Mahasiswa peserta studi independen Ecoton menemukan penurunan kualitas air Kali Surabaya akibat limbah industri kertas yang melampaui baku mutu.
Peserta studi independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton) memaparkan hasil riset lingkungan dalam forum “Seminar Hasil Penelitian Environmental Insights 2026”. Forum itu mempertemukan mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA).
Salah satu penelitian yang menjadi sorotan datang dari Tripani Anastasia Togatorop dan Farida Febriani Tampubolon dari Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Penelitian mereka menelusuri kualitas air Kali Surabaya di sekitar outlet limbah industri kertas berdasarkan parameter fisika dan kimia.
Hasil penelitian menunjukkan lima parameter utama kualitas air melampaui baku mutu kelas II sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021. Parameter tersebut meliputi dissolved oxygen (DO), total suspended solid (TSS), fosfat, amonia, dan klorin.
“Nilai tertinggi ditemukan pada titik outlet dan sesudah outlet,” ujar Tripani dalam pemaparannya saat seminar di Open Spice Gedung Inspirasi Wringinanom, Gresik, Kamis, 4 Juni 2026.
Temuan itu memperlihatkan jika aktivitas yang terjadi di industri kertas, masih menjadi salah satu sumber tekanan ekologis di aliran Kali Surabaya. Yang selama ini sungai menjadi sumber air penting masyarakat untuk kebutuhan domestik, irigasi, perikanan, hingga industri.

#Industri dan Beban Pencemaran Sungai
Dalam presentasinya, Tripani menjelaskan industri kertas memiliki ketergantungan tinggi terhadap air sungai sebagai bahan baku produksi. Menurut dia, persoalan muncul ketika air yang telah digunakan dalam proses produksi dibuang kembali ke badan sungai tanpa pengolahan optimal.
“Industri biasanya memanfaatkan air baku sungai sebagai bahan produksi. Pertanyaannya, apakah limbah cair maupun limbah padat yang dihasilkan sudah diolah dengan baik atau justru menurunkan kualitas air sungai,” katanya.
Penelitian dilakukan mulai 20 – 25 April 2026 di tiga kawasan industri kertas di sepanjang Kali Surabaya. Pengambilan sampel menggunakan metode grab sampling dengan pendekatan deskriptif kuantitatif.
Tim peneliti menentukan empat kategori titik pengamatan, yakni kontrol, sebelum outlet, outlet, dan sesudah outlet. Lokasi kontrol berada di Sungai Boro yang dinilai masih relatif alami dan belum terpapar aktivitas industri kertas.
Secara keseluruhan terdapat 10 titik pengamatan. Satu titik merupakan lokasi kontrol, sedangkan sembilan titik lainnya berada di kawasan industri dari hulu hingga hilir.
Parameter yang diuji meliputi suhu, pH, DO, total dissolved solid (TDS), TSS, fosfat, amonia, dan klorin. Pengukuran dilakukan secara in situ di lapangan dan ex situ melalui analisis laboratorium.
Tripani menjelaskan bahwa suhu, pH, dan TDS masih berada dalam kisaran standar baku mutu. Namun kondisi berbeda ditemukan pada lima parameter lainnya.
“DO ternyata berada di bawah baku mutu, kemudian TSS, fosfat, amonia, dan klorin juga melampaui ambang yang ditetapkan,” ujarnya.
Data penelitian menunjukkan TSS meningkat hingga 300 mg/L. Fosfat tercatat mencapai 4,6 mg/L, amonia 0,93 mg/L, dan klorin 0,31 mg/L.

