Lewati ke konten

Anak-anak Bermain di Trash Boom Kali Tebu, Sungai Tercemar Jadi Arena Bermain

| 3 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Lima anak bermain di trash boom meski Kali Tebu keruh, berbau, dan dipenuhi sampah setiap hari.
  • Anak-anak memancing dan bermain di sungai tercemar tanpa menyadari ancaman kesehatan yang mengintai setiap saat.
  • Trash boom penahan sampah berubah menjadi arena bermain anak di tengah kualitas sungai yang terus menurun drastis.
  • Temuan lapangan menunjukkan pencemaran sungai telah dianggap biasa oleh anak-anak yang tinggal di sekitarnya kini.
  • Ketiadaan ikan dan bau menyengat menggambarkan penurunan ekosistem Kali Tebu yang semakin mengkhawatirkan bagi masyarakat.

Penulis: Nadhira Alifia Nuranisya, mahasiswa Program Studi Agroekoteknologi, Universitas Brawijaya. Artikel ini disusun sebagai bagian dari Program Studi Independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) selama periode 25 Juni–30 September 2026.

SEDIKITNYA lima anak bermain di atas trash boom kawasan hulu Kali Tebu, Surabaya. Infrastruktur penahan sampah itu dimanfaatkan sebagai jembatan sekaligus arena bermain di tengah sungai yang keruh, dipenuhi sampah, dan mengeluarkan bau tak sedap.

Selama pengamatan, anak-anak berlari, bercanda, hingga duduk di atas rangka trash boom. Beberapa di antaranya juga mencuci kaki menggunakan air sungai tanpa menunjukkan rasa khawatir terhadap kondisi lingkungan yang tercemar.

“Enggak, Mbak,” jawab Devita, siswi kelas IV sekolah dasar, Sabtu (1/8/2026), ketika ditanya apakah bau sungai mengganggu aktivitas bermainnya. Jawaban serupa juga disampaikan teman-temannya yang mengaku telah terbiasa berada di kawasan tersebut.

Pemandangan itu memperlihatkan pencemaran sungai tidak lagi dipandang sebagai kondisi yang mengganggu. Bagi anak-anak, aliran Kali Tebu tetap menjadi ruang bermain meski kualitas lingkungannya terus mengalami penurunan.

Trash boom yang berfungsi menahan sampah berubah menjadi arena bermain sekaligus tempat memancing bagi anak-anak. | Foto: Nadhira Alifia Nuranisya

#Memancing Tanpa Ikan di Kali Tebu

Selain bermain, beberapa anak mengaku sering memancing di lokasi yang sama. Aktivitas itu dilakukan hampir setiap akhir pekan ketika mereka berkumpul bersama teman-teman.

Ibrahim, siswa kelas V sekolah dasar, mengatakan dirinya beberapa kali mencoba memancing di Kali Tebu. Namun, setiap percobaan selalu berakhir tanpa hasil karena tidak pernah memperoleh ikan.

“Pernah mancing di sini, tapi enggak ada ikannya,” ujar Ibrahim.

Anak-anak mengaku tidak pernah memperoleh ikan saat memancing di Kali Tebu. Pengakuan itu menjadi salah satu indikasi menurunnya kualitas ekosistem sungai. Walaupun bukan bukti tunggal pencemaran, temuan tersebut memperkuat gambaran tentang sungai yang keruh, dipenuhi sampah, dan berbau menyengat.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Selama observasi, beberapa anak juga terlihat ingin berenang di sungai tersebut. Keinginan itu muncul meski bau menyengat dari aliran hingga menimbulkan rasa mual bagi pengamat di lokasi.

Kontras tersebut memperlihatkan adanya perbedaan persepsi antara orang dewasa dan anak-anak terhadap lingkungan yang tercemar. Paparan pencemaran dalam waktu lama membuat kondisi sungai dianggap sebagai bagian biasa dari kehidupan sehari-hari.

Kondisi Kali Tebu yang tercemar tidak menghalangi aktivitas anak-anak, mencerminkan normalisasi pencemaran di lingkungan sekitar. | Foto: Nadhira Alifia Nuranisya

#Infrastruktur Belum Mengembalikan Fungsi Sungai

Trash boom dipasang untuk menahan sampah agar tidak hanyut menuju wilayah hilir. Infrastruktur ini menjadi bagian dari upaya mengurangi kebocoran sampah ke badan sungai yang lebih luas.

Namun, temuan lapangan menunjukkan keberadaan fasilitas tersebut belum diikuti pemulihan kualitas air maupun perubahan perilaku masyarakat. Anak-anak masih memanfaatkan kawasan sungai sebagai ruang bermain meski kondisi lingkungannya belum aman.

Fenomena itu menunjukkan persoalan sungai tidak berhenti pada penanganan sampah yang mengapung. Kualitas air, keselamatan anak, serta pemulihan ekosistem membutuhkan perhatian yang sama besarnya.

Pengurangan sampah dari sumber, pengawasan pencemaran, dan edukasi masyarakat menjadi langkah yang saling berkaitan. Tanpa pendekatan menyeluruh, sungai berpotensi tetap menjadi ruang aktivitas anak meski kualitas lingkungannya terus menurun.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *