- Ikan endemik sungai makin langka, petugas ATINA bersama Ecoton beberkan panduan olah air baku demi selamatkan budidaya tambak.
- Prihatin hilangnya ikan bader di sungai, ATINA dan Ecoton bagikan trik filtrasi murah demi selamatkan usaha budidaya perikanan.
- Air sungai makin tercemar? Petugas ATINA dan Ecoton beberkan rahasia sterilisasi air baku agar aman untuk budidaya tambak.
- Resah sungai didominasi ikan invasif, Ecoton bersama ATINA edukasi peternak cara olah air baku dan kultur probiotik tambak.
- Atasi ancaman air sungai tercemar, Ecoton dan petugas ATINA ajarkan rahasia pengelolaan air baku bagi para peternak tambak.
KEBERADAAN ikan-ikan endemik sungai kini kian terancam dan semakin langka akibat pencemaran lingkungan. Fenomena ini menarik perhatian lembaga konservasi lingkungan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) yang terus bergerak aktif mengampanyekan perbaikan dan pelestarian ekosistem perairan.
Melalui kolaborasi di lahan konservasi bantaran sungai bersama Ecoton dan Perservasi Indonesia (POIN), Ferry Nurdianto, petugas lapangan dari PT Aquaculture Training and Innovation (ATINA), membeberkan solusi dan teknik pengelolaan air baku sungai agar aman digunakan untuk budidaya tambak, khususnya udang windu.

#Kerinduan akan Ekosistem Sungai dan Kepunahan Ikan Endemik
Di sela-sela sesi pemaparannya, Ferry mengungkapkan keprihatinannya atas perubahan kualitas air sungai yang ia saksikan sendiri sejak kecil hingga saat ini.
“Dulu waktu kecil saya sering main ke sungai sampai hitam karena cari remis, keding, dan ikan bader. Tapi sekarang spesies-spesies itu hilang karena di bagian hulu banyak industri yang berdiri. Tempat yang dulu dinamai Sungai Bader, sekarang badernya sudah tidak ada. Justru yang banyak muncul adalah ikan sapu-sapu (pleco) yang sifatnya ekspansif dan mendesak habitat lele lokal,” ungkap Ferry penuh keprihatinan, di area bantaran konservasi Ecoton, Rabu (9/9/2026).
Kondisi inilah yang melatarbelakangi kerja sama Ecoton, POIN, dan PT ATINA untuk mengedukasi masyarakat bantaran sungai dan pembudidaya agar tidak hanya bergantung pada sungai yang tercemar, tetapi mampu mengolah airnya secara ramah lingkungan.

#Solusi ATINA: Tahapan Pengolahan Air Baku Sungai untuk Tambak
Ferry menegaskan bahwa air baku yang diambil langsung dari sungai tidak boleh langsung dimasukkan ke petak budidaya karena masih dipenuhi patogen atau bakteri jahat yang merugikan dunia perikanan. Berikut adalah panduan langkah demi langkah pengolahan air baku sebelum bibit ditebar:
1. Pengendapan Awal di Bak Penampungan (Jalon)
Air baku sungai dipompa masuk ke bak penampungan (reservoir atau jalon) dan diendapkan minimal selama $2 \times 24$ jam agar lumpur serta sedimen halus mengendap di dasar.
Di bak ini, ditambahkan tanaman air seperti eceng gondok atau kiambang (pati lele) untuk menyerap partikel karbon, menetralkan polutan, dan mendinginkan suhu air.
“Tanaman air tidak boleh menutupi seluruh permukaan kolam. Di malam hari hingga subuh, tanaman berebut oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) dengan biota tambak. Jika tidak dikurangi, DO bisa anjlok hingga nol dan membuat ikan mengapung lalu mati. Jadi ganggang atau tanaman air wajib dikurangi secara berkala, ” jelas Ferry.
2. Penyaringan Fisik Bertingkat
Air dari bak penampungan kemudian dialirkan ke tong filtrasi. Agar perawatan dan pembersihan rutin bulanan lebih mudah, media filter disarankan dibungkus jaring waring:
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
- Ijuk, Waring, atau Spon (Lapisan Atas): Menangkap kotoran fisik dan padatan kasar.
- Arang / Karbon Aktif: Menyerap bau, amoniak, dan polutan kimia dari air sungai.
- Batu Koral / Pecahan Genteng / Bata Merah: Media tumbuh bagi bakteri pengurai yang menguntungkan. (Wajib dicuci bersih dari tanah sebelum dipakai).
- Pasir (Lapisan Dasar): Menyaring partikel renik sebelum air masuk ke kolam budidaya.
“Dengan dibungkus waring, saat pembersihan rutin sebulan sekali kita tidak perlu menguras seluruh kolam, cukup mengambil dan mencuci pembungkus filternya saja,” tambah Ferry.
3. Sterilisasi Biologis dengan Kultur Probiotik
Untuk melumpuhkan bakteri patogen, air diawetkan secara biologis menggunakan kultur probiotik (seperti EM4) yang dicampur molase (tetes tebu) dan diaerasi selama dua hari.
Cairan kultur probiotik ini kemudian ditaburkan merata ke air kolam budidaya.
“Setelah diberi probiotik, air jangan langsung dipakai untuk tebar bibit karena kadar amoniaknya masih tinggi. Diamkan dulu selama satu minggu agar bakterinya merata dan kondisi air stabil, baru setelah itu bibit ikan atau udang aman dilepaskan,” jelasnya.

Inovasi Alat Aerasi Venturi Mandiri
Untuk menjaga pergerakan air dan menyuplai oksigen segar secara terus-menerus, Ferry mengedukasi cara membuat sistem aerasi Venturi mandiri dari bahan-bahan terjangkau:
- Menggunakan pipa paralon T ukuran 3/4 inci dan penutup bekas oli gardan yang dipotong meruncing di bagian dalam.
- Diberi pipa tambahan sepanjang 10 cm mengarah ke atas agar jalur udara tidak kemasukan air.
- Dihubungkan ke pompa celup dengan kapasitas debit yang seimbang antara air masuk dan keluar.
Sistem ini memanfaatkan prinsip tekanan air untuk menyedot udara dari luar, sehingga menghasilkan semburan air yang kaya akan gelembung oksigen segar yang sangat disukai oleh ikan budidaya.
Melalui sinergi antara Ecoton, POIN, dan PT ATINA, edukasi lapangan ini diharapkan dapat memberikan solusi praktis bagi para peternak tambak sekaligus meningkatkan kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian ekosistem sungai dari pencemaran.***