#Ancaman terhadap Biota dan Kesehatan Ekosistem
Sementara itu Farida juga menjelaskan, rendahnya kadar DO menjadi salah satu indikator penting penurunan kualitas ekosistem perairan. Menurut dia, kekurangan oksigen terlarut dapat memicu persaingan antarorganisme di dalam air.
“Kalau berlangsung terus menerus, kondisi ini bisa menyebabkan kematian massal organisme air,” katanya.
Ia juga menyoroti tingginya kandungan TSS di kawasan industri. Partikel padatan tersuspensi dari limbah industri kertas membuat air menjadi keruh dan menghambat penetrasi cahaya matahari.
Akibatnya, proses fotosintesis organisme air terganggu. Kondisi tersebut pada akhirnya turut memengaruhi kadar oksigen terlarut di perairan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelPenelitian juga menemukan kadar fosfat tinggi di sejumlah titik pengamatan. Menurut Farida, fosfat berlebih berpotensi memicu eutrofikasi atau ledakan alga.
“Nantinya air menjadi hijau, berbau tidak sedap, dan cahaya sulit masuk ke dalam air,” ujarnya.
Fenomena eutrofikasi selama ini menjadi salah satu penanda umum perairan yang mengalami kelebihan nutrien. Ledakan alga juga dapat mempercepat penurunan kualitas habitat ikan dan organisme akuatik lain.
Selain fosfat, kandungan amonia di kawasan industri turut menjadi perhatian peneliti. Farida menyebut amonia dapat mengganggu respirasi ikan melalui insang.
“Amonia ini lebih berbahaya karena langsung menyerang sistem respirasi,” katanya.
Klorin menjadi parameter lain yang dinilai memiliki risiko toksik terhadap organisme air. Dalam proses produksi kertas daur ulang, klorin digunakan untuk menghilangkan tinta dari bahan baku kertas bekas.
“Penggunaan klorin berlebih menyebabkan toksisitas pada ekosistem perairan,” ujar Farida.
Paparan klorin dalam konsentrasi tinggi dapat merusak jaringan, insang, hingga sistem saraf organisme air. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi keseimbangan rantai makanan di sungai.

#Kontrol Lemah dan Tekanan Industri
Hasil penelitian memperlihatkan perbedaan mencolok antara titik kontrol dan kawasan industri. Lokasi kontrol relatif memenuhi baku mutu, meski parameter fosfat masih tercatat melebihi ambang batas.
Farida menjelaskan tingginya fosfat di Sungai Boro kemungkinan berasal dari kandungan mineral batuan di sekitar sungai. Kawasan itu memiliki banyak batu dengan kandungan mineral fosfat alami.
Namun di kawasan industri, hampir seluruh parameter pencemar menunjukkan nilai lebih tinggi dibanding titik kontrol. Kondisi terburuk ditemukan di titik outlet dan sesudah outlet limbah industri.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pencemaran tidak berhenti di titik pembuangan, tetapi terus terbawa arus sungai ke wilayah hilir. Dampaknya dapat menjangkau kawasan permukiman dan area pemanfaatan air masyarakat.
Dalam kesimpulannya, tim peneliti menyatakan kualitas air di sekitar outlet industri kertas mengalami penurunan signifikan. Sebagian besar parameter utama tidak memenuhi baku mutu kelas II sesuai regulasi nasional.
“Lokasi kontrol memiliki kualitas air lebih baik, sedangkan titik outlet dan sesudah outlet menunjukkan tingkat pencemaran paling tinggi akibat pembuangan limbah industri,” kata Tripani.
Forum Environmental Insights 2026 tidak hanya menjadi ruang presentasi akademik, tetapi juga memperlihatkan meningkatnya keterlibatan mahasiswa dalam riset lingkungan berbasis lapangan. Berbagai penelitian yang dipresentasikan mengangkat isu pencemaran sungai, mikroplastik, limbah industri, dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Di akhir presentasi, Tripani dan Farida menampilkan kutipan ahli biologi laut Rachel Carson. Kutipan itu menegaskan keterkaitan langsung antara kerusakan lingkungan dan keberlangsungan hidup manusia.
“But man is a part of nature, and his war against nature is inevitably a war against himself,” tulis Rachel Carson dalam slide penutup penelitian dua masahasiswa perempuan asal Sumatera ini.***