Lewati ke konten

Perdana di Mojokerto, Mobil Mikroplastik Journey Kunjungi MIN 2 Mojokerto, Ajarkan Siswa Bahaya Mikroplastik

| 3 menit baca |Mikroplastik | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Fio Atmadja
  • Mobil edukasi mikroplastik Ecoton perdana menyapa ratusan siswa sekolah dasar di Kabupaten Mojokerto.
  • Siswa MIN 2 Mojokerto diajak mengamati langsung pencemaran mikroplastik pada media sekitar sekolah.
  • Pengamatan lapangan menemukan puluhan partikel mikroplastik pada udara, daun, hingga kulit tangan.
  • Praktik pembakaran sampah terbukti menjadi pemicu utama sebaran mikroplastik di lingkungan madrasah.
  • Pihak sekolah berkomitmen memperkuat pengelolaan sampah guna menekan dampak buruk plastik sekali pakai.

MOBIL Mikroplastik Journey milik Ecoton untuk pertama kalinya hadir di Kabupaten Mojokerto. Lebih dari 200 siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Mojokerto antusias mengikuti pembelajaran interaktif ini. Siswa diajak melakukan penelitian sederhana guna mendeteksi keberadaan mikroplastik di lingkungan sekitar mereka.

Siswa kelas 1 hingga kelas 6 secara bergantian memasuki mobil edukasi tersebut. Mereka mempelajari perjalanan sampah plastik hingga terdegradasi menjadi partikel mikro yang berbahaya. Edukasi ini juga memaparkan berbagai sumber paparan mikroplastik serta dampaknya bagi kesehatan.

“Terima kasih karena program Ecoton sejalan dengan program madrasah, yaitu berbudaya lingkungan. Ini sangat membantu kami untuk mengurangi sampah plastik sampai zero waste,” ujar Kepala MIN 2 Mojokerto, Saichul Adenan, Rabu, (12/8/2026).

#Hasil Pengamatan Sampel Lingkungan dan Paparan Udara

Siswa berperan langsung sebagai peneliti cilik dengan mengambil berbagai sampel media lingkungan. Pengujian fokus pada sampel udara dalam ruangan, udara luar ruangan, daun, dan kulit.

Hasil pengamatan udara dalam ruangan oleh Kelompok 7 menemukan 2 fiber, 2 filamen, dan 9 fragmen. Sementara sampel udara luar ruangan menunjukkan adanya 3 fiber serta 2 fragmen mikroplastik.

Temuan mengejutkan juga diperoleh dari pengujian permukaan kulit tangan siswa madrasah. Petugas mencatat total 35 fiber, 5 filamen, dan 1 fragmen menempel pada tangan. Sampel daun di sekitar area sekolah juga mengikat 4 fiber, 6 fragmen, serta 2 filamen.

Jazila, siswa kelas 5A sekaligus Ketua Kelompok 7, membagikan pengalamannya mengenai pembakaran sampah.

“Rumahku dekat tempat pembuangan sampah, baunya sering sampai rumah. Ada juga tetanggaku yang bakar sampah, asapnya sampai kecium di rumahku. Awalnya aku ngira kalau asap bakar sampah dan sampah dibakar itu bisa hilang terkena angin. Ternyata bakar sampah malah bikin mikroplastik terbentuk dan mengotori udara,”ungkap Jazila.

Temuan mikroplastik pada vegetasi di dekat lokasi pembakaran sampah semakin membuka mata para siswa. Alby, siswa kelas 5, menyimpulkan bahwa pembakaran plastik secara langsung menghasilkan polutan mikro. “Berarti membakar plastik itu menghasilkan mikroplastik, karena kita menemukan banyak mikroplastik di daun,” jelasnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Tim Ecoton memberikan penjelasan kepada siswa MIN 2 Mojokerto tentang bahaya mikroplastik dan pencemaran plastik. | Foto: MedCom Ecoton

#Penanganan Sampah MBG dan Inisiatif Madrasah Mart

Dampak edukasi ini mendorong MIN 2 Mojokerto untuk mengevaluasi pengelolaan sampah internal madrasah. Salah satu tantangan mendesak yang dihadapi adalah penumpukan sampah sisa program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Guru kelas 5, Yuli Indah Lestari, menyampaikan keinginan untuk memperdalam pengolahan sampah organik. “Di sekolah banyak sampah sisa MBG. Kami ingin belajar bagaimana mengolahnya, termasuk belajar ecoenzyme, dan ingin berkunjung ke Ecoton,” tuturnya.

Mobil Laboratorium Mikroplastik memudahkan Ecoton menjangkau berbagai wilayah untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya mikroplastik. | Foto: MedCom Ecoton

Pihak madrasah berencana mengintegrasikan nilai lingkungan ini melalui pengembangan unit bisnis Madrasah Mart. Pengelola sekolah membuka peluang kolaborasi dengan Refilin guna menyediakan produk isi ulang. Langkah ini efektif memangkas volume sampah kemasan plastik sekali pakai di area sekolah.

#Akselerasi Budaya Zero Waste di Lingkungan Sekolah

Kehadiran Mikroplastik Journey menjadi strategi Ecoton dalam mendekatkan edukasi sains kepada pelajar. Pengalaman mengamati langsung bentuk polutan membuat siswa memahami bahaya pencemaran secara konkret.

Ecoton mendorong seluruh warga madrasah untuk mengubah kebiasaan harian dalam mengelola sampah. Langkah nyata dimulai dengan menghentikan pembakaran sampah dan membatasi pemakaian plastik sekali pakai.

Masyarakat sekolah juga diajak aktif memilah serta mengolah sampah organik secara mandiri. Komitmen kolektif ini penting demi mewujudkan lingkungan belajar yang sehat, aman, dan minim sampah.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *