Dalam Konvensi Rotary 2026, Taiwan menyerukan kolaborasi global demi perdamaian, kesehatan publik, serta aksi nyata penyelamatan lingkungan dunia.
Presiden Taiwan, Lai Ching-te, secara resmi membuka gelaran bergengsi Rotary International Convention 2026 yang berlangsung di Taipei Dome. Di hadapan ribuan delegasi yang mewakili lebih dari 140 negara, Presiden Lai menyerukan pentingnya memperkuat kerja sama internasional demi menjawab berbagai tantangan global, mulai dari kesehatan publik hingga perdamaian dunia.
Dalam pidato pembukaannya, Lai menegaskan bahwa misi kemanusiaan dan perdamaian hanya dapat diwujudkan melalui sinergi yang kuat antarnegara.
“Taiwan akan terus bekerja bergandengan tangan dengan Rotarian di seluruh dunia, menghubungkan dunia dengan niat baik, dan mengubah masa depan melalui tindakan nyata,” ujar Lai optimis, sebagaimana dikutip Taiwannews, Ahad, 14 Juni 2026.

Penyelenggaraan kembali konvensi ini di Taiwan setelah 32 tahun dinilai sebagai bentuk pengakuan dunia atas kontribusi nyata negara tersebut. Saat ini, Taiwan memiliki basis pendukung yang kuat dengan 12 distrik Rotary dan lebih dari 36.000 anggota aktif yang konsisten bergerak di bidang kemanusiaan, pencegahan konflik, dan layanan kesehatan masyarakat.
Salah satu sorotan utama dalam forum ini adalah apresiasi terhadap komitmen jangka panjang Rotary International dalam memberantas polio, yang berhasil menekan angka kasus global hingga 99,9 persen selama empat dekade terakhir. Sebagai bentuk dukungan, ajang Eradicating Polio Charity Run juga sukses digelar di Taipei pada Jumat sebelumnya dengan partisipasi luas dari masyarakat.
Selain polio, Lai memamerkan keberhasilan domestik Taiwan yang berhasil mencapai target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk eliminasi hepatitis C. Sukses besar ini diraih lima tahun lebih cepat dari tenggat waktu global yang ditetapkan pada tahun 2030.
“Pencapaian ini menjadi tonggak penting kontribusi Taiwan terhadap kesehatan internasional, menyusul bantuan kemanusiaan yang sebelumnya kami salurkan ke berbagai negara semasa pandemi COVID-19,” tambahnya.

#Pegiat Indonesia Suarakan Isu Sampah Plastik
Forum internasional ini tidak hanya berfokus pada isu perdamaian dan kesehatan, tetapi juga menjadi panggung penting bagi gerakan lingkungan hidup. Kehadiran delegasi dari Indonesia mencuri perhatian lewat isu pencemaran lingkungan yang dibawa ke meja diplomasi global.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelPendiri Ecoton, Prigi Arisandi, dalam pantauan unggahan di media sosialnya mengonfirmasi keterlibatan gerakan River Warrior Indonesia dalam rangkaian pertemuan tersebut. Mereka mengusung kampanye #EndPlasticSoup yang berafiliasi dengan jaringan global #BreakFreeFromPlastic.
Dalam unggahan itu, tampak pegiat lingkungan asal Indonesia, Aeshnina Azzahra Aqilani yang biasa disapa Nina, hadir langsung menyuarakan urgensi perlindungan sungai dan pengurangan sampah plastik sekali pakai.
Kehadiran perwakilan Indonesia ini membuktikan, jika forum Rotary kian inklusif dalam menangani krisis ekologi global yang kian mendesak.
Menutup pidatonya, Presiden Lai Ching-te tidak menampik adanya tantangan berat yang membayangi dunia saat ini, termasuk ketegangan geopolitik, cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, dan gangguan rantai pasok global.
Mengutip pernyataan Presiden Rotary International, Francesco Arezzo, mengenai dedikasi satu abad organisasi tersebut bagi perdamaian, Lai menegaskan posisi strategis Taiwan di kancah politik dan ekonomi dunia.
“Taiwan berkomitmen penuh untuk terus menjaga perdamaian serta stabilitas di Selat Taiwan, sekaligus mempererat kemitraan dengan negara-negara demokratis,” tegas Lai.
Ia juga menambahkan bahwa posisi dominan Taiwan dalam rantai pasok teknologi global memegang peranan krusial tidak hanya untuk ketahanan ekonomi regional, melainkan juga sebagai motor penggerak kolaborasi internasional di bidang kesehatan dan lingkungan hidup.***