Lewati ke konten

Kali Tebu Cegah 27 Ton Sampah, Apa yang Bisa Dipelajari dari Indore?

| 5 menit baca |Kali Tebu | 1 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Indore mengolah sekitar 1.200 ton sampah setiap hari melalui pemilahan enam kategori sejak tingkat rumah tangga.
  • Delapan tahun berturut-turut menjadi kota terbersih India dengan layanan pengangkutan menjangkau lebih 500.000 rumah tangga.
  • Lebih dari 8.000 pemulung direkrut menjadi petugas resmi dalam sistem pengelolaan sampah pemerintah kota.
  • Kampanye perubahan perilaku melibatkan sekolah, tokoh agama, komunitas, dan pengawasan ketat hingga menjadi budaya warga.
  • Pengalaman Indore menunjukkan pengurangan sampah ke landfill dimulai dari rumah, bukan mengandalkan insinerator.

Kota Indore di negara bagian Madhya Pradesh, India, menjadi rujukan dunia dalam pengelolaan sampah perkotaan. Selama lebih dari delapan tahun berturut-turut, kota ini mempertahankan predikat sebagai kota terbersih di India.

Keberhasilan itu, melalui perubahan menyeluruh pada sistem pengelolaan sampah. Bukan bertumpu pada teknologi mahal.  Pemerintah kota membangun sistem yang menggabungkan kepemimpinan, partisipasi masyarakat, pemilahan sejak sumber, pengangkutan rutin, serta pengolahan berbasis ekonomi sirkular.

Indore menghasilkan sekitar 1.200 ton sampah setiap hari dari lebih 500.000 rumah tangga dan pelaku usaha. Sebagian besar sampah berhasil dipilah, diolah, didaur ulang, atau dimanfaatkan kembali sehingga hanya sedikit yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

#Pemilahan dari Rumah Jadi Fondasi Sistem

Fondasi utama keberhasilan Indore dimulai dari rumah tangga. Pemerintah mewajibkan setiap warga memilah sampah sebelum diangkut menuju fasilitas pengolahan.

Pada tahap awal, warga hanya memisahkan sampah organik dan anorganik. Sistem kemudian berkembang menjadi enam kategori untuk meningkatkan kualitas daur ulang.

Enam kategori  meliputi sampah organik, anorganik nonplastik, plastik, sampah sanitasi seperti popok dan pembalut, limbah B3 rumah tangga, serta limbah elektronik. Setiap jenis memiliki jalur pengumpulan dan pengolahan berbeda.

Pemerintah kota menerapkan aturan tegas terhadap warga. Warga yang tidak memilah sampah, masih tercampur dapat ditolak. Hal ini membuat warga terdorong mengubah kebiasaan sehari-hari.

Layanan pengumpulan sampah juga diubah secara menyeluruh. Indore menghapus ketergantungan tempat penampungan sementara (TPS), maupun bak sampah di pinggir jalan.

Sebagai gantinya, kendaraan pengangkut mendatangi setiap rumah setiap hari. Sampah yang telah dipilah ditempatkan pada kompartemen berbeda sesuai kategorinya.

Ketersediaan layanan yang rutin ini, membuat warga tidak memiliki alasan membuang sampah sembarangan. Cara pemilahan dan pengangkutan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari warga

Transformasi di Indore ini, tidak terjadi dalam waktu singkat. Pemerintah kota membangun sistem yang konsisten. Juga disertai pengawasan serta edukasi kepada warga selama bertahun-tahun.

Sebagaimana laporan The Guardian, perubahan itu berbeda dengan berbagai kampanye kebersihan yang sering bersifat seremonial di kota-kota lain di India. Di Indore, perubahan tidak berhenti setelah kegiatan simbolis. Tetapi diterjemahkan menjadi sistem pelayanan yang berjalan setiap hari.

Keberhasilan itu terlihat dari lonjakan peringkat kebersihan kota. Sebelum 2017, Indore hanya berada di posisi ke-25 dari 471 kota dalam survei kebersihan nasional yang dilakukan lembaga Swachh Survekshan.

Sejak meraih peringkat pertama pada 2017, Indore mampu mempertahankan gelar kota terbersih. Selama delapan tahun berturut-turut, transformasi itu mencakup sistem pengumpulan sampah dan pengolahan limbah,

Sekitar 850 petugas penyapu jalan, sampai ribuan tempat sampah berwarna di berbagai sudut kota. “Ketika keluar dari bandara, rasanya seperti bukan berada di India karena kotanya begitu bersih,” kata Nitisha Agarwal, seorang eksekutif perusahaan yang rutin mengunjungi Indore untuk urusan pekerjaan, seperti dikutip The Guardian.

Hal yang sama diungkapakan guru kimia asal Indore, Arjun Sehgal. Ia mengatakan perubahan terbesar terjadi pada cara pandang masyarakat terhadap ruang publik.

“Dulu, ruang di luar rumah dianggap sebagai tanggung jawab orang lain, dan tidak ada yang merasa ada kontradiksi ketika berjalan melewati tumpukan sampah yang berbau menyengat untuk kemudian masuk ke rumah mereka yang bersih,” kata Arjun.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Kini, kebersihan telah menjadi norma sosial. Warga merasa tidak nyaman ketika melihat sampah berserakan, bahkan tidak sedikit yang memungut sampah yang ditemui di ruang publik.

Indore membuktikan pengelolaan sampah yang efektif dimulai dari pemilahan sejak rumah tangga, bukan teknologi mahal. Sementara itu, Kali Tebu berhasil mencegah lebih dari 27 ton sampah mengalir ke Selat Madura dalam dua bulan. Tantangannya kini bukan hanya mengangkat sampah dari sungai, tetapi mencegahnya sejak dari sumber melalui layanan pengangkutan, pemilahan, dan perubahan perilaku masyarakat. | Foto: Fully Syafi/Desain AI

#Pemulung Jadi Bagian Resmi Pengelolaan Sampah

Transformasi Indore juga memperhatikan kelompok rentan. Pemerintah tidak menyingkirkan pemulung ketika sistem baru diterapkan.

Sebaliknya, ribuan pemulung direkrut menjadi petugas kebersihan resmi. Mereka memperoleh pelatihan, perlindungan kerja, dan kepastian pendapatan melalui sistem pengelolaan sampah kota.

Lebih dari 8.000 warga marginal dilibatkan dalam sistem tersebut. Langkah ini menjaga keberlangsungan ekonomi sekaligus memperkuat rantai pemilahan dan daur ulang.

Sampah organik kemudian diolah menjadi kompos dan bio-CNG. Sementara sampah kering diproses di fasilitas pemulihan material sebelum dikirim ke industri daur ulang.

Pendekatan ini memperlihatkan, sampah dipandang sebagai sumber daya ekonomi. Tempat pembuangan akhir menjadi pilihan terakhir setelah seluruh potensi pemanfaatan dilakukan.

#Pelajaran bagi Indonesia dan DAS Brantas

Pengalaman Indore memberikan pelajaran penting bagi kota-kota di Indonesia. Pengurangan sampah menuju TPA dimulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga.

Banyak daerah di Indonesia masih mengumpulkan sampah dalam kondisi tercampur. Kondisi ini membuat proses daur ulang sulit berkembang. Bahkan meningkatkan volume sampah menuju tempat pembuangan akhir.

Penguatan layanan pengangkutan sampah hingga menjangkau seluruh permukiman juga menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa layanan, sungai akan tetap menjadi lokasi pembuangan sampah.

Pendekatan Indore memiliki kesamaan dengan berbagai inisiatif pengelolaan sungai di Jawa Timur. Program River Warriors Indonesia dan AKSI BRANTAS menempatkan edukasi masyarakat sebagai bagian penting perubahan perilaku.

Kampanye dilakukan melalui sekolah, kelompok perempuan, komunitas sungai, tokoh agama, dan kalangan muda. Strategi ini sejalan dengan pendekatan yang diterapkan Indore selama bertahun-tahun.

Data pemantauan di Kali Tebu, Surabaya misalnya. Telah menunjukkan tantangan besar. Pada uji coba trash boom MOZAIK, 24–25 April 2026, sebanyak 907 kilogram sampah tertahan hanya dalam 24 jam pertama.

Selama 11–26 Mei 2026, sebanyak 11.579,77 kilogram atau sekitar 11,58 ton sampah berhasil dievakuasi dari segmen tengah Kali Tebu. Operasi gabungan pada 20–21 Juni 2026 kembali mengangkat sekitar 16 ton sampah.

Secara akumulatif, lebih dari 27 ton sampah berhasil dicegah mengalir menuju Selat Madura sepanjang Mei hingga Juni 2026. Temuan tersebut menunjukkan besarnya beban sampah yang masih memasuki badan sungai sebelum mencapai laut.

Pengalaman Indore menunjukkan persoalan itu dapat ditekan melalui perubahan sistem dari hulu. Pemilahan di rumah, layanan pengangkutan menyeluruh, pelibatan masyarakat, serta pengolahan yang konsisten menjadi rangkaian kebijakan yang saling mendukung dalam mewujudkan pengelolaan sampah berkelanjutan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *