Festival Kampoeng Dongeng Surabaya menghadirkan ruang keluarga hangat, literasi anak, dan imajinasi bebas di tengah dominasi gawai digital.
Suara tawa anak-anak terdengar bergantian dari dalam Gedung Anti Doping Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Lidah Wetan pada Ahad, 31 Mei 2026. Sejak pagi, ratusan orang tua datang menggandeng anak-anak mereka untuk mengikuti Festival Kampoeng Dongeng Surabaya.
Di dalam ruangan, anak-anak duduk lesehan sambil menatap panggung kecil yang dipenuhi warna-warni dekorasi. Sebagian tampak memeluk buku cerita, sementara yang lain sesekali berteriak mengikuti arahan pendongeng.
Festival itu digelar serentak di berbagai kota di Indonesia dalam rangka memperingati ulang tahun ke-17 komunitas Kampoeng Dongeng. Di Surabaya, kegiatan tersebut diikuti sedikitnya 150 peserta yang terdiri dari anak-anak dan orang tua.
Tidak ada suara notifikasi telepon yang mendominasi ruangan. Yang terdengar justru tepuk tangan, gelak tawa, dan percakapan kecil antara anak dengan ayah atau ibunya.
Panitia sengaja menghadirkan festival dengan konsep interaktif agar keluarga tidak hanya menjadi penonton. Orang tua diminta terlibat langsung mendampingi anak selama kegiatan berlangsung.
Ketua Kampoeng Dongeng Surabaya, Kak Hilmi, mengatakan festival ini lahir dari kegelisahan melihat hubungan anak dan orang tua yang semakin banyak digantikan layar gawai. Menurutnya, tradisi mendongeng perlahan menghilang dari ruang keluarga modern.
“Harapannya sederhana, kami ingin mengembalikan dongeng yang dulu setiap malam hadir dari orang tua kepada anak,” ujar Hilmi saat ditemui di sela acara.
Ia mengatakan dongeng bukan sekadar cerita pengantar tidur. Di dalamnya ada proses membangun kedekatan emosional, menanamkan nilai, sekaligus melatih imajinasi anak.
“Harapan besar kami adalah membiasakan kembali dongeng agar tidak asing lagi di dunia anak. Kita ingin anak-anak tumbuh dengan imajinasi yang sehat supaya mereka tidak terus menerus bermain gadget secara tidak tertata,” katanya.

#Pantomim dan Buku Jadi Ruang Bermain
Festival Kampoeng Dongeng Surabaya tidak hanya menghadirkan sesi bercerita. Panitia juga menggabungkan pertunjukan seni visual dan aktivitas membaca untuk menjaga keterlibatan anak-anak sepanjang acara.
Salah satu sesi yang paling ramai adalah pertunjukan pantomim. Anak-anak tampak antusias memperhatikan gerakan jenaka para pemain yang tampil tanpa dialog.
Beberapa anak menebak-nebak jalan cerita sambil tertawa bersama teman di sebelahnya. Orang tua yang duduk di belakang mereka sesekali ikut tersenyum melihat ekspresi spontan anak-anak.
Di sudut lain gedung, komunitas Tenda Buku membuka lapak baca gratis. Ratusan buku cerita anak tersusun di atas rak sederhana dan tikar yang dipenuhi keluarga.
Anak-anak tampak berpindah dari satu buku ke buku lainnya. Sebagian membaca sendiri, sebagian lain meminta orang tua mereka membacakan cerita dengan suara pelan.
Suasana itu menghadirkan pemandangan yang mulai jarang ditemui di ruang publik perkotaan. Anak dan orang tua duduk berdampingan tanpa sibuk menatap layar masing-masing.
Menurut Hilmi, ruang baca sengaja dihadirkan agar anak mengenal buku sebagai bagian dari pengalaman bermain yang menyenangkan. Ia menilai minat baca tidak bisa tumbuh hanya melalui imbauan formal di sekolah.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Kalau anak merasa membaca itu menyenangkan, mereka akan datang sendiri ke buku,” ujarnya.
Bagi panitia, festival ini juga menjadi pengingat bahwa literasi anak tidak selalu harus hadir dalam bentuk kelas formal. Cerita, permainan, seni pertunjukan, dan interaksi keluarga dapat menjadi pintu awal membangun kebiasaan membaca.

#Orang Tua Temukan Waktu Berkualitas
Di tengah keramaian acara, Bu Andari, begitu orang di sana menyapanya. Tampak duduk mendampingi anaknya yang sedang memilih buku cerita bergambar. Sesekali ia membantu membacakan kalimat yang belum dipahami anaknya.
Sebagai seorang ibu bekerja, ia mengaku jarang memiliki waktu panjang bersama keluarga pada hari kerja. Karena itu, kegiatan akhir pekan seperti Festival Kampoeng Dongeng menjadi ruang yang ia tunggu.
“Terima kasih untuk Kampoeng Dongeng Surabaya yang hari ini telah mengadakan acara untuk keluarga di Surabaya,” katanya.
Menurutnya, kegiatan berbasis keluarga seperti ini masih sangat dibutuhkan di Surabaya. Tidak hanya untuk anak, tetapi juga untuk orang tua yang ingin membangun kedekatan di tengah kesibukan kerja.
“Seperti saya, working mom yang hanya punya waktu pada weekend, acara seperti ini sangat berarti untuk keluarga-keluarga di Surabaya,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Bu Alda yang datang bersama anak dan keluarganya. Ia menilai festival tersebut memberi ruang bagi anak untuk belajar percaya diri melalui cerita dan interaksi langsung.
“Acara ini luar biasa, mengedukasi, membuat anak-anak berani berimajinasi dan percaya diri,” tuturnya.
Ia juga melihat bagaimana acara tersebut mempertemukan anggota keluarga lintas generasi. Tidak sedikit nenek yang ikut hadir mendampingi cucu mereka sepanjang kegiatan.
“Anak-anak tadi bisa seru-seruan langsung sama orang tuanya dan juga nenek-neneknya. Acara seperti ini wajib tiap tahun diadakan,” katanya.
Menjelang sore, satu per satu keluarga mulai meninggalkan gedung Unesa. Beberapa anak masih membawa buku di tangan mereka, sementara yang lain terus bercerita tentang pertunjukan yang baru saja ditonton.
Festival Kampoeng Dongeng Surabaya mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun bagi banyak keluarga yang hadir, acara itu menjadi jeda kecil dari rutinitas digital yang semakin mendominasi kehidupan sehari-hari.
Di tengah derasnya arus gawai, dongeng kembali menemukan ruangnya. Bukan hanya sebagai cerita, tetapi sebagai cara sederhana agar anak merasa didengar, ditemani, dan tumbuh bersama keluarganya.***