMPN 25 Surabaya. | Dok. Microplastic Journey

#Mikroplastik Ditemukan pada Air dan Udara Sekolah

Pengujian udara menunjukkan adanya beberapa bentuk mikroplastik. Sampel udara indoor mengandung empat fragmen dan 16 granule.

BACA JUGA:  Warga Surabaya Keluhkan Pajak Kendaraan: Antara NJKB, Depresiasi, dan Dompet yang Menipis

Selain itu, ditemukan 12 fiber serta dua film pada sampel tersebut. Sementara sampel udara outdoor menunjukkan sembilan fiber dan 18 fragmen.

Siswa juga menemukan dua partikel berbentuk filamen dalam udara luar. Pengujian kemudian dilanjutkan menggunakan metode swab pada tangan siswa.

Hasil swab tangan menunjukkan 20 fragmen dan 10 fiber. Selain itu, ditemukan lima granule dan enam film dalam sampel.

Sementara itu, pengujian pada wajah menemukan enam partikel mikroplastik. Seluruh temuan tersebut diamati siswa melalui kegiatan praktik menggunakan mikroskop.

Salah satu siswa kelas delapan, Bela, memperoleh pemahaman baru. Ia mengetahui hubungan paparan sinar ultraviolet dengan proses pelapukan plastik.

“Oh ternyata sinar UV itu juga ada kaitannya dengan mikroplastik ya, Kak,” ujar Bela.

Dalam sesi pembelajaran, siswa dijelaskan mengenai proses degradasi plastik. Paparan ultraviolet dapat mempercepat pelapukan material plastik secara bertahap.

Proses tersebut dapat membuat plastik terpecah menjadi partikel berukuran lebih kecil. Partikel berukuran sangat kecil itu kemudian dapat dikategorikan sebagai mikroplastik.

Grafik menunjukkan temuan mikroplastik pada sampel udara indoor dan outdoor SMPN 25 Surabaya. Sampel indoor menemukan 34 partikel, sedangkan outdoor 29 partikel. | desain AI

#Siswa Belajar Menemukan Mikroplastik melalui Mikroskop

Praktik menggunakan mikroskop menjadi bagian penting kegiatan tersebut. Siswa dapat mengamati langsung partikel yang ditemukan dalam sampel.

Bagi peserta SMP Taman Pelajar Surabaya, praktik tersebut memberikan pengalaman berbeda. Mereka mendapatkan materi sekaligus kesempatan melakukan pengamatan secara langsung.

“Menyenangkan karena diadakan langsung ke sesi praktik dengan mikroskop,” ujar perwakilan siswa tersebut.

Menurutnya, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai cara mengurangi paparan mikroplastik. Ia mengaitkan upaya menjaga lingkungan dengan penerapan pola hidup sehat.

“Hidup sehat maka lingkungan juga sehat,” ujarnya.

Kegiatan tersebut mendorong siswa memahami pencemaran dari lingkungan terdekat. Mereka belajar mengumpulkan sampel, mengamati, mencatat, serta mendiskusikan hasilnya.

Pendekatan praktik juga memperkenalkan proses penelitian kepada siswa sekolah menengah. Siswa kemudian diajak menghubungkan aktivitas manusia dengan persoalan pencemaran plastik.

Siswa mengikuti praktik identifikasi mikroplastik menggunakan mikroskop dalam kegiatan edukasi lingkungan Microplastic Journey ECOTON. | Dok. Microplastic Journey

# Perkuat Program Lingkungan dan Sekolah Adiwiyata

Siswa kelas 8C SMPN 25 Surabaya, Pradita Alzam, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan ECOTON memperluas pemahaman siswa mengenai plastik dan mikroplastik.

“Adanya kegiatan kunjungan Microplastic Journey ke sekolah kami, SMPN 25, ini sangat bermanfaat tentunya dikarenakan mensosialisasikan terkait bahayanya penggunaan plastik dan mikroplastik,” ujar Pradita.

Pradita mengatakan sekolahnya telah menjalankan program pencegahan sampah plastik. Salah satunya melalui program GPBLHS yang berlangsung setiap Jumat.

“Aksi yang sudah sekolah kami lakukan untuk pencegahan plastik yaitu mengadakan program kerja bernama GPBLHS yang diadakan setiap Jumat dan dikoordinasikan oleh guru serta siswa LH atau Lingkungan Hidup,” katanya.

Program tersebut memberikan pengetahuan mengenai pemilahan dan pengurangan penggunaan plastik. Kegiatan melibatkan guru serta siswa yang tergabung dalam Lingkungan Hidup.

Kepala SMPN 25 Surabaya, Drs. Husaini Efendi, menyebut kegiatan tersebut relevan. Sekolahnya merupakan sekolah Adiwiyata yang memberi perhatian terhadap persoalan penggunaan plastik.

“SMPN 25 merupakan salah satu sekolah yang pertama kali mendapatkan ilmu dari ECOTON,” ujar Husaini Efendi.

Ia mengatakan pendidikan lingkungan perlu diterapkan di sekolah dan rumah. Menurutnya, pengurangan plastik menjadi bagian penting dalam mewujudkan lingkungan sekolah bersih.

Perwakilan guru SMPN 25 Surabaya, Sri Wahyuni, juga menyambut kolaborasi tersebut. Ia menilai kegiatan tersebut dapat membuka ruang penelitian bagi siswa.

“Kolaborasi dengan ECOTON ini menjadi wadah bagi siswa-siswi untuk mengembangkan penelitian mengenai plastik,” ujar Sri Wahyuni.

BACA JUGA:  Menghentikan Metana, Menyelamatkan Kota dari Krisis Iklim

Menurut Sri, isu mikroplastik memiliki keterkaitan dengan program Sekolah Adiwiyata. Ia berharap siswa memperoleh pengetahuan serta pengalaman melalui kegiatan Microplastic Journey.

Kegiatan tersebut menempatkan siswa sebagai peserta aktif dalam proses pembelajaran lingkungan. Mereka diajak mengamati persoalan mikroplastik melalui bukti dari lingkungan sekitar.

Temuan dari kegiatan ini menjadi bahan edukasi bagi para peserta. Pengujian tersebut juga memperkenalkan pentingnya pengurangan sumber pencemaran plastik.

Bagi SMPN 25 Surabaya, kegiatan ini memperkuat agenda pendidikan lingkungan. Sekolah berharap kebiasaan mengurangi plastik dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *