- 60 persen sungai Indonesia tercemar berat. Mikroplastik di DAS Brantas kini mengancam kesehatan generasi masa depan.
- Mikroplastik memenuhi Sungai Brantas. Penelitian menemukan gangguan hormon ikan akibat pencemaran yang berlangsung bertahun-tahun.
- Dari tumpukan sampah hingga tubuh manusia, perjalanan mikroplastik mengungkap krisis air yang selama ini tersembunyi.
#Dari Tempat Sampah Menuju Krisis Air yang Tak Terlihat
Ihwal lingkungan hidup, sehari-hari telah mengubah cara pandangku, terutama terhadap angka-angka yang ada. Sebuah penelitian menemukan mikroplastik memenuhi Sungai Brantas. Konsentrasinya mengkhawatirkan bagi masyarakat sekitar. Dalam penelitian itu juga dilaporkan gangguan hormon ikan akibat pencemaran tersebut. Dan itu terjadi bertahun-tahun tanpa henti.
Aku tidak langsung memahami arti seluruh temuan ilmiah itu sebelumnya. Karena kesadaranku lahir dari pengalaman yang tak pernah kuduga-duga. Ketika itu aku mendatangi tempat penampungan sampah di kampungku.
Pengalaman singkat itulah kemudian menjadi awal perjalanan panjangku memahami hubungan manusia dengan lingkungan.
Sejak sekolah dasar, aku memang sudah mengenal dua jenis sampah melalui pelajaran dari guruku. Saat itu guruku kerap menjelaskan tentang sampah. Namun hanya dua jenis sampah saja, yaitu organik yang mudah membusuk, sedangkan anorganik yang memerlukan waktu sangat panjang.
Penjelasan guru itu membuatku merasa cukup. Sampai aku melihat kenyataan berbeda secara langsung.
Aku belum lupa betul. Saat itu usiaku baru menginjak 21 tahun ketika pengalaman itu benar-benar terjadi. Gunungan sampah menjulang tinggi. Lebih tinggi dari ukuran orang dewasa yang rata-rata 170 sentimeter. Belum lagi sampah itu memenuhi lahan yang seingat-ingatku seluas 5 meter persegi.
Mendekati gunungan sampah, bau menyengat pun hinggap di penciumanku. Bercampur udara panas, membuat napasku terasa berat selama beberapa menit.
Saat itulah aku juga mendengar keluh kesah petugas di penampungan sampah itu. Suara gerutunya tentang volume sampah yang terus bertambah dan berjibun. Keluhannya terdengar berulang-ulang.
“Sampahnya makin banyak, lahannya tetap segini. Besok pagi datang lagi, sore menumpuk lagi. Rasanya pekerjaan ini tidak pernah selesai.”
Akhirnya seorang petugas mendatangiku sambil menunjukkan isi tumpukan sampah yang baru datang pagi itu. Terlihat botol bahan kimia, baterai bekas, pecahan kaca, serta popok bercampur sisa makanan.
Semua tidak ada pemisahan sebagaimana teori sederhana yang dahulu pernah kupelajari di ruang kelas.
Aku memandangi popok sekali pakai. Pertanyaan pun muncul. Pertanyaan itu belum pernah kupikirkan sebelumnya. Apakah benda itu hanyalah sampah, limbah, atau ancaman bagi lingkungan hidup.
Meski aku merasakan pertanyaan sederhana, setidaknya melihatnya bisa mengubah cara berpikirku tentang seluruh sistem pengelolaan sampah nasional.
Akhirnya kembali kuingat seorang teman sekampus pernah mengatakan sesuatu yang terus kuingat sampai sekarang. “Manfaat barang berakhir bagi manusia, tetapi jejaknya tetap tertinggal,” ucapnya suatu malam.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelAku tidak mengetahui asal kutipan itu, namun maknanya terus mengendap dalam pikiranku. Ucapan yang menjelaskan sesuatu yang selama bertahun-tahun gagal kulihat sebelumnya. Banyak orang merasa urusannya selesai ketika sampah meninggalkan halaman rumah mereka masing-masing. Padahal beban sebenarnya baru dimulai ketika sampah memasuki ruang hidup bersama masyarakat.
Apalagi lingkungan pergaulanku belum banyak membicarakan persoalan sampah secara sungguh-sungguh saat itu. Kami lebih sering memperdebatkan politik—yang rata-rata isinya rancu—dibanding membaca hasil penelitian atau laporan ilmiah.
Apalagi media sosial menjadi sumber pengetahuan utama segenerasiku, yang cepat berganti tanpa pemahaman mendalam.
Perubahan dalam cara pandangku mulai terjadi ketika bertemu orang-orang yang peduli terhadap kondisi sungai di Indonesia. Mereka menjelaskan hubungan antara pencemaran, tata ruang, kebijakan, dan perilaku masyarakat sehari-hari.
Semuanya kupahami, tak ada penjelasan yang mudah. Semuanya dipenuhi rangkaian persoalan yang saling terhubung dan memengaruhi satu sama lain.
Saat itu aku mulai memperhatikan cerobong pabrik. Saluran pembuangan limbah langsung ke sungai. Begitu pula kantong sampah yang banyak mengapung di aliran sungai. Juga beberapa tempat di bantaran.
Semua pemandangan itu sebelumnya terasa biasa bagiku. Kemudian berubah menjadi tanda peringatan setiap harinya. Kesadaranku tumbuh perlahan bersamaan dengan keinginan memahami persoalan secara lebih utuh.

#Dampak Bagi Kehidupan Manusia
Berbagai berita menunjukkan krisis air di Indonesia. Kalau kurasa-rasa, persoalan ini telah melampaui kualitas lingkungan. Banyak masyarakat tidak lagi percaya pada air keran. Padahal air keran sebagai sumber konsumsi sehari-hari cukup aman. Ketergantungan masyarakat terhadap air minum kemasan pun cukup meningkat. Hampir di berbagai wilayah perkotaan Indonesia, menurutku.
Cukup memprihatinkan, pastinya. Bagiku ini merupakan persoalan baru yang tidak kalah serius dibanding isu lingkungan yang sedang berkembang. Kita lihat, setiap botol plastik menyelesaikan satu kebutuhan, namun menghasilkan residu yang sulit diurai alam. Siklus pencemaran pun terus terjadi. Semua tanpa benar-benar memutus sumber utamanya. Permasalahan lingkungan terus merambat.
Dari sini aku mulai berpikir, jika sungai mengalami tekanan limbah dan sampah yang cukup berat dari berbagai arah sekaligus setiap harinya. Limbah industri mengalir melalui saluran pembuangan langsung ke badan sungai.
Saat itu aku mencoba mengira-ngira berapa banyak limbah yang sebenarnya keluar dari pipa pabrik. Aku tidak membawa alat ukur, hanya mengamati diameter pipa. Juga derasnya aliran yang terus mengucur menuju badan sungai.
Jika diameter pipa sekira 5–6 inci dengan aliran memenuhi sekira 60 persen penampangnya, maka selama 5 jam saja volume limbah yang mengalir itu kuperkirakan mencapai 137–196 meter kubik. Itu setara dengan sekira 137 ribu–196 ribu liter limbah.
Dari sini aku berpikir… Lain kali aku lanjutkan ceritaku.*** (bersambung).

Jofany Ahmad merupakan penulis dan pegiat lingkungan yang fokus pada kampanye pengurangan sampah plastik serta bahaya mikroplastik. Sebagai Koordinator Refilin, ia aktif mengampanyekan sistem belanja isi ulang kepada masyarakat dan institusi.