Lewati ke konten

Workshop Wani Action Siapkan Sineas Jawa Timur Hadapi Industri Film Nasional

| 4 menit baca |Rekreatif | 2 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Supriyadi
  • Workshop Wani Action membekali sineas Jawa Timur dengan keterampilan penyutradaraan dan kolaborasi menghadapi meningkatnya produksi film di Surabaya.
  • Penting Production menyiapkan tenaga perfilman lokal agar peluang syuting film nasional lebih banyak melibatkan pekerja dari Jawa Timur.
  • Peserta mempelajari penyutradaraan, pitching, hingga penyusunan pitch deck untuk meningkatkan daya saing dalam industri perfilman Indonesia yang berkembang.
  • Wani Action mempertemukan sineas lintas daerah dan membuka peluang kolaborasi baru bagi pelaku industri kreatif di Jawa Timur bersama.
  • Peserta menilai workshop menghadirkan pengalaman praktis yang belum diperoleh di perkuliahan sekaligus memperluas jaringan profesional perfilman nasional bersama.

 

Meningkatnya aktivitas produksi film nasional di Surabaya menjadi peluang baru bagi pelaku perfilman di Jawa Timur. Untuk menjawab kebutuhan tenaga profesional lokal, Penting Production menggelar workshop perfilman bertajuk Wani Action sebagai ruang peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus memperkuat ekosistem industri film di daerah.

Perwakilan Penting Production, Eka, mengatakan kebutuhan tenaga profesional lokal menjadi tantangan yang masih dihadapi ketika produksi film berskala besar masuk ke Surabaya. Menurutnya, sebagian besar kru profesional masih didatangkan dari luar daerah.

“Sayang banget ketika ada syuting film besar di Surabaya, tapi 90 persen tenaga profesionalnya dari luar. Melalui Wani Action, kita yang harus menjemput industri itu,” ujar Eka, Senin, (13/7/2026).

Ia menilai kesiapan SDM menjadi faktor penting agar Jawa Timur semakin dipercaya sebagai lokasi produksi film. Tanpa tenaga yang kompeten, peluang berkembangnya industri film di daerah dinilai akan sulit dimanfaatkan secara maksimal.

“”Kalau kita tidak menyiapkan SDM yang matang, industri tidak akan datang, atau bahkan kapok kembali ke Surabaya. Karena itu, kami ingin teman-teman lokal siap menyambut peluang tersebut,” ujar Eka.

Workshop Wani Action menjadi ruang belajar, membangun jejaring, dan membuka peluang kolaborasi bagi sineas muda di Jawa Timur. | Foto: Ulung

#Workshop Libatkan Seluruh Unsur Pekerja Film

Berbeda dengan pelatihan yang hanya berfokus pada penyutradaraan, Wani Action dirancang untuk melibatkan berbagai profesi dalam industri film. Pesertanya berasal dari kalangan sutradara, aktor, penata kamera, penata rias, penata busana, produser, hingga pekerja kreatif lainnya.

“Penyutradaraan bukan hanya harus dipahami oleh sutradara. Seluruh kru, mulai dari penata kamera, aktor, penata rias, penata busana, hingga produser, perlu memahami visi penyutradaraan agar proses produksi lebih efektif dan tidak terjadi tumpang tindih pekerjaan di lapangan,” ujar Eka.

Menurutnya, tujuan utama workshop bukan hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun ruang kolaborasi antarsineas. Melalui pertemuan tersebut, peserta diharapkan dapat memperluas jejaring profesional sekaligus melahirkan proyek-proyek film baru dari Jawa Timur.

“Gol kita jelas, film-film dari Surabaya dan Jawa Timur harus punya daya saing kuat. Selain itu, ini adalah ruang inkubasi agar teman-teman bisa saling berjejaring dan kolaborasi silang,” kata Eka.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Workshop Wani Action mempertemukan sineas muda untuk memperkuat kompetensi sekaligus membangun jejaring di industri perfilman. | Foto: Ulung

#Peserta Peroleh Pengalaman Praktis dan Peluang Kolaborasi

Salah satu peserta, Muhammad Faiq Razka Wibowo, mahasiswa semester enam Universitas Muhammadiyah Surabaya, mengaku sempat merasa tidak percaya diri saat mengikuti proses seleksi. Ia melihat banyak peserta lain telah memiliki pengalaman di industri perfilman profesional.

Meski demikian, Faiq tetap mengikuti seluruh tahapan seleksi hingga akhirnya lolos ke sesi luring. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi kesempatan berharga untuk memahami praktik industri yang selama ini belum diperoleh di ruang kuliah.

“Waktu seleksi daring, saya sempat minder karena rata-rata pesertanya sudah lama terjun di industri profesional. Awalnya saya tidak percaya bisa lolos ke tahap luring karena tahapannya ketat,” ujarnya.

Selama workshop, Faiq mempelajari berbagai materi, mulai dari penyutradaraan, penyusunan cerita yang relevan dengan penonton, penyusunan pitch deck, hingga teknik mempresentasikan proyek kepada calon mitra atau investor.

“Materi yang saya dapatkan jauh lebih dekat dengan kebutuhan industri dibandingkan yang saya pelajari di kampus. Selain belajar, saya juga bisa bertukar pengalaman dengan sineas dari berbagai daerah dan mulai membangun peluang kolaborasi untuk proyek-proyek berikutnya,” ujar Faiq.

Faiq berencana menerapkan pengetahuan tersebut dalam penyusunan tugas akhirnya di perguruan tinggi. Ia berharap karya yang dihasilkan dapat merepresentasikan pengalaman masyarakat.

“Harapan saya, ini menjadi awal untuk berkontribusi di industri perfilman nasional. Saya ingin menghasilkan karya yang relevan dan bisa membawa nama Jawa Timur di industri film Indonesia,” kata Faiq.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *