Pegiat lingkungan di Surabaya gelar aksi tubuh dililit plastik, soroti ancaman mikroplastik dan pencemaran serius di DAS Brantas.
Aksi teatrikal pegiat lingkungan mewarnai peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di jembatan dekat Monumen Kapal Selam (Monkasel), Surabaya, Jumat (5/6/2026). Aktivis lakukan melilit tubuhnya dengan plastik sebagai simbol ancaman pencemaran terhadap biota Sungai Brantas.
Aksi tersebut digelar oleh kelompok pegiat lingkunga Environmental Sovereignty Goals (ESG), Posko Ijo, Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), River Warrior, dan TitikTerang
Kepala Bidang Pengaduan ESG, Jofany Ahmad Arianto, mengatakan pencemaran sungai kini tidak hanya terlihat secara kasat mata melalui tumpukan sampah, tetapi juga telah masuk dalam bentuk mikroplastik yang sulit terdeteksi.
“Plastik yang dibuang ke sungai akan terurai menjadi partikel kecil dan masuk ke rantai makanan. Ini yang mulai mengancam ikan dan kualitas air Sungai Brantas,” ujar Jofany di sela aksi.
Menurut dia, berbagai penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kondisi Sungai Brantas semakin memprihatinkan. Temuan terbaru bahkan menunjukkan adanya peningkatan parameter pencemaran air di sejumlah titik aliran sungai.

#Penelitian Mahasiswa Temukan Parameter Air Lampaui Baku Mutu
Jofany menyebut salah satu temuan terbaru berasal dari penelitian mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang dipresentasikan belum lama ini. Dalam penelitian tersebut, ditemukan sejumlah parameter utama kualitas air Sungai Brantas melampaui baku mutu kelas II sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021.
Parameter yang melampaui ambang batas meliputi dissolved oxygen (DO), total suspended solid (TSS), fosfat, amonia, dan klorin. Kondisi itu menunjukkan tingginya beban pencemaran yang masuk ke aliran sungai.
“Dalam penelitian yang baru saja dipresentasikan, mahasiswa menemukan kalau Sungai Brantas parameter utama kualitas air melampaui baku mutu kelas II sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021,” kata Jofany.
Ia menambahkan, nilai pencemaran tertinggi ditemukan pada titik outlet dan area sesudah outlet pembuangan. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas domestik maupun limbah dari kawasan industri di sekitar daerah aliran sungai.
Menurut Jofany, persoalan pencemaran Sungai Brantas tidak bisa hanya dibebankan kepada masyarakat. Ia menilai pengawasan terhadap sumber pencemar, termasuk limbah industri dan pengelolaan sampah perkotaan, masih lemah.
“Nilai tertinggi ditemukan pada titik outlet dan sesudah outlet,” ujarnya.
Parameter yang diuji, lanjut Jofan, meliputi suhu, pH, DO, total dissolved solid (TDS), TSS, fosfat, amonia, dan klorin. Pengukuran dilakukan secara in situ di lapangan dan ex situ melalui analisis laboratorium.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Jofan juga menjelaskan bahwa suhu, pH, dan TDS masih berada dalam kisaran standar baku mutu. Namun kondisi berbeda ditemukan pada lima parameter lainnya.
“DO ternyata berada di bawah baku mutu, kemudian TSS, fosfat, amonia, dan klorin juga melampaui ambang yang ditetapkan,” ujarnya.
Data penelitian menunjukkan TSS meningkat hingga 300 mg/L. Fosfat tercatat mencapai 4,6 mg/L, amonia 0,93 mg/L, dan klorin 0,31 mg/L.

#Desakan Pengawasan dan Perubahan Perilaku Masyarakat
Dalam aksi tersebut, para pegiat lingkungan membentangkan poster berisi ajakan kepada masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai.
“Plastik sekali pakai terlihat praktis, tetapi dampaknya sangat panjang bagi sungai. Ketika dibuang sembarangan, plastik akan terurai menjadi mikroplastik dan kembali lagi ke tubuh manusia lewat air maupun ikan yang dikonsumsi,” kata Wahyu Baitulah, mahasiswa Biologi Universitas Negeri Surabaya.
Sejumlah pengguna jalan tampak memperhatikan aksi di tengah arus lalulitas Jalan Pemuda tampak padat. Beberapa pengendara ada yang meneriakkan kalimat “Hidup Kali Brantas”, Sementara ada juga yang mendokumentasikan dengan telepon seluler saat kendaraan melambat.
Menurut Wahyu, Sungai Brantas memiliki peran penting sebagai sumber air bagi jutaan warga di Jawa Timur. Karena itu, pencemaran yang terus terjadi dinilai berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat dan keseimbangan ekosistem perairan.
“Kalau kualitas air terus menurun, dampaknya bukan hanya dirasakan biota sungai, tetapi juga masyarakat yang sehari-hari bergantung pada sumber air dari Brantas,” ujarnya.
Ia berharap peringatan Hari Lingkungan Hidup tidak berhenti pada kegiatan seremonial tahunan. Menurut dia, diperlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap sumber pencemar, disertai perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.
“Kalau sungai terus dijadikan tempat pembuangan sampah, maka ancamannya bukan hanya bagi ikan, tetapi juga manusia yang memakai air dari sungai itu sendiri,” katanya.***