Gas metana menjadi ancaman iklim tersembunyi dari sektor sampah, pertanian, dan energi. Pengelolaan limbah yang buruk mempercepat pemanasan global dan mendesak perubahan sistem nasional.
Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2026 kembali mengingatkan publik pada persoalan yang kerap luput dari perhatian, yakni gas metana. Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau, namun memiliki dampak pemanasan yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida.
Dalam berbagai kajian iklim global, metana bahkan disebut sebagai “polutan super” yang mempercepat krisis iklim dalam waktu relatif singkat.

Laporan edukasi yang dirilis Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton) disebutkan, gas metana mampu menyerap panas hingga sekitar 80 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida dalam rentang waktu 20 tahun.
“Meski konsentrasinya di atmosfer lebih kecil, efek pemanasannya jauh lebih agresif,” kata peneliti Ecoton, Amiruddin Muttaqin, Ahad, 22 Februari 2026.
Menurut Amiruddin, sumber emisi metana berasal dari berbagai sektor. Pertanian menjadi penyumbang utama melalui aktivitas peternakan, pengelolaan kotoran ternak, serta budidaya padi.
Sektor energi juga berkontribusi melalui rantai produksi minyak, gas, dan batu bara. Namun di Indonesia, sektor persampahan menjadi perhatian serius akibat tingginya timbulan sampah organik yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
“Saat sampah organik menumpuk tanpa pengelolaan yang baik, proses pembusukan anaerob, yakni pembusukan tanpa oksigen, akan menghasilkan metana dalam jumlah besar,” ujarnya.
Amiruddin yang selama ini fokus pada penelitian gas metana pada sampah menjelaskan, keberadaan gas ini kerap tidak disadari masyarakat. Bau menyengat yang muncul di TPA sering dianggap berasal dari metana, padahal gas tersebut sebenarnya tidak berbau.
“Aroma tajam justru berasal dari gas lain, seperti hidrogen sulfida dan amonia yang terbentuk selama proses pembusukan sampah organic, “ jelasnya.
#Emisi Meningkat, Dampak Iklim Menguat
Di Indonesia, tren emisi metana sejak pertengahan 1990-an hingga 2024 tercatat meningkat tajam, seiring pertumbuhan populasi, urbanisasi, dan pola konsumsi yang menghasilkan lebih banyak sampah.
Kajian internasional bahkan memperkirakan sekitar 45 persen pemanasan global yang terukur saat ini berkaitan dengan emisi metana akibat aktivitas manusia. Artinya, upaya menekan gas ini berpotensi memberikan dampak cepat terhadap perlambatan kenaikan suhu bumi.

Karakter metana yang berumur lebih pendek di atmosfer dibanding karbon dioksida membuatnya disebut sebagai strategi “quick win” dalam aksi iklim. Jika emisinya ditekan sekarang, efek penurunan pemanasan dapat dirasakan dalam beberapa dekade, bukan berabad-abad.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Selain itu, metana sebenarnya dapat dimanfaatkan. Teknologi penangkapan gas di TPA memungkinkan metana diolah menjadi sumber energi alternatif. Namun, penerapan teknologi ini di Indonesia masih terbatas dan belum menjadi kebijakan arus utama.
Amiruddin pun menilai persoalan metana tidak bisa dilepaskan dari kegagalan sistem pengelolaan sampah nasional. “Selama sampah organik masih ditumpuk tanpa pemilahan di hulu, kita sebenarnya sedang memproduksi emisi metana setiap hari. Ini bom waktu iklim yang tidak terlihat,” tegasnya.
Menurut dia, pendekatan teknis semata tidak cukup. Perubahan harus dimulai dari pengurangan sampah sejak sumbernya, terutama di tingkat rumah tangga.
#Perubahan dari Rumah Tangga hingga Kebijakan Nasional
Komposisi sampah Indonesia menunjukkan lebih dari separuh timbulan berasal dari rumah tangga, dengan dominasi sampah organik. Fakta ini membuka peluang besar untuk menekan emisi metana melalui langkah sederhana seperti pemilahan sampah, komposting, dan pengurangan limbah makanan.
Jika sampah organik tidak masuk TPA, maka proses pembentukan metana dapat ditekan secara signifikan. Dampaknya bukan hanya pada lingkungan lokal, tetapi juga kontribusi terhadap target penurunan emisi nasional.
Amiruddin menegaskan bahwa perubahan perilaku masyarakat perlu diikuti kebijakan yang konsisten dari pemerintah daerah hingga pusat. Ia menilai masih banyak daerah yang mengandalkan pola kumpul–angkut–buang tanpa strategi pengurangan emisi.
“Kita sering bicara perubahan iklim dalam skala global, padahal salah satu solusi paling nyata ada di dapur rumah kita sendiri,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya investasi pada fasilitas pengolahan sampah organik dan teknologi penangkapan gas di TPA. Tanpa langkah tersebut, Indonesia berisiko menghadapi peningkatan emisi yang sulit dikendalikan.
Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional tahun ini menjadi pengingat bahwa krisis sampah bukan sekadar persoalan kebersihan kota, melainkan bagian dari agenda iklim dunia. Metana menunjukkan bagaimana sesuatu yang tidak terlihat dapat membawa konsekuensi besar bagi masa depan bumi.
Di tengah meningkatnya suhu global, pengelolaan sampah yang lebih baik bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak. Sebab, di balik setiap kantong sampah yang terbuang tanpa pengolahan, terdapat emisi tak kasatmata yang terus mempercepat pemanasan planet.***