Lewati ke konten

Menghentikan Metana, Menyelamatkan Kota dari Krisis Iklim

| 6 menit baca |Ekologis | 25 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Lonjakan emisi metana dari TPA menjadikan pengelolaan sampah organik sebagai strategi paling cepat menekan pemanasan global sekaligus menyelamatkan anggaran daerah dan keselamatan warga.

Tumpukan sampah menggunung di TPA Solo saat diguyur hujan, memicu limpasan dan potensi pencemaran. Ecoton melalui Alaika Rahmatullah menegaskan, salah satu sumber utama mikroplastik dalam air hujan berasal dari praktik pembakaran sampah terbuka (open burning) yang masih marak terjadi di masyarakat, sebagaimana dikutip Radar Solo. | Foto: M Ihsan/Radar Solo

 Selama bertahun-tahun, diskusi perubahan iklim hampir selalu berpusat pada karbon dioksida (CO₂). Gas ini memang menjadi penyumbang terbesar pemanasan global secara akumulatif. Namun dalam satu dekade terakhir, perhatian ilmuwan bergeser pada gas lain yang dampaknya jauh lebih agresif dalam jangka pendek: metana (CH₄).

Jika CO₂ bekerja seperti pemanas ruangan yang perlahan meningkatkan suhu, metana bertindak seperti selimut termal tebal yang langsung memerangkap panas di atmosfer.

Dalam perhitungan Potensi Pemanasan Global (Global Warming Potential/GWP), metana memiliki daya pemanasan hingga 85 kali lebih kuat dibandingkan CO₂ dalam periode 20 tahun pertama. Angka ini menjadikannya target paling efektif untuk ditekan jika dunia ingin memperlambat kenaikan suhu bumi secara cepat.

Ironisnya, sumber metana terbesar justru berasal dari aktivitas sehari-hari manusia di kota: sampah organik yang membusuk di tempat pemrosesan akhir (TPA). Ketika sisa makanan, daun, dan limbah dapur tertimbun tanpa oksigen, proses dekomposisi anaerobik menghasilkan gas metana dalam jumlah besar.

Menurut Amiruddin Muttaqin, Manager Program Pengurangan Methane TPA ECOTON, persoalan ini sering diremehkan karena tidak terlihat langsung.

“Metana tidak berwarna dan tidak berbau, tetapi efek pemanasannya sangat cepat. Dalam 12 tahun pertama, dampaknya jauh lebih destruktif dibanding karbon dioksida,” ujarnya. “Kalau kita ingin memperlambat krisis iklim sekarang, bukan 50 tahun lagi, maka sumber metana harus diputus.”

Peneliti senior Ecoton ini menegaskan, pendekatan pengurangan metana bukan lagi hanya isu lingkungan global, tetapi langkah praktis yang bisa dilakukan pemerintah daerah melalui pengelolaan sampah organik dari hulu.

#TPA: Reaktor Metana dan Bom Waktu Perkotaan

Di berbagai kota Indonesia, TPA kini menghadapi kondisi kritis. Banyak lokasi penimbunan telah melampaui kapasitas desain. Sistem open dumping, pembuangan terbuka tanpa pengolahan, masih menjadi praktik dominan.

Kondisi ini membuat TPA berubah fungsi menjadi “reaktor metana” raksasa yang tidak terkendali.

Akumulasi gas di bawah timbunan sampah menciptakan risiko kebakaran spontan yang sulit dipadamkan. Beberapa insiden longsor sampah dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar isu teknis, melainkan ancaman keselamatan publik.

Selain risiko bencana, beban fiskal daerah juga terus meningkat. Biaya transportasi sampah, tipping fee, hingga operasional alat berat menyerap anggaran besar setiap tahun. Ketika TPA penuh, pemerintah daerah dipaksa mencari lahan baru, proses yang mahal sekaligus rawan konflik sosial.

“TPA kita sekarang ibarat ICU yang dipaksa terus menerima pasien,” kata Amiruddin. “Selama sampah organik masih masuk tanpa pemilahan, metana akan terus diproduksi.”

Data lapangan menunjukkan lebih dari separuh komposisi sampah kota di Indonesia merupakan sampah organik. Artinya, sumber utama emisi sebenarnya dapat dikurangi sebelum mencapai TPA melalui pemilahan, pengomposan, dan pengolahan berbasis komunitas.

Pendekatan ini juga sejalan dengan target nasional dalam Second Nationally Determined Contribution (SNDC), di mana sektor limbah menjadi salah satu fokus pengurangan emisi tercepat.

Direktur Dr Daru Setyorini menilai krisis TPA justru membuka peluang perubahan sistemik.

“Selama ini kita melihat sampah sebagai beban. Padahal, ketika organik dipisahkan, kita sekaligus menekan emisi, memperpanjang umur TPA, dan menghemat anggaran,” katanya. “Ini solusi iklim yang manfaatnya langsung terasa di tingkat lokal.”

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Dua pekerja memilah dan mengolah tumpukan sampah plastik di tengah panas pembakaran, menggambarkan kerasnya praktik pengelolaan limbah yang masih bergantung pada metode terbuka dan berisiko bagi kesehatan serta lingkungan. | Dok. Ecoton

#MRAP dan Jalan Cepat Menuju Target Iklim Nasional

Kesadaran akan urgensi metana mendorong lahirnya berbagai inisiatif percepatan, salah satunya Methane Reduction Action Plan (MRAP). Program ini dirancang untuk membantu pemerintah daerah menyusun strategi pengurangan metana secara sistematis dari hulu hingga hilir.

MRAP tidak hanya berisi rekomendasi teknis, tetapi juga pendampingan penyusunan dokumen kebijakan agar program dapat langsung masuk ke sistem perencanaan daerah. Melalui skema plug-and-play, kegiatan pengurangan metana dapat dimasukkan dalam nomenklatur SIPD dengan judul “Peningkatan Kinerja Pengelolaan Persampahan” tanpa perlu membuat mata anggaran baru.

Pendekatan ini menjadi penting karena banyak daerah sebenarnya memiliki kemauan, tetapi terhambat aspek birokrasi dan teknis perencanaan.

Indonesia sendiri telah bergabung dalam Climate and Clean Air Coalition (CCAC), sebuah inisiatif internasional yang fokus pada pengurangan polutan iklim jangka pendek seperti metana. Keanggotaan ini membuka peluang dukungan pendanaan internasional bagi daerah yang siap menjalankan program pengurangan emisi.

Menurut Daru Setyorini, momentum ini tidak boleh dilewatkan. “Daerah yang lebih dulu menyiapkan rencana aksi berbasis data akan menjadi prioritas pendanaan. Ini kesempatan besar untuk memperbaiki sistem persampahan tanpa sepenuhnya bergantung pada APBD,” ujarnya.

Selain manfaat lingkungan, keuntungan strategis juga muncul di berbagai sektor. Dalam penilaian Adipura terbaru, pengelolaan sampah, termasuk pengendalian metana, menyumbang hingga 50 persen bobot evaluasi.

Program pemilahan organik di tingkat warga juga meningkatkan skor Program Kampung Iklim (Proklim) sekaligus membantu pencapaian target SDGs, khususnya Tujuan 11, 12, dan 13.

Daerah yang memiliki dokumen MRAP berbasis data juga memiliki peluang lebih besar memperoleh Dana Insentif Daerah (DID) dari pemerintah pusat. Dengan kata lain, pengurangan metana bukan hanya agenda lingkungan, tetapi strategi pembangunan ekonomi daerah.

Amiruddin menilai perubahan paradigma menjadi kunci keberhasilan. “Selama ini kita fokus mengangkut sampah secepat mungkin keluar kota. Padahal solusi sebenarnya adalah menghentikan sampah organik sebelum sampai ke TPA,” katanya.

“Begitu organik berkurang, emisi turun, biaya turun, dan risiko bencana ikut turun, ” tambahnya.

Tahapan implementasi yang ditawarkan relatif jelas, mulai dari penyelarasan visi antar-OPD, komitmen kepala daerah melalui Cities Methane Pledge, hingga penyusunan dokumen MRAP yang siap dianggarkan.

Bagi Daru Setyorini, langkah tersebut bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.

“Krisis iklim sering terasa abstrak. Tapi metana dari sampah adalah sesuatu yang bisa kita hentikan sekarang juga,” ujarnya. “Mengelola sampah organik berarti membeli waktu bagi bumi sekaligus memperbaiki kualitas hidup warga kota.”

Di tengah meningkatnya suhu global dan tekanan terhadap kota-kota besar, pengelolaan sampah organik muncul sebagai solusi yang sederhana namun berdampak besar. Dari dapur rumah tangga hingga kebijakan nasional, perubahan kecil dalam cara memperlakukan sampah dapat menentukan seberapa cepat dunia mampu menahan laju krisis iklim.

Dan bagi banyak daerah di Indonesia, jawabannya ternyata tidak berada di teknologi mahal atau proyek raksasa, melainkan pada keputusan paling mendasar: memisahkan sisa makanan dari sampah lainnya sebelum terlambat.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *