Lewati ke konten

Peringatan Hari Kartini di SMAN 1 Driyorejo: Siswa Soroti Bahaya Mikroplastik

| 3 menit baca |Mikroplastik | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Pers Realease Editor: Supriyadi

Hari Kartini memicu kesadaran siswa tentang mikroplastik yang mencemari air, udara, dan makanan, serta dorongan perubahan kebijakan dan perilaku sehari-hari masyarakat luas.

Peringatan Hari Kartini di SMAN 1 Driyorejo, Gresik dimanfaatkan untuk mengenalkan bahaya mikroplastik kepada siswa. Kegiatan ini digagas oleh Ecoton melalui booth edukasi interaktif yang menampilkan perjalanan plastik dari limbah hingga menjadi partikel kecil yang mencemari lingkungan.

Dalam instalasi utama, pengunjung melihat keran air yang dipenuhi botol plastik bekas. Visual ini menggambarkan bagaimana plastik tidak benar-benar hilang, melainkan terurai menjadi mikroplastik dan masuk ke sumber air.

“Dari instalasi itu aku jadi kebayang, ternyata plastik tidak benar-benar hilang. Dia cuma berubah jadi lebih kecil dan tetap ada di sekitar kita,” kata Aisyah, finalis putri sekolah tersebut, Selasa, 21 April 2026.

Siswa lain, Rizky, menyampaikan kekhawatiran serupa. “Mikroplastik bisa ke mana-mana, dan kita bisa kena tanpa sadar,” ujarnya.

#Kesadaran Siswa dan Dampak Kesehatan

Paparan mikroplastik kini ditemukan di berbagai media, mulai dari air minum hingga udara. Kondisi ini membuat siswa mulai memahami dampak yang selama ini tidak terlihat.

“Awalnya aku cuma tahu istilahnya, tapi sekarang jadi ngerti jenisnya dan dampaknya ke tubuh,” kata Regita, juga siswa SMA itu.

Pernyatan lian juga disampai siswa. “Sekarang lebih kepikiran juga, ternyata yang kita pakai sehari-hari bisa berdampak ke diri sendiri,” ujar Bima.

Booth edukasi Ecoton di SMAN 1 Driyorejo menarik perhatian siswa pada peringatan Hari Kartini, memperlihatkan alur plastik menjadi mikroplastik yang berpotensi masuk ke tubuh manusia. | Dok Ecoton

Komunitas siswa Jatim Young Changemaker Academy  (Jayca) di sekolah tersebut menilai perubahan perilaku tetap penting, seperti mengurangi plastik sekali pakai dan membiasakan memilah sampah. Mereka menekankan tanggung jawab tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada individu.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Budaya memilah sampah dan mengurangi plastik sekali pakai itu penting, dan harus terus dibiasakan. Tapi itu saja tidak cukup. Jangan sampai semua beban ada di individu, sementara negara dan industri tidak berubah,” kata perwakilan Jayca.

#Dorongan Kebijakan dan Peran Pemerintah

Guru Seni Budaya SMAN 1 Driyorejo, Andi Arifianto, menilai persoalan mikroplastik perlu pendekatan sistemik. Menurut dia, edukasi di sekolah menjadi langkah awal, tetapi tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan.

“Kalau hanya mengandalkan perubahan perilaku siswa, itu tidak akan cukup. Harus ada dukungan kebijakan yang jelas dan konsisten. Sekolah bisa mulai dari edukasi dan pembiasaan, tapi perubahan besar tetap butuh komitmen dari pemerintah dan juga industri,” ujarnya.

Kepala sekolah, Alif Hanifah, berharap kegiatan ini dapat memperkuat pembelajaran berbasis isu nyata. “Sekolah bisa jadi tempat siswa belajar langsung dari isu nyata, bukan hanya dari teori,” kata dia.

Di akhir kegiatan, siswa sepakat untuk memulai langkah sederhana, seperti membawa botol minum sendiri dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Momentum Hari Kartini kali ini menunjukkan perubahan bentuk perjuangan generasi muda. Jika sebelumnya fokus pada pendidikan dan kesetaraan, kini perhatian juga tertuju pada krisis lingkungan yang berdampak langsung pada kesehatan manusia.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *