Bengawan Solo, banyak warga menggantungkan hidup pada air yang sama, kian keruh, membawa limbah, penyakit, dan kegelisahan tentang masa depan.
Sulastri berdiri dengan ember berwarna biru di tangannya. Perempuan berusia 43 tahun itu, hampir separuhnya hidup digantungkan pada Bengawan Solo. Tiap pagi ia harus memulainya dengan timba yang menyentuh air Bengawan Solo.
Pemandangan itu tiap hari terjadi, disertai larian bocah-bocah tak beralas kaki. “Dulu jernih,” katanya pelan, seperti berbicara pada arus yang tak lagi sama. “Sekarang bikin gatal.”
Air yang ditimbanya berwarna kecokelatan, memang. Berbau tipis yang tak pernah benar-benar hilang. Apalagi ketika sumur mengering di musim kemarau, pilihannya menjadi sempit.
Dari sungai itu ia mencuci pakaian, membilas sayur, kadang mengambil air untuk kebutuhan rumah tangga. Ada pepatah, sungai bukan sekadar aliran; aliran itu adalah dapur, kamar mandi, halaman bermain, sekaligus ruang bertahan.
Bengawan Solo sendiri, membentang lebih dari 600 kilometer, melintasi Jawa Tengah hingga Jawa Timur itu, menghidupi petani yang menggantungkan irigasi sawahnya, juga nelayan untuk mencari ikan.
Sungai yang pernah menginspirasi Gesang lewat lagunya “Bengawan Solo” kini mengalami perubahan drastis. Riwayatnya yang mengalir, diiringi luka yang mengendap akibat pencemaran yang terus terjadi.
Data yang pernah ada megungkap, limbah plastik dari Bengawan Solo turut mencemari Laut Jawa. Saat itu World Resources Institute (WRI), lembaga penelitian independen yang fokus pada lingkungan dan kesejahteraan manusia, mencatat Bengawan Solo termasuk satu dari empat sungai di Jawa yang menyumbang sampah plastik ke laut, dengan volume sekitar 32.500 ton per tahun.
Tiga sungai lain, Brantas (Jawa Timur) dengan 38.900 ton per tahun, Serayu (Jawa Tengah) 17.100 ton, dan Progo (DI Yogyakarta) 12.800 ton per tahun. WRI memperkirakan total sampah plastik yang memasuki lautan pada 2010 mencapai 1,15–2,41 juta ton, semuanya berasal dari sungai.
Data WRI itu juga menunjukkan tiga area tumpukan sampah plastik di Laut Jawa berada dekat hilir Bengawan Solo, di sekitar Desa Randuboto dan Kramat, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Pencemaran sungai semakin berat karena limbah industry, termasuk etanol/ciu dan tekstil—serta limbah domestik, terutama saat musim kemarau.
Saat musim itu, debit air menyusut, konsentrasi pencemar meningkat, dan air menjadi lebih pekat serta berisiko. Ikan wader yang dulu melimpah kini jarang terlihat. Seorang pencari ikan di Bojonegoro mengangkat jalanya dengan ragu. “Kadang dapat,” ujarnya, “tapi baunya lumpur.”
#Ekosistem yang Terluka, Masa Depan yang Dipertaruhkan

Bengawan Solo, dulu menjadi sumber kehidupan sekaligus inspirasi budaya. Kini, airnya tak lagi bening. Dampak pencemaran tak hanya terlihat dari warna air, tetapi merembes ke kulit, perut, dan paru-paru. Paparan air tercemar berisiko memicu penyakit kulit, diare, infeksi saluran cerna, hingga gangguan akibat mikroorganisme patogen.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelSebuah studi menunjukkan kandungan coliform yang tinggi di air sungai menandakan kontaminasi fekal, indikasi bahwa air tidak layak untuk kontak langsung, apalagi dikonsumsi tanpa pengolahan (Intan Ayu Pebiola, 2025; Analit, 2025).
Di beberapa puskesmas bantaran sungai, keluhan gatal-gatal dan diare menjadi catatan rutin, terutama saat debit air rendah. Air yang seharusnya menyehatkan kini berubah menjadi medium penularan penyakit (Undip Journal, 2025).
Mahasiswa Universitas Sebelas Maret, Muhamad Nawawi, pernah menelusuri aliran Bengawan Solo, pada 15 Desember, 2007 silam. Dalam penyelusurannya, ia menyaksikan langsung bagaimana saat itu pencemaran terjadi: mencuci kain batik di sungai, limbah domestik, serta sisa industri yang mengalir ke air.
Hadi, seorang petani lokal, menceritakan, “Air sudah tidak dapat digunakan lagi, dulu bening, tetapi sekarang tidak bisa dipakai, termasuk untuk irigasi pertanian. Untuk mandi pun, tidak bisa. Badan jadi gatal-gatal.”
Bukan hanya aktivitas warga, industri batik yang tersebar lebih dari 120 unit di Solo turut menyumbang pencemaran.
Rohana Dewi, Ketua LSM Lingkungan Gita Pertiwi Solo, yang saat itu terlibat penelitian di Bengawan Solo sebagaimana dikutip BBC Indonesia mengungkapkan, perubahan iklim semakin memperburuk kondisi sungai.
“Kenaikan suhu mengurangi debit air, dan kerusakan lingkungan serta pencemaran membuat mikroorganisme dan ikan sulit bertahan. Sungai ini bisa ‘mati’, dalam arti tidak dapat digunakan lagi oleh manusia,” terangnya.
Bengawan Solo mengalir melalui 9 kabupaten/kota di Jawa Tengah dan 11 kabupaten/kota di Jawa Timur, dari barat daya pantai selatan Jawa Tengah ke timur laut pantai utara Jawa Timur.
Dampak pencemaran terasa terutama bagi petani dan warga pinggiran kota. Pertiwi, seorang petani, mengenang. “Waktu kecil, produksi cabai bisa berkarung-karung. Sekarang, meski diberi pupuk, hasil panen tak mempan. Mungkin karena limbah sungai yang sudah sangat tercemar, ” ungkapnya. ***

*) Aulia Rizky Imelda Wardhani, mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat. Angkatan 2023 Universitas Negeri Malang. Saat ini sedang menjalani program studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Artikel ini merupakan opini pribadi penulis sebagai bagian dari pemenuhan program studi independen melalui editing redaksi.