Lewati ke konten

Wali Kota Eri Cahyadi Sambut Ecoton, Kolaborasi Restorasi Kali Tebu yang Tercemar Puluhan Tahun

| 4 menit baca |Sorotan | 12 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meninjau Kali Tebu, menargetkan perbaikan sungai dan pengaspalan bantaran tiga kilometer guna menekan kebiasaan buang sampah warga sekitar.

Pemerintah Kota Surabaya mempercepat penanganan Kali Tebu di kawasan Surabaya utara yang selama puluhan tahun berada dalam kondisi tercemar. Wali Kota Eri Cahyadi meninjau langsung lokasi untuk melihat situasi sungai.

Kali Tebu yang mengalir dari hulu di Kapasmadya Baru dan Simokerto, melewati Sidotopo Wetan serta Tanah Kali Kedinding, lalu menuju hilir di Bulak Banteng hingga Tambak Wedi. Sepanjang aliran, permukaan air dipenuhi sampah rumah tangga, material tidak terkelola dan bau sungai yang mengganggu penciuman.

“Jadi ini, Kali Tebu ini sudah puluhan tahun seperti ini,” kata Eri saat ditemui di lokasi, Selasa, (21/4/2026)

Menurut dia, persoalan utama bukan hanya kondisi fisik sungai, tetapi juga perilaku warga yang masih membuang sampah ke bantaran dan badan air. Tumpukan sampah terlihat di sejumlah titik, bahkan menutup sebagian aliran.

“Sepanjang sungai, di sini sampah, barang-barang tidak karuan,” ujarnya. Ia mengingatkan warga agar tidak lagi menjadikan tepian sungai sebagai tempat pembuangan.

Penataan Kali Tebu, kata dia, harus menyentuh dua aspek sekaligus, yaitu pembersihan sungai dan pembenahan kawasan di sekitarnya. Tanpa perubahan di lingkungan bantaran, kondisi sungai berpotensi kembali tercemar setelah dibersihkan.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi berdiri di antara pekerja yang mengerjakan bantaran Kali Tebu, tampak Lurah, Bulak Banteng, Matlilla S.Kep.Ns, M.H., M.AP. yang mengenakan pakaian dinas mendampingi wali kota | Foto: Supriyadi

#Pengaspalan Bantaran Tiga Kilometer

Sebagai langkah awal, Pemkot Surabaya merencanakan pengaspalan jalur di sepanjang bantaran Kali Tebu. Panjang jalur yang akan ditangani sekitar tiga kilometer, dimulai dari titik rumah pompa hingga ujung kawasan hilir.

Eri menyebut pengaspalan dilakukan di kedua sisi sungai, barat dan timur. Langkah ini ditujukan untuk menutup ruang pembuangan sampah sekaligus memudahkan pengawasan.

“Nanti kita aspal semuanya, bukan hanya satu sisi. Barat timur kita aspal semua,” kata dia.

Menurut Eri, jalur tersebut tetap difungsikan sebagai akses jalan terbatas, bukan taman terbuka. Penggunaan sebagai taman dinilai berpotensi mengulang kondisi lama jika tidak ada kontrol yang ketat.

“Kalau dijadikan taman, bisa kembali seperti semula,” ujarnya.

Dalam perhitungan teknis yang dibahas di lokasi, pengerjaan dibagi dalam beberapa segmen harian. Estimasi pekerjaan menunjukkan pengaspalan dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat, dengan progres puluhan meter per hari.

Perhitungan kasar yang dibicarakan di lapangan menyebutkan penyelesaian bisa dicapai dalam hitungan pekan jika pekerjaan berjalan sesuai target. Pemerintah kota ingin memastikan pekerjaan berlangsung cepat agar dampaknya segera dirasakan warga.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Yang penting kita hitung cepat, supaya segera selesai,” kata Eri.

Kondisi Kali Tebu dengan aliran menghitam, dipenuhi sampah, serta berbau menyengat mencerminkan persoalan lingkungan di kawasan Surabaya utara | Foto: Supriyadi

#Libatkan Ecoton untuk Restorasi

Selain penataan fisik, Pemkot Surabaya melibatkan organisasi lingkungan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) dalam proses restorasi Kali Tebu.

Eri menyampaikan dukungan penuh terhadap keterlibatan Ecoton. Pemerintah kota membuka akses fasilitas untuk menunjang kegiatan pembersihan dan edukasi lingkungan.

“Langsung saja, pakai saja fasilitas pemkot,” ujarnya.

Penanggung jawab Project Person In Charge (PIC) Mission On Zero Plastic Leakage (Mozaik) dari Ecoton, Amiruddin Muttaqin, menyatakan apresiasi atas dukungan Pemkot Surabaya. Menurut dia, upaya perbaikan Kali Tebu telah lama menjadi perhatian organisasi, terutama karena lokasinya berada di kawasan padat penduduk Kenjeran.

“Kami berterima kasih atas sambutan wali kota. Selama ini kami ingin memperbaiki Kali Tebu,” katanya.

Ecoton bersama pemerintah kecamatan setempat telah melakukan kegiatan pembersihan secara berkala. Kendala utama yang dihadapi adalah masuknya sampah baru setiap hari dari aktivitas warga di sekitar sungai.

Karena itu, kolaborasi dengan pemerintah kota diharapkan tidak berhenti pada pembersihan fisik, tetapi juga mencakup edukasi dan pengawasan. Perubahan perilaku masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan program jangka panjang.

Eri menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam menjaga kebersihan sungai. Pemerintah kota, komunitas, dan warga perlu bergerak bersama agar Kali Tebu dapat berfungsi kembali sebagai saluran air yang bersih.

“Warga boleh berusaha, tapi jangan taruh sampah di sebelah kali,” ujarnya.

Dengan langkah terpadu tersebut, Pemkot Surabaya menargetkan Kali Tebu dapat dimanfaatkan kembali, baik sebagai saluran air yang layak maupun sebagai bagian dari penataan lingkungan kawasan utara kota.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *