Brantas Pulih, Rengkik Kembali: aksi Surabaya bongkar “hajar malam”, kritik lemahnya pengawasan, dan seruan selamatkan ikan endemik Brantas.
Momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Surabaya diwarnai aksi teatrikal dan desakan kritis terhadap masa depan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Sejumlah kelompok pegiat lingkungan bersama mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar aksi kampanye penyelamatan sungai di Jembatan Kayoon, dekat Monumen Kapal Selam Surabaya, Jumat (5/6/2026).
Dengan mengusung tema “Brantas Pulih, Rengkik Kembali”, aksi ini menjadi panggung untuk menggugat lemahnya pengawasan lingkungan dan ketimpangan relasi antara industri besar dengan masyarakat bantaran sungai.
Istilah ‘Hajar Malam’: Dugaan praktik pembuangan limbah industri secara diam-diam pada malam hari untuk menghindari pengawasan, yang berdampak langsung pada rusaknya kualitas air tanah warga.
#Ketimpangan Kuasa di Sepanjang Aliran Sungai
Mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara UNESA, Yasinta Aulia B.P., yang turun langsung dalam aksi tersebut, memaparkan temuan risetnya yang dilakukan pada 20–25 April 2026. Menggunakan pendekatan multi-stakeholder dan konsep Rights of Rivers (Hak Sungai), Yasinta menyoroti bahwa masalah Brantas bukan sekadar urusan masyarakat yang membuang sampah sembarangan.
“Ada ketimpangan relasi antara industri dan masyarakat. Kondisi ini membuat warga terdampak sering kali hanya menjadi penerima dampak pencemaran, tanpa memiliki ruang setara dalam menentukan kebijakan pengelolaan sungai,” jelas Yasinta.
Ia menambahkan, selama pengawasan terhadap industri di sepanjang bantaran masih lemah, pencemaran akan terus berulang. Sungai akhirnya hanya diperlakukan sebagai ruang eksploitasi, bukan ruang hidup yang harus dilindungi bersama.
Sebagai perbandingan, Yasinta menunjukkan kontras yang tajam antara Sungai Boro di Wonosalam, Jombang, yang masih relatif terjaga, dengan Kali Tebu di Surabaya yang sudah sesak oleh sampah domestik dan limbah industri.
Menurutnya, jika pemerintah tidak tegas memberikan sanksi dan edukasi, masyarakat di hilir pun akan ikut bersikap abai. “Sebaiknya pemerintah mengambil langkah tegas terhadap DAS Brantas. Agar pencemaran tidak terus berlangsung, “ ujar Yasinta.

#Ancaman Nyata Popok Sekali Pakai dan ‘Hajar Malam’
Pencemaran di wilayah hilir Brantas terbukti jauh lebih kompleks karena menjadi titik akumulasi kiriman limbah dari kawasan hulu. Selain ancaman limbah industri lewat praktik ilegal “hajar malam”, beban sungai ini didominasi oleh:
- Sampah plastik rumah tangga.
- Timbunan popok sekali pakai yang menyumbat aliran.
Akibatnya, air sungai menghitam dan mengeluarkan bau menyengat, yang mulai memicu gangguan kesehatan kulit pada sebagian warga bantaran. Di beberapa titik, kondisi ini bahkan memicu konflik sosial akibat perilaku membuang sampah oleh warga dari luar wilayah setempat.
#Harapan di Tengah Tekanan: Ikan Endemik Masih Bertahan
Meski dihantam polusi mikroplastik, limbah industri daur ulang, hingga alih fungsi lahan menjadi permukiman, asa untuk memulihkan Brantas belum sepenuhnya punah.
Direktur Posko Ijo, Rulli Mustika Adya, mengungkapkan bahwa riset terbaru pada Maret dan Mei 2026 justru menunjukkan daya resiliensi (kemampuan pulih) ekosistem sungai yang luar biasa. Peneliti menemukan 34 spesies ikan di Kali Surabaya dan 42 spesies ikan di Sungai Brantas.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

Tiga di antaranya merupakan spesies endemik Jawa yang kini statusnya terancam:
Ikan Rengkik (Baung) – Hemibagrus nemurus
- Spesies asli Sungai Brantas
- Kini mengalami penurunan populasi
- Berperan sebagai “maskot aksi” karena mencerminkan kondisi kritis biodiversitas sungai
- Menunjukkan tekanan habitat akibat pencemaran dan perubahan ekosistem
Lele Jawa Berpati – Clarias batrachus
- Ikan lokal yang secara historis umum ditemukan di perairan tawar Jawa
- Terdesak oleh introduksi spesies asing seperti lele dumbo (Clarias gariepinus)
- Mengindikasikan adanya gangguan struktur komunitas ikan akibat spesies invasif dan budidaya intensif
- Statusnya merefleksikan kompetisi ekologis yang tidak seimbang
Wader Bintik-Bintik – Barbodes binotatus
- Spesies ikan kecil yang sensitif terhadap kualitas air
- Sering digunakan sebagai indikator biologis perairan yang relatif bersih
- Keberadaannya menjadi parameter penting dalam menilai kesehatan ekosistem sungai
- Penurunan jumlahnya dapat mengindikasikan degradasi kualitas air
“Pemulihan Kali Brantas tidak bisa hanya bergantung pada normalisasi fisik atau pembangunan infrastruktur beton,” tegas Rulli. “Masyarakat harus kembali merasa memiliki sungai ini, mengenali ikan-ikan asli Brantas, lalu menjaga ekosistemnya bersama-sama.”

#Teatrikal “Manusia Ikan” dan Susur Sungai
Untuk menarik perhatian publik, dalam aksi di Jembatan Kayoon tersebut, para peserta membawa berbagai poster edukatif dan menggelar teatrikal penyelamatan ikan air tawar. Beberapa aktivis bahkan mengenakan kostum manusia berkepala ikan buatan sambil mengusung tulisan “Selamatkan Iwak-Iwak Kali Brantas”.
Aksi kolektif ini diinisiasi oleh koalisi berbagai komunitas peduli lingkungan, di antaranya:
- Posko Ijo
- Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton)
- River Warrior
- Environmental Sovereignty Goals (ESG)
- TitikTerang
- Aliansi Komunitas Penyelamat Bantaran Sungai (AKAMSI)
Anggota AKAMSI, Jofany Ahmad Arianto, menekankan pentingnya mengubah cara pandang publik. “Ekosistem di sepanjang Sungai Brantas sudah sangat terancam. Melalui Hari Lingkungan Hidup ini, kami mengingatkan agar jangan ada lagi yang menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan akhir (TPA) sampah,” kata Jofany.
Sebelum aksi puncak ini digelar, tim ronda lingkungan juga telah melakukan kegiatan pra-kondisi berupa susur sungai bertajuk “Ngintir Kali Surabaya” pada 30 Mei hingga 2 Juni 2026. Selama tiga hari, mereka melakukan pemantauan kualitas air secara langsung dan mendokumentasikan keanekaragaman hayati yang masih tersisa.
Para aktivis optimis, jika praktik ‘hajar malam’ dihentikan dan masyarakat dilibatkan secara setara dalam kebijakan lingkungan, Sungai Brantas akan kembali bersih, dan ikan Rengkik akan kembali berenang bebas di rumahnya sendiri.